Bersama Maria: Membangun Communio Yang Ekaristis

SEBUAH PERWUJUDAN SYUKUR ATAS KETERLIBATAN UMAT DALAM EKARISTI

Oleh : Romo Christophorus Tr Wahyuno Djati Nugroho, Pr

IMG_0438Katekese Liturgi dalam rangka bulan Maria

Pada setiap bulan Mei, kita umat beriman Keuskupan Agung Semarang selain menghormati Bunda Maria secara khusus juga mengadakan bulan katekese liturgi dan pekan Komunikasi Sosial. Tradisi Bulan Katekese Liturgi di KAS ini diadakan secara teratur sejak tahun 1999 hingga sekarang. Bulan katekese liturgi tahun ini, mengajak kita umat beriman untuk selalu bersyukur atas keterlibatannya dalam Ekaristi.

Dalam kaitannya dengan pekan komunikasi sosial dan bulan Maria, kita semua diingatkan juga bahwa bidang liturgi dalam artian segala tindakan dan peristiwa yang bersifat liturgis ini tidak akan pernah dilepaskan  dari tindakan yang non liturgis. Bidang liturgi dan bidang non liturgi sama-sama menjadi medan penghayatan iman, yakni menurut sisi pengungkapan iman dan perwujudan iman.

Mengapa harus bersyukur?

Seorang pemazmur mengatakan: “Segala  ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita” (Mzm 98). Ungkapan ini hendak mengajak kita untuk selalu bergembira dan memuliakan Allah yang telah mengalami kebaikan yang berasal dari Allah. Istilah bergembira dan memuliakan Allah adalah bersyukur. Budaya syukur mestinya menjadi bagian dalam hidup kita, sehingga bisa menjadikan kita umat beriman semakin mampu untuk terlibat berbagi berkat. Ingat slogan 50 th Gereja St. Maria di Fatima Sragen “Gembira, Peduli dan Berbagi…….”.

Bersyukur atas keterlibatan umat dalam Ekaristi

Pujian dan syukur merupakan tindakan paling puncak yang diibuat Gereja dalam hidup imannya sepanjang sejarah. Tindakan untuk selalu bersyukur mengandaikan orang tersebut telah merasakan kebaikan-kebaikan yang telah di buat oleh Allah dalam kehidupannya. Bagaimana kita sebagai umat beriman mampu merasakan kebaikan yang berasal dari Tuhan. Oleh karena itu kalau kita mampu bersyukur, berarti kita telah sampai pada inti puncak hidup yang kita buat bagi Allah, sesama dan alam  semesta. Puji dan syukur ini tidak lain makna asli EKARISTI, yakni sumber dan puncak seluruh kehidupan umat  beriman kristiani.

Kenyataan ini menyisakan suatu tantangan dan tugas besar bagi seluruh umat beriman untuk menjadikan liturgi terutama perayaan Ekaristi, sungguh sebagai puncak yang dituju oleh seluruh hidup Gereja dan hidup sehari-hari umat beriman. Ekaristi sekaligus sebagai sumber rahmat bagi pengudusan manusia dan pemuliaan Allah. Bagaimana perayaan Ekaristi, dapat menjadi peristiwa yang menarik, mengesan, mengena, sekaligus menjadi sumber rahmat dan daya kekuatan bagi jemaat untuk menghayati iman dan melaksanakan perutusan di tengah kehidupan harian mereka.

Berbagai usaha menjadikan perayaan Ekaristi menjadi menarik, mengesan, dan mengena telah dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya: perayaan Ekaristi yang disesuaikan dengan adat budaya tertentu, penggunaan bahasa dan budaya setempat, kehadiran para petugas liturgi yang trampil dan terlatih, tata ruang yang anggun dan berbagai usaha sejenisnya. Semua upaya ini patutlah kita sambut dengan penuh syukur, namun kiranya segala usaha tersebut lebih menekankan segi lahir dan kelihatan dari perayaan Ekaristi itu sendiri, serta belum begitu menyentuh alasan utama rendahnya tingkat partisipasi umat dalam perayaan Ekaristi, yakni motivasi yang tepat dan kurangnya pemahaman umat beriman akan hakekat perayaan Ekaristi.

Pendek kata sebagus apapun liturginya dan petugasnya, tetapi kalau umatnya tidak terlibat dengan seluruh hati, budi, dan pikiran tidaklah ada artinya kita membangun paguyuban (Communio) yang ekaristis. Itulah sebabnya, keterlibatan umat secara sadar dan aktif dalam ber ekaristi harus diupayakan dan disyukuri.

Akhirul kallam

Mengakhiri renungan kita pada bulan ini kita di ajak untuk semakin meningkatkan keterlibatan kita dalam membangun Communio yang ekaristis, dengan selalu ber gembira, peduli dan mau untuk berbagi………***

Bumi Sukowati, awal Mei’10

Salam dan doaku, m’djati pr