Agustus Bulan Ajaran Sosial Gereja

Oleh: Mgr. Johannes Pujasumarta (Uskup Bandung)

bishop_johanes_pujasumartaPeristiwa Bangsa bagian dari Sejarah Keselamatan

Gagasan menjadikan Agustus sebagai BASG berawal dari keprihatinan dan harapan yang muncul dari tegangan hidup beriman, tegangan sejarah antara cita-cita dan kenyataan, tegangan eskatologis antara sudah dan belum terjadinya keselamatan. Dalam terang iman, dari satu pihak keselamatan sudah terjadi dalam peristiwa Yesus Kristus – namun di lain pihak keselamatan itu belum terjadi sepenuhnya dalam sejarah bangsa manusia. Tegangan eskatologis demikian itu menjadi daya kekuatan bagi kita untuk tetap berharap kendati seolah-olah tanpa harapan karena keprihatinan demi keprihatinan muncul dari kenyataan sejarah hidup yang rapuh ini.

Pada bulan Agustus bangsa Indonesia mengalami peristiwa sangat menentukan ketika diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam terang iman dapatlah dikatakan bahwa peristiwa bangsa itu merupakan bagian dari sejarah keselamatan bangsa Indonesia. Selama itu kerap dialami krisis multidimensional yang menyangkut kehidupan bangsa ini, namun setiap kali pula krisis itu mengantar kita pada penegasan terhadap kesepakatan kita untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia di atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dengan semangat “Bhinneka Tunggal Ika”.

Dewasa ini, setelah 65 tahun proklamasi kemerdekaan itu, krisis multidimensi yang kita alami dalam dekade terakhir ini mengantar kita untuk menegaskan lagi empat pilar yang menopang kelestarian kehidupan bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, dasar bangunan NKRI, dan kearifan hidup bersama “Bhinneka Tunggal Ika”.

Keprihatinan berhadapan dengan kenyataan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dapat saja mendorong kita menuju titik tanpa harapan ketika kita menemukan keredupan bahkan kegelapan yang mencekam karena penyakit bangsa tak tersembuhkan seperti korupsi yang seperti kanker gabas merusak seluruh jaringan kehidupan bangsa ini.

Cita-cita keutuhan bangsa dalam kenyataan keberagaman dewasa ini berada di ujung tanduk ketika kita kenali ada upaya sistematik untuk mengganti dasar negara ini dengan dasar lain, yang berbeda dari semangat proklamasi 1945. Upaya tersebut bahkan disertai dengan tindak kekerasan karena memaksakan kehendak secara terang-terangan dalam ruang publik kita, negara Pancasila ini. Kendati keprihatinan-kepruhatinan tersebut mencemasĀ­kan hati kita, namun iman kita kepada Allah, yang adalah Gembala Sejarah Bangsa, tetap saja menjadi dasar bagi umat beriman untuk berharap akan masa depan yang lebih baik.

Untuk itulah kiranya, perlu kita merumuskan ulang kabar sukacita yang bersumber pada Injil Kerajaan Allah, agar kabar sukacita itu tetap relevan pada zaman kita. Ajaran Sosial Gereja, atau ASG, yang dikenal dimulai dengan Ensiklik Rerum Novarum, 1981, merupakan “Evangelium applicatum”, “applied Evangelium”, Injil yang diterapkan untuk situasi zaman yang selalu berubah karena hal-hal baru muncul.

Hal-hal baru selalu muncul, baik pada tingkat lokal maupun pada tingkat global-transnasional, dalam tanda-tanda zaman yang harus kita tangkap, kita kritisi, dan kita maknai dalam terang Injil Kerajaan Allah. Agar dinamika aksi – refleksi – aksi secara berkesinambungan terjadi itulah maka Agustus dijadikan Bulan Ajaran Sosial Gereja, atau BASG, sehingga peristiwa bangsa Indonesia, 17 Agustus, dapat dimaknai sebagai bagian dari sejarah keselamatan, ketika Allah kita akui bersama sebagai Gembala Sejarah Bangsa juga.

Untuk melancarkan pembelajaran kita mengenai ASG telah diterbitkan Kompendium Ajaran Sosial Gereja (http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical…/kompendium_text_id.pdf), yang dapat membantu kita menemukan mutiara-mutiara berharga yang tetap cemerlang dalam keredupan dan bahkan dalam kegelapan hidup bersama kita sebagai warga masyarakat, bangsa dan negara Republik Indonesia.

Selamat merayakan Agustus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-65.***

Salam, doa dan Berkat Tuhan,

(Dalam perjalanan dari GMKA menuju Bandung,ketika kami sampai di Pekalongan pk. 12.30. WIB

Sumber: http://pujasumarta.multiply.com