PUASA: Bukannya Menambah Inflasi Keprihatinan

Sebuah Permenungan, puasa sebagai olah doa &  laku tobat

romojatiOleh: CT. Wahyono Djati Nugroho, Pr

Awal sebuah penyadaran

Pernahkah anda merencanakan untuk membeli rumah atau sepeda motor yang baru? Berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai ber tahun-tahun anda mengurangi jatah untuk makan, supaya uang terkumpul untuk membeli rumah atau sepeda motor baru itu. Demi berhasilnya angan-angan untuk mendapatkan sesuatu yang anda ingini, tentu dibutuhkan sikap prihatin. Pendek kata anda harus bersedia berpuasa. Semakin penting angan-angan kita untuk meraihnya, semakin besar juga kesediaan untuk berpuasa demi sesuatu yang kita cita-citakan.

Demikian juga halnya yang terjadi di dalam kehidupan beriman kita. Untuk mencapai kebahagiaan atau kemenangan atas ’kerapuhan daging’ kita mengadakan olah karohanen dengan bermatiraga. Dalam tradisi Gereja, sering dikenal dengan ungkapan masa pra paskah, yaitu masa pertobatan. Di mana kita mengandalkan rahmat Tuhan untuk membongkar dan bahkan berbalik dari keinginan-keinginan nafsu tak teratur menuju kepada kesucian hidup. Masa tobat, masa penuh rahmat di mana Allah selalu bersabar menerima kita untuk kembali pada jalan-Nya.

Mengapa harus berpuasa?

Masa puasa sudah berlangsung, dan puasa yanag diperintahkan oleh Gereja tidaklah menyimpang dari puasa-puasa lainnya. Pada masa ini, kita sering mengurangi ini dan itu, atau tidak makan ini dan itu, tidak demi puasnya atau demi lapar yang kita derita karenanya. Bahkan tidak pula demi ’keprihatinan pada umumnya’, yang kita rasakan selama 40 hari ini. Kata orang-orang Farisi: ”Mengapa murid-murd-Mu tidak berpuasa?” (lih. Mark.2:18-22).

Puasa kita  bukanlah untuk menambah inflasi keprihatinan yang sudah begitu banyak kita derita. Melainkan nilai puasa kita tergantung pada maksud/intensi yang ada dalam benak hati kita. Kita bisa puasa tidak jajan/merokok pada hari pantang dan puasa, tetapi di kemudian waktu kita berpesta pora dengan makanan enak dan merokok. Puasa kita juga bukan untuk mencari kesaktian, seperti halnya orang laku tapa di tengah-tengah hutan. Puasa kita hanya akan sangat berarti, kalau diungkapkan dengan kesungguhan hati yang mendalam. Ada satu nilai yang mau dicapai dari tindakan puasa kita, sebuah PERTOBATAN

Puasa sebagai olah doa dan laku tobat

Puasa adalah ungkapan tobat, sekaligus merupakan olah doa yang hangat.
Dalam tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar khususnya Paskah. Masa Puasa yang secara resmi ditetapkan Gereja adalah Prapaskah. Tetapi, selama Masa Prapaskah itu hari puasa resmi hanya dua, yakni Rabu Abu dan Jumat Agung. Puasa Paskah harus dipandang keramat dan dilaksanakan dimana-mana pada hari Jumat Agung. Bila mungkin, puasa ini hendaklah diperpanjang sampai hari Sabtu Suci (lihat Konstitusi Liturgi (KL) 110). Namun Gereja sangat menghargai warganya yang berpuasa penuh selama 40 hari menjelang Paskah meneladan cara berpuasa Musa, Elia dan terutama Yesus. Di samping itu secara pribadi, umat Kristiani disarankan untuk berpuasa pada hari-hari yang dipilihnya sendiri, sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Puasa ini juga bermanfaat untuk membangun semangat doa dan pengendalian diri, serta menumbukan semangat setiakawan dengan sesama yang berkekurangan.

Buah laku tobat : Aksi solidaritas kepada sesama

Apakah bisa dikatakan berhasil atau tidak kalau pada akhir masa puasa, kita bisa mengatakan, ’nah selama 40 hari saya telah berpantang/puasa 10 bungkus rokok, tidak makan daging, tidak nonton, …….dsb. tetapi hati kita masih tertutup seperti sebelumnya dan kita akan tetap sama saja jauhnya dari solidaritas dengan sesama… kalau demikian tindakan puasa kita masih merupakan tindakan material yang ditujukan untuk kepentingan sendiri.

Nilai puasa kita terletak pada maksud/intensi, juga dengan korban kesenangan diri mau ikut serta adalam aksi solidaritas yang telah ditampakan oleh Kristus dengan penjelmaan-Nya. Dengan demikian puasa bukannya mau ’menambah inflasi keprihatinan’ kita, melainkan sungguh-sungguh suatu aksi yang mendukung dan mengarah pada terbentuknya ’keluarga besar umat manusia’ sebagai umat Allah yang bersatu padu……sayuk rukun, tentrem lan karta raharja….. ***

Pattimura dua, 08 Maret 2010

Teriring salam dan doa, m’djati pr