Perayaan Ekaristi Hari Minggu Panggilan

susParoki Sragen (LENTERA) – Perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Sragen hari Minggu (25/4) berbeda dari hari-hariMinggu biasanya. Sekelompok anak dengan menggunakan pakaian uskup, imam, dan suster mengarak Romo pemimpin upacara masuk ke dalam gedung Gereja. Para suster dari Kongregasi SFS mengiringi perarakan masuk para pelayan Ekaristi ini dengan lagu pembuka “Panggilan Tuhan”.

Hari Minggu terakhir dalam bulan April adalah Hari Minggu Panggilan dan Perayaan Ekaristi Minggu Siang dipimpin oleh Rm. C. Tri Wahyono Djati Nugroho, Pr. Seluruh petugas koor dan tata laksana diserahkan kepada komunitas suster-suster SFS yang berkarya di Paroki Sragen. Dalam Ekaristi ini, pada saat Homili, Sr. Monica SFS mensharingkan pengalaman perjalanan panggilannya, terlebih usahanya untuk dapat masuk biara dan menjadi suster. Satu poin penting dari apa yang telah disharingkan oleh Sr. Monic ini adalah menanggapi panggilan Tuhan dibutuhkan adanya usaha dan perjuangan dari manusia. Secara nyata, hal ini dialami sendiri oleh Sr. Monic.

Menutup sharing dari Sr. Monic, Rm. Djati menegaskan bahwa panggilan khusus untuk menjadi imam, bruder, dan suster di Keuskupan ini masih terus tetap dibutuhkan. Saat ini, Keuskupan Agung Semarang dilayani oleh 190-an imam Diosesan. Ini belum termasuk imam-imam tarekat dan biarawan-biarawati yang berkarya di Keuskupan ini. Sebagai umat Keuskupan Agung Semarang, pada tahun syukur ini, kita memang perlu untuk mengucap syukur atas pertumbuhan panggilan di Keuskupan kita. Kendati demikian, seluruh umat Keuskupan Agung Semarang perlu untuk terus berdoa agar panggilan di keuskupan ini dapat terus berkembang dengan subur.

Semoga, anak-anak yang pada hari Minggu Panggilan ini mengenakan pakaian imam, biarawan, dan biarawati, nantinya sungguh dapat terpanggil untuk melayani umat Allah sebagai imam, biarawan, dan biarawati.  (Kur)