Makna Puasa dan Pantang Menurut Kitab Suci

Oleh: Fr. Ant. Kurnia Andrianto

puasa Saat ini, umat Katolik di seluruh dunia sedang menjalani masa Prapaskah. Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas, yaitu mempersiapkan pem-baptisan dan membina semangat tobat. Bentuk pertobatan yang paling nyata adalah dengan berpuasa dan berpantang. Lalu, apakah makna puasa dan pantang menurut tradisi Katolik?

TERMINOLOGI PUASA DALAM KITAB SUCI

Kitab Suci Perjanjian Lama (KSPL) sering menggunakan kata tsam untuk menyebut istilah puasa (Neh 9:1; 2 Sam 12:21-23). Kata tsam dapat dibandingkan dengan kata siam atau saum dalam bahasa Arab. Dalam bahasa aslinya, kata tsam menunjuk pada pengertian tidak makan sama sekali.

Kata atau ungkapan lain yang digunakan dalam KSPL adalah “tidak makan apa-apa” (1 Sam 28:20 dan 2 Sam 12:17) dan “merendahkan diri” (1 Raj 21:29). Ungkapan “merendahkan diri” ini menjadi istilah teknis untuk menyebut istilah puasa dalam tulisan-tulisan tradisi para Imam dan cenderung menjadi ungkapan baku pada periode selanjutnya.

Kitab Suci Perjanjian Baru (KSPB) mengguna-kan kata ???????, ?? (n?steia) yang berarti puasa (kt. benda) dan ??????? (n?steu?) yang berarti berpuasa (kt. kerja). N?steia adalah kata Yunani yang terdiri dari dua bagian: partikel negatif n? (tidak) dan kata kerja esthio (makan). Kata benda dan kata kerja itu mempunyai arti umum: tidak makan, berpantang makanan, tanpa makanan, atau kelaparan.

KSPB mempunyai ungkapan yang lain, yaitu “menjauhkan diri dari makanan” (Kis 15:29; 1 Tim 4:3). Ungkapan ini lebih dipakai dalam pengertian tidak makan makanan tertentu atau berpantang.

AMAL, DOA, DAN PUASA (Mat 6:2-6.16-18)

Puasa adalah tradisi Gereja yang telah dihidupi dari masa ke masa. Dalam tradisinya, pelaksanaan puasa ditandai dengan doa, pantang, dan amal. Pandangan ini berakar pada perikop Mat 6:2-6.16-18.

Secara umum, kegiatan amal, doa, dan puasa adalah gambaran ideal kesalehan umat Yahudi, bahkan dapat disebut sebagai pilar-pilar fundamental agama Yahudi. Amal telah menjadi prinsip dasar dalam Taurat (Im 25:1-7). Doa telah menjadi semacam jiwa umat Israel. Puasa telah menjadi kebiasaan umum pada masa Hakim-Hakim dan Raja-Raja.

Sebagai sebuah konsep, amal, doa, dan puasa sudah muncul dalam Yes 58:4-10. Teks ini berbicara tentang puasa yang benar, yaitu dengan memecah-mecahkan roti untuk orang yang lapar dan memberi tumpangan kepada orang yang telanjang (Yes 58:7). Dengan demikian, doa menjadi efektif: “pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab….” (Yes 58:9).

Melihat hal itu, jelas bahwa konsep amal, doa, dan puasa bukanlah suatu ajaran baru yang disampaikan oleh Yesus. Namun, ada sesuatu yang baru yang mau ditampilkan Yesus, yaitu sikap batin yang mendasari pelaksanaan amal, doa, dan puasa.

Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk menyangkal diri secara total: jangan sampai diketahui tangan kirimu apa yang diberikan oleh tangan kananmu, ketika kamu berdoa tutuplah pintu dan kuncilah kamarmu, serta minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu ketika kamu berpuasa. Dalam hal ini, Tuhan lebih menekankan soal sikap batin yang mendasari orang dalam beramal, berdoa, dan berpuasa. Tuhan lebih melihat apa yang ada dalam hati orang daripada apa yang kelihatan dari luar.

Oleh sebab itu, semoga puasa yang dijalani umat Katolik pada masa Prapaskah ini mempunyai dasar sikap batin yang benar dan bukan hanya dilakukan karena kebiasaan atau peraturan Gereja semata. Sikap batin yang benar itu adalah memurnikan hati dan budi untuk secara personal mengalami kembali misteri kebangkitan Tuhan. Puasa yang dilakukan selama masa Prapaskah adalah simbol yang mengungkapkan kesungguhan hati umat beriman untuk mengarahkan dirinya pada Allah. Segala macam bentuk disiplin diri selama masa Prapaskah adalah usaha umat beriman untuk mengendalikan diri dan memurnikan hati. Selamat berpuasa dan berpantang.  †Tuhan Memberkati†