Tubuh & Darah Kristus Dalam Rupa Roti & Anggur

renunganOleh: Frt. Aniek H

Pada saat menyanyikan lagu “Ini Tubuh-Ku, Ini Darah-Ku, makan dan minumlah…..” (PS.429), kita merasakan kehadiran Yesus dalam roti dan anggur yang mempersatu­kan kita dengan diri-Nya. Kesatuan itu adalah kesatuan rahmat, kesatuan iman, kesatuan pribadi dalam bentuk ‘perjamuan” yang merupakan ciri khas Ekaristi.

Waktu memberikan roti kepada para rasul, Yesus bersabda: “Inilah Tubuh-Ku.” Dalam bahasa jawa ‘Awak-Ku atau “Slira-Ku”. Jadi pokok sabda Yesus adalah penyerahan Diri. Dengan lain kata, roti adalah (tubuh) Yesus yang diberikan. Kehadiran Yesus dalam roti tidak boleh dilepaskan dari pemberian diri Yesus itu dan orang yang menyambut-Nya dalam iman. Menurut Lukas 22:19 dan juga Paulus dalam 1 Kor 11:24, penyerahan diri kepada para rasul sekaligus mengungkapkan penyerahan diri ke dalam maut, atau penyerahan diri secara total kepada Bapa.

Hal itu menjadi lebih jelas lagi dari kata-kata atas piala. Dalam sabda atas piala, Yesus menunjuk pada wafat-Nya. Menurut Lukas 22:20 seperti juga dalam 1 Kor 11:25 mempunyai rumusan: “Piala ini adalah Perjanjian Baru dalam darah-Ku yang ditumpahkan untuk kamu.” Disini yang disebut “Perjanjian Baru” ialah piala, artinya perayaan, minum bersama dari piala; merupakan perjanjian yang baru yang dikaitkan dengan darah yang ditumpahkan. Dalam hal ini yang dititik beratkan oleh Lukas adalah bahwa dengan minum dari piala, sama seperti pemberian roti, mengungkapkan kesatuan para rasul dengan Yesus. Tetapi dengan lebih eksplisit diungkapkan hubungan dengan Allah Bapa. Dengan minum dari piala, para rasul mengambil bagian dalam penyerahan diri Yesus kepada Bapa, berpartisipasi dalam korban Yesus, khususnya sabda atas piala mengungkapkan arti keselamatan Ekaristi.

Maka dalam sabda Yesus atas roti dan anggur dengan jelas dinyatakan:

  1. Kehadiran Yesus dalam roti dan anggur yang diberikan kepada para rasul
  2. Penyerahan Yesus demi keselamatan manusia
  3. Ajakan Yesus untuk mengambil bagian dalam korban-Nya kepada Bapa dengan menyantap Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur.

Kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur tidak boleh dilepaskan dari hubungan pribadi dengan Yesus oleh iman. Hanya dengan menghayati ekaristi dalam semangat iman, maka menyantap Tubuh dan Darah Kristus dan cawan pengucapan syukur syukur, yang diatasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan Darah Kristus. “Persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus dan cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus. “Persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus berarti bahwa harus ada sikap iman.

Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima dalam setiap misa kudus, Tuhan memperingatkan kita bahwa kita tidak dapat hidup tanpa ekaristi, tanpa memakan Tubuh-Nya dan meminum Darah-Nya. Tubuh dan Darah Kristus di dalam sakramen ekaristi merupakan rohani bagi kita, yang memberikan kekuatan dan daya hidup kepada jiwa kita. Makanan rohani ini yang mengubah kita menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Sama seperti benih yang ditanam di dalam tanah, mengubah tanah itu menjadi tumbuhan yang hidup, begitu pula Tubuh Kristus yang kita sambut dalam ekaristi menjadi benih hidup di dalam diri kita. Ia mengubah kita menjadi manusia baru, menjadi manusia seperti Kristus, seorang manusia yang sanggup untuk mencintai sesamanya dan mengabdikan hidupnya bagi kepentingan sesama.

Setelah kita menerima roti kehidupan dalam Sakramen Ekaristi, roti itu menjadi sumber perubahan di dalam diri kita yang ingin membentuk kita seturut semangat Yesus Kristus, supaya kita selanjutnya menjadi roti kehdiupan, menjadi sumber air hidup bagi sesama kita, kita berterima kasih atas hadiah yang diberikan Kristus kepada kita dengan menghadiahkan diri sendiri, dengan memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita.

Jadi makanan rohani yang diberikan Yesus kepada manusia adalah bentuk cinta-Nya yang tak terbatas, yang tidak mengenal awal dan akhir. Kristus yang mencintai manusia dari kemarin, sekarang dan kekal selamanya. Pengakuan terhadap cinta Tuhan mencakup cinta yang lampau maupun yang akan datang, tetapi tertuju terutama kepada cinta Tuhan sekarang yang terwujud dalam Yesus Kristus yang mencapai puncaknya di atas salib serta kebangkitan-Nya.

Penulis tinggal di Lingkungan Ignatius Loyola Plumbungan Indah Sragen