Sikap Empan Papan Dalam Berliturgi

Oleh : Fr. Antonius Abas Kurnia Andrianto

renBulan Mei oleh Gereja dirayakan sebagai Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi. Selain itu, pada bulan Mei 2010 ini juga dirayakan Hari Komunikasi Sedunia ke– 44, yang mengambil tema “Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda”. Berkaitan dengan beberapa tema itu, kiranya ada satu hal yang dapat menjadi fokus permenungan kita, yaitu bagaimana memanfaatkan media komunikasi secara tepat, termasuk di dalam berliturgi.

Kebijaksanaan Menggunakan Media Komunikasi

St. Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani menyebut bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamat­kan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan (LR 23).

Sehubungan dengan gagasan tersebut, maka manusia perlu bijak di dalam menggunakan berbagai macam sarana, termasuk di dalamnya adalah sarana-sarana komunikasi modern. Alat-alat itu adalah sebagai sarana pendukung dan bukan tujuan.

Gereja menyambut baik kehadiran berbagai macam sarana komunikasi modern ini. Saat ini, internet sudah bukan barang baru lagi di dalam kehidupan Gereja. Banyak paroki sudah memanfaatkannya sebagai sarana komunikasi yang efektif bagi media pewartaan.

Berbagai macam sarana komunikasi mutakhir itu memang seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi memang sungguh dapat bermanfaat, namun di sisi lain juga dapat membawa dampak yang kurang baik. Hal ini sebagaimana sebuah kampak. Di tangan seorang tukang kayu, kampak bisa menjadi alat yang sangat berguna, tetapi di tangan seorang penjahat bisa menjadi sebuah alat yang sangat berbahaya. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya kebijaksanaan di dalam penggunaan alat-alat teknologi modern itu.

Penggunaan Teknologi Modern

Saat ini, di beberapa paroki sudah digunakan sarana multi media seperti laptop, LCD, dan screen untuk mendukung kegiatan di dalam perayaan Ekaristi. Ada yang menggunakan sarana-sarana itu untuk menampilkan teks nyanyian, bacaan Kitab Suci, doa-doa, maupun poin-poin homili romo.

Tentu saja alat-alat teknologi modern itu tetap boleh digunakan. Hanya saja, tetap semuanya itu adalah sebagai sarana pendukung di dalam berliturgi. Prinsipnya adalah sebuah sarana teknologi bisa digunakan sejauh itu mendukung dan jangan digunakan kalau itu malah mengganggu atau mengaburkan fokus umat di dalam penghayatan Ekaristi.

Perlunya Sikap Empan Papan

Tema renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi (BKL) tahun 2010 ini adalah “Syukur atas Keterlibatan Umat dalam Ekaristi”. Dalam hubungannya dengan alat-alat komunikasi modern, tema renungan Bulan Maria dan BKL ini dapat menjadi sesuatu yang amat relevan. Kita tentu merasa sangat terganggu ketika sedang mengikuti perayaan Ekaristi tiba-tiba mendengar bunyi ringtone HP; atau ketika orang yang ada di sebelah kita tiba-tiba sambil senyum-senyum berdiri ke luar Gereja sambil memegangi sakunya yang bergetar. Bisa jadi kita juga merasa tidak nyaman ketika melihat ada orang yang malah SMS atau ber-facebook ria melalui HP selama perayaan Ekaristi berlangsung; atau ketika perayaan Ekaristi berlangsung, muda-mudi kita malah menggerombol bermain laptop memanfaatkan sarana hotspot yang ada di Gereja. Anehnya, pas komuni mereka juga ikut-ikutan maju untuk menyambut Tubuh Kristus.

Di dalam semuanya itu, kita memang perlu bersikap empan papan di dalam menggunakan sarana-sarana komunikasi maupun alat-alat teknologi modern. Apa yang kita lalukan tidak hanya membawa dampak bagi diri sendiri, namun juga membawa dampak bagi orang lain. Maka, jangan sampai orang lain menjadi terganggu di dalam penghayatan liturginya, hanya karena ulah kita yang kurang bersikap empan papan di dalam berliturgi. †Berkah Dalem ***