AKSI SYUKUR: Membangun Semangat Kemuridan

kurOleh: Fr. Antonius Abas Kurnia Andrianto

Keuskupan Agung Semarang (KAS) baru saja merayakan perayaan syukur ulang tahun keuskupannya yang ke-70 tahun. Secara serentak, paroki-paroki di KAS merayakan perayaan Ekaristi syukur ulang tahun keuskupan ini pada hari Minggu, 27 Juni 2010 di Museum Misi Muntilan dan di parokinya masing-masing.

Berdasar bacaan Injil yang dibacakan pada perayaan Ekaristi syukur 70th KAS itu, yaitu Luk 9:51-62, kita akan memperdalam semangat kemuridan sebagai sebuah ungkapan syukur atas karya Allah di KAS sampai usia yang ke-70 tahun.

Murid Kristus: Mewartakan Injil Secara Benar
Yesus mengutus beberapa orang untuk mendahului perjalanan-Nya dan mem-persiapkan segala sesuatunya. namun, rencana kedatangan Yesus di salah satu desa orang Samaria dalam rangka perjalanan-Nya ke Yerusalem telah ditolak oleh orang-orang Samaria. Menanggapi situasi seperti ini, serta-merta, dua orang murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes berkata kepada Yesus, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”.

Tanggapan kedua murid Yesus ini menurut budaya waktu itu adalah suatu tanggapan yang wajar. Kehadiran seorang tokoh suci dan penting biasanya memang didahului dengan kehadiran beberapa utusan. Dengan menceritakan bahwa Yesus mengutus beberapa orang untuk mendahului-Nya, Lukas mau menunjuk¬kan bahwa Yesus adalah seorang tokoh yang penting dan suci. Namun, rencana kehadirannya di salah satu desa orang Samaria telah ditolak.

Dalam alam pikiran waktu itu, penolakan akan kehadiran seorang tokoh yang suci akan mendatangkan suatu kutukan. Selain itu, dalam pandangan umum orang Yahudi, orang Samaria memang sangat patut dan pantas dikutuk karena tidak lagi memeluk ajaran yang benar. Orang Samaria dianggap sebagai orang yang murtad. Dalam kehidupan masyarakat orang Yahudi mereka adalah kelompok orang yang disingkiri. Beberapa kisah dalam Injil meng¬gambarkan hal ini. Dalam Perjanjian Lama diceritakan mengenai orang Samaria yang memusuhi Nabi Elia sang utusan Tuhan dan oleh karena-nya dua kali pasukan yang dikirim raja orang Samaria untuk menangkap Elia itu hancur binasa kena kutukan api yang datang dari langit (2 Raj 1:10,12).

Yakobus dan Yohanes pun lalu berpikir dengan cara itu. Orang Samaria mereka anggap tak mau “menerima ajaran yang benar” yang dibawakan Guru mereka dan oleh karenanya patut dikutuk seperti yang dahulu pernah terjadi. Namun, Yesus menegur kedua murid-Nya. Sikap kedua murid itu adalah sebuah sikap yang intoleran dan arogan terhadap orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat atau ajaran yang mereka yakini.

Penolakan akan kehadiran Yesus di satu sisi memang mau mengungkapkan penolakan orang-orang Samaria akan ajaran yang diwartakan oleh Yesus. Mereka tidak mau menerima ajaran yang dibawa oleh Yesus. Namun, Yesus tidak mau memaksakan ajaran-Nya dengan kekerasan, dengan sikap intoleran dan arogan.

Dalam kehidupan kita, sering kita melihat bahwa suatu maksud baik kadang berakhir dengan mengutuk orang yang tak berpendapat sama, baik secara terang-terangan maupun secara tidak langsung menjelek-jelekkan keyakinan orang lain. Dalam kisah itu tadi dikisahkan Yesus yang melepaskan ikatan-ikatan seperti itu. Yesus mengajak orang untuk mengikuti Dia dengan hati yang terbuka dan tidak semata-mata karena takut akan adanya kutuk. Yesus mengajarkan Tuhan itu Maharahim. Oleh karenanya, orang yang mau mewartakan kehadiran-Nya tidak boleh mengancamkan suatu hukuman, apalagi mengutuk orang atas nama-Nya. Semoga kita dapat semakin bertindak bijaksana di dalam sikap kemuridan kita. †Berkah Dalem† ***