Merdeka untuk Peduli & Berbagi

Oleh : V. Sri Murdowo

pemulung1(1)Menjadi orang yang sukses, bebas dan merdeka adalah dambaan setiap orang. Untuk menggapai mimpi dan angan-angan, tentu banyak hal yang harus dijalani. Lewat doa, semangat dan kerja keras, kita berusaha meraih obsesi, sekalipun harus mengalami banyak tantangan dan pengorbanan. Nyatanya, tidak semua mimpi bisa terwujud menjadi kenyataan. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang sukses, namun tak sedikit yang gagal!

Sobat terkasih, dalam sebuah kesempatan penulis sempat ber­bincang-bincang ringan dengan seorang ibu. Dia adalah  seorang pemulung yang setiap hari berkeliling kampung untuk mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas. Jika nasibnya sedang mujur, banyak orang terutama kaum ibu yang memberinya dengan cuma-cuma. Misalnya botol-botol plastik, koran, kardus, buku-buku yang sudah tidak terpakai, panci-panci tua, makanan dan seterusnya.

Semuanya diterima dengan rasa syukur, oleh sebab itu dia berusaha untuk tidak mengambil barang-barang yang bukan haknya. Selebihnya dia tidak canggung bergelut dan berada di tempat kumuh (pembuangan sampah) hingga berjam-jam, guna mengorek apa saja yang masih bisa dijual. Soal aroma tak sedap, baginya sudah tidak ada artinya lagi, kendati dia sadar bahwa tempat tersebut sangat tak layak untuk dihuni.

Tanpa rasa lelah ataupun berkeluh kesah, ibu tersebut merasa nyaman dengan pekerjaannya. Semuanya dijalani dengan senang dan ikhlas. Sepintas terlihat cuek, namun ternyata dia adalah sosok yang baik dan peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dari hasil jerih payahnya, ia seringkali mengulurkan tangan untuk membantu anak-anak balita yang kekurangan gizi. Meski kedua putrinya sudah lulus SMA dan bekerja di sebuah pabrik rokok, namun si ibu tetap saja setia dengan mata pencahariannya sebagai pemulung. Prinsipnya adalah “Pantang untuk berpangku tangan.”

Sejenak penulis memperhati­kan raut mukanya yang selalu ditutupi dengan topi (caping), ternyata wajahnya masih menyisakan gurat-gurat kecantikan. Kulitnya yang bersih, rasanya tak pantas kalau berprofesi sebagai pemulung, akan lebih tepat dan cocok kalau dia menjadi bintang sinetron.

Yah…tidak berlebihan kalau penulis sebagai orang awam menilai­nya bahwa ibu tersebut telah merasakan kebebasan dan kemerdekaan dalam hidupnya. Tak ada seorang pun yang mampu membatasi dan menghentikan gerak langkahnya kemanapun dan kapan pun dia pergi, serta kapan pun akan kembali ke rumah untuk beristirahat atau berbenah diri.

Maka sejatinya hidup ini bukan semata-mata untuk mengejar harta benda atau mendewakan kemewahan ragawi, apabila semua itu tidak mampu mem­bahagia­kan sesama, terlebih untuk memuliakan Allah.

Belajar dari kehidupan si pemulung, kita diajak untuk semakin bijak dalam mensyukuri rahmat dan karunia Allah, yang kita rasakan tidak pernah berhenti, dari waktu ke waktu!

Lewat refleksi tersebut, sekaligus memperingati HUT KEMERDEKAAN RI yang ke-65, sudah sepantasnya kita semakin mampu berbenah diri untuk menjadi manusia yang memiliki hati nurani dan kepekaan sosial. Tak perlu ragu atau takut kita akan kehilangan atau kehabisan materi dan kekayaan sebab Allah telah bersabda:

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan. Sebab walaupun orang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:13-21).***