ALTAR Fokus Interior Gereja

Oleh: C. Dwi Atmadi

altarDi dalam Gereja, selayaknya altar menjadi fokus, biasanya karena mudah terlihat bukan terutama karena bentuknya. Altar biasanya sederhana, sehingga tidak menarik karena bentuknya. Mudah terlihat karena dapat dengan langsung tanpa halangan terlihat oleh mata orang, baik kalau ia sedang berdiri atau duduk.

Biasanya altar ada di ketinggian level lantai 6 (2 X 3), atau 9 (3 X 3) kali 16­-18 cm. Ketinggian efektif dari daerah altar sering kita jumpai dalam Gereja pra konsili Vatikan II. Altar beserta imam yang mempersembah­kan misa dapat terlihat jelas  oleh semua umat. Lokasinya terpusat di pusat sumbu dan ketinggian yang pas untuk ketinggian pandangan mata.

Lokasi altar, karenanya ikut menentukan efektivitas fokus ini. Untuk altar di ujung akhir sumbu akses, atau dengan kata lain, di dinding depan sebagai latar belakang, mempunyai peran penting. Dinding ini sering diisi salib, tabernakel, jendela dengan kaca patri, bermotif atau polos. Peran dinding ’background’ ini sangat penting dalam ikut menciptakan fokus, baik dari dekorasi mau pun warnanya. Tata cahaya juga merupakan faktor pendukung penting.

Pertemuan Sumbu

Untuk altar yang berada di tengah ruang, pusat pertemuan sumbu, misal di pusat lingkaran atau di pusat salib, bagi Gereja berdenah lingkaran maupun berdenah salib, ketinggian lantai daerah altar menjadi faktor penting. Juga hiasan di atas altar. Vatikan menggunakan baldacino (empat tiang dengan atap) untuk menaungi daerah meja altar. Katedral Rio de Janeiro mengkombi-nasikan salib besar dengan background kaca patri di samping bentuk plafond yang mengerucut. Katedral Liverpool seperti Katedral di Rio, yang menggunakan bentuk tenda mengandalkan pencahayaan tepat di ujung atap.

Di sebuah paroki kecil di Amerika, daerah panti imam, tempat duduk imam dan altar beserta ambo untuk liturgi sabda, diletakkan di sumbu tengah, membelah daerah umat menjadi dua. Di sini, fokus sulit dinikmati, bahkan tidak nampak sebagai fokus. Di samping tidak memiliki background, altar tidak berlokasi di tempat yang khusus. Seolah altar bukan menduduki lokasi pusat. Fokus menjadi pudar tak lagi menarik perhatian visual.

Pusat Perhatian

Fokus itu penting agar membantu umat memusatkan perhatiannya. Hal ini menyatukan umat. Bahasa tubuh yang tak tampak kesatuannya, tidak pula menampakkan kebersamaan komunitas gerejani. Satu, kudus, katolik, apostolik merupakan kesatuan ide yang mestinya nyata, juga dalam tata ruang dan tata gerak tubuh umat yang satu. Bukan keseragaman tetapi kesatuan, ini penting dan dimungkinkan dengan adanya fokus yang efektif.

Dalam sejarah Gereja, fokus pandangan ke arah altar, sebenarnya merupakan sumbu fiktif ke arah Yerusalem dan kemudian berubah ke timur. Itulah arah atau kiblat yang menyimbulkan lokasi kudus, bait Allah, sumber terang.

Fokus-fokus imajinatif ini memang diimani, tetapi penyelesaian desain visual, mendukung terjadinya fokus yang nampak nyata. Fokus kudus ini adalah sakramen. Kepada-Nyalah kita sebagai umat melihat, dengan mata fisik maupun mata hati. Dengan mata seni mau pun mata imani. ***

( dari berbagai sumber)