Mimpi Bersama Menuju Masa Depan Gereja Sragen

Oleh: Rm. Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr

70 thn kasPada tanggal 10 April 1940 Mgr. P. Willekens, Vikaris Apostolik Batavia, dengan naik kapal berangkat dari Indonesia untuk mengadakan kunjungan “ad limina”. Tujuan “ad limina” tersebut: dengan Constituio Apostolica Vetus de Batavia tertanggal 25 Juni 1940 Paus Pius XII mendirikan Vikariat Apostolik Semarang. Pada tanggal 1 Agustus 1940 Romo Albertus Soegijapranata, SJ, pastor paroki Bintaran, diangkat menjadi Vikaris Apostolik.


Dalam perjalanan selanjutnya Gereja Katolik di Indonesia merasa sudah dewasa. Untuk itu perlu diperlakukan seperti Gereja Katolik di negara lain yang iman Katoliknya sudah mengakar, bukan sebagai daerah Misi lagi. Dalam sidangnya di Girisonta, Jawa Tengah, 6-16 Mei 1960, Wali Gereja Indonesia membahas Hirarki Gereja di Indonesia. Keputusannya ditandatangani oleh seluruh Waligereja Indonesia pada tanggal 12 Mei 1960 dikirim kepada Paus Yohanes XXIII di Roma. Mereka memohon agar secara resmi Sri Paus mendirikan Hirarki Gereja di Indonesia. Permohonan itu mendapat sambutan hangat. Balasan surat tersebut dinyatakan dalam dekrit “Quod Christus” tanggal 3 Januari 1961. Sri Paus memandang bahwa Gereja Katolik Indonesia memang sudah dapat mandiri, sehingga Beliau dengan senang haati mendirikan Hirarki Gereja di Indonesia. Bersamaan dengan itu Sri Paus berharap agar pemerintah Republik Indonesia selalu melindungi agama Katolik dan segala kegiatan ibadatnya. Sri Paus tak lupa pula mendoakan agar negara Republik Indonesia mencapai kesejahteraan lahir batin. Beliau juga berharap agar Gereja Katolik di Indonesia semakin mengakar dan membumi dalam alam kehidupan bangsa sendiri. Dengan adanya hirarki, istilah Vikariat dan Prefektur Apostolik diganti menjadi Keuskupan Agung dan Keuskupan. (Tim KAS, Garis-garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang, dalam rangka Yubileum ke-50 KAS, Semarang, November 1991, hal 67 dan 89)

Para pembaca LENTERA yang terkasih, itulah sejarah singkat berdirinya keuskupan kita, Keuskupan Agung Semarang. Pada bulan Juni ini tepatnya tanggal 25, Keuskupan kita genap berusia 70 tahun. Kita akan menghaturkan syukur bersama dalam perayaan ekaritsti yang akan diadakan pada hari Minggu, 27 Juni 2010. Kita patut bersyukur karena sejak diresmikan sebagai keuskupan, Keuskupan Agung Semarang terus bergerak menuju kemandirian. Berkat penggembalaan para bapa uskup yang melibatkan dan memberdayakan kini kemandirian tersebut bisa kita nikmati bersama.

Peringatan 70 tahun Keuskupan Agung Semarang  tentunya tidak hanya kita rayakan secara seremonarial saja, namun juga mesti kita jadikan sebagai kesempatan untuk berefleksi. Sejarah berdirinya Keuskupan Agung Semarang bisa kita jadikan sebagai inspirasi untuk mengembangkan paroki kita. Kita semua mempunyai impian, di masa datang entah berapa tahun lagi di tanah Sukowati ‘lahir’ paroki baru. Ini bukanlah impian yang ‘ngaya wara’ , kalau memang kita berupaya sungguh mewujudkannya. Berdirinya Keuskupan Agung Semarang pasti juga berawal dari mimpi para pendahulu kita.

Para pembaca LENTERA yang terkasih, untuk mewujudkan mimpi tersebut kiranya bisa kita awali sejak sekarang. Kita bangun paguyuban umat sebagai komunitas basis gerejani yang semakin kokoh. Kesatuan dan kebersamaan sebagai umat Allah semakin kita tingkatkan. Dan dalam kesatuan dan kebersamaan  tersebut, kita perteguh bersama iman kita. Sebab hanya atas dasar iman yang teguh dan mendalam kita bisa bergerak bersama dengan kesadaran penuh sebagai murid-murid Kristus yang diutus mewartakan Injil-Nya.  Dengan demikian kita boleh berharap bahwa Gereja di Sragen akan terus berkembang baik secara kualitatif maupun kuantitaf. Dan niscaya lahirlah paroki baru di tanah Sukowati ini. Amin.