Sakramen Tobat dan Penyegaran Relasi

Oleh : C. Dwi Atmadi

_MG_0276 Kalau ada hidup bersama pasti ada realitas konflik, ini tak dapat disangkal. Kalau tak pernah ada konflik maka lebih cocok kalau orang-oranya digiring ke rumah sakit jiwa. Memang, rasul Yohanes berkata, ’Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada pada kita (Yoh.18 1:8).

Namun demikian kurang bijaksana kalau menyimpulkan bahwa tak boleh ada konflik. Dalam hal ini ternyata faktor karakter suku bangsa dan budaya menciptakan aneka warna konflik yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi konflik terbuka/spontan dan konflik tertutup, demi sopan santun, tetapi seperti api dalam sekam saja. Mau pilih yang mana sebagai tak berdosa? Bukankah soal dosa, saudara-saudara sekalian!.

Memang, berkat sakramen pembap-tisan, dosa-dosa kita dihapuskan, termasuk dosa asal. Namun demikian setiap orang yang telah dibaptis masih memiliki kemungkinan yang sangat luas untuk jatuh ke dalam dosa, sebab kita masih terikat pada kelemahan-kelemahan manusiawi. Konkret saja, setiap orang mempunyai  kecenderungan dasar yang sangat kuat seperti angin ribut dan gelombang lautan untuk mempertahankan diri, memiliki segala yang menyenangkan sampai menjadi serakah, kikir, egois, tidak jujur dll. Belum lagi kalau berbicara tentang hawa nafsu seksual biologis. Pikiran, perasaan dan kehendak manusia bisa menjadi pendorong yang bermata buta, kalau tidak tahu diri dan tidak bijaksana. Namun demikian langkah pertama yang sangat positif, kalau orang menyadari kenyataan ini dan ingin membenahi diri. Inilah tahapan dasar memasuki dunia pertobatan.

Dimensi Dosa

Dosa berdimensi sosial, maksudnya, menyangkut relasi dengan orang lain dan dengan Tuhan. Oleh karena itu tanpa peduli akan berat-ringannya dosa, kita diajak Gereja untuk menyadari bahwa dosa yang ditengarai oleh setan lewat kelemahan kodrati kita menyangkut tindakan:

1) Bertentangan dengan kehendak Allah;

2) Menodai kesucian Gereja;

3) Mengganggu dan merugikan sesama karana dosa bertentangan dengan cinta kasih dan kebaikan hati;

4) Menodai diri sendiri, karena kita adalah Bait Roh Kudus.

Dalam keseluruhan persoalan ini, patutlah dimengerti bahwa tantangan untuk hidup bersama, tidaklah ringan. Apalagi hidup bersama dalam komunitas yang dikuduskan bagi Tuhan dalam sakramen Perkawinan dan hidup religius.

Penyegaran relasi adalah ungkapan yang bagus, dalam arti bahwa menurut kenyataan ada suasana yang kurang akrab, ada ketegangan, ada beda cara berpikir dan menilai, ada suasana yang tidak nyaman sehingga perlu ada usaha penyegaran kembali. Memang setiap konflik dapat merenggangkan relasi dan warna dosa menghantui situasi seperti ini. Tidak sedikit orang yang berusaha lari dari kenyataan ini sehingga menambah beban psikologis yang berkepanjangan. Alangkah sedihnya menyaksikan keluarga yang dilanda kemelut semacam ini, bahkan kalau tidak kuat bertahan, dapat berakibat fatal. Dasar penyegaran relasi ada pada diri kita masing-masing. Bahkan kebijaksanaan psikologis menyatakan bahwa kita hendaknya mendampingi klien bermasa-lah, bukan supaya kita membereskan masalah mereka tetapi supaya mereka mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Diperlukan keterbukaan diri dalam kerendahan hati untuk memandang lebih riil dan obyektif terhadap diri-sendiri. Keluarkanlah lebih dulu balok kayu yang merintangi di kelopak matamu sendiri sebelum anda mengeluarkan setitik debu dari mata orang lain. Inilah pertobatan. Melalui Gereja, Kristus menyediakan sarana itu (Mat 18:18, Yoh 20:23).

Pertobatan atau reconciliatio berarti pemulihan kembali hubungan atau berdamai kembali dengan cara mengakui kesalahan-kesalahan akibat kelemahan sendiri dengan sesal dan rasa sedih (contritio). Hanya dengan cara ini ’Allah yang setia dan adil akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan’ (1Yoh 1:9). Dan suasana rumah pun akan segar kembali, semuanya mudah tersenyum ceria; dan jangan lupa prestasi kerja pun akan meningkat.

dari berbagai sumber