Pemantapan Panitia APP & Pengelola Keuangan

IMG_4902_resizeParoki Sragen (LENTERA) – Pertemuan pemantapan panitia APP dan pengelola keuangan pada masing-masing Tim Kerja, Minggu (26/9) di Aula SMP Saverius telah mampu merubah pemahaman tentang hidup menggereja para peserta. Pertemuan tersebut dibuka oleh Rm.  L. Issri Purnomo M, Pr dengan pembacaan SK dan kepanitiaan APP yang baru pertama kali dibentuk  mengingat pada tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada kepanitiaan APP yang ber SK. Selanjutnya waktu diserahkan sepenuhnya kepada  Rm. Al Gonz Luhur Prihadi, Pr yang menjabat sebagai Ketua PSE dan APP Keuskupan Agung Semarang untuk memberikan pemahaman tentang APP dan PSE.

Romo Luhur menegaskan pentingnya panitia APP pada masing-masing Paroki. Karenanya sebagai Ketua panitia APP KAS, beliau membuat buku Pedoman Aksi Puasa Pembangunan yang bisa digunakan sebagai dasar kegiatan Aksi Puasa Pembangunan diseluruh Paroki Keuskupan Agung Semarang. Gerakan APP KAS telah berlangsung kurang lebih 40 tahun sejak dicetuskan oleh Rm. C Carri, SJ  pada tahun 1970 ( digagas mulai tahun 1969) yang pada waktu itu menjabat Vikjen Keuskupan Agung Semarang,  berawal dari keprihatinan adanya jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Gerakan APP dimaksud untuk menjembataninya supaya terjadi gerakan solidaritas dari yang “kaya” ( yang mempunyai materi lebih dari yanag lainya) dengan yang “miskin” (hanya mempunyai sedikit materi atau bahkan tidak mempunyai apa-apa).

Selanjutnya kesadaran gereja ini ditunjukkan dalam bentuk pilihan  mendahulukan kaum miskin dan tidak berdaya, Preferential option for (and with) the poor and oppressed. Mendahulukan kaum miskin dan tertindas, mem­perjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, merupakan wujud serta tanda kesetiaan kepada Injil Yesus.

Dasar APP adalah pertobatan yaitu mengarahkan diri kepada Allah dan ikut serta membangun kerajaanya. Wujud dan buah petobatan bisa bermacam-macam dan selalu berkait erat dengan keadilan. Sebagaimana dikatakan Nabi Yesaya “ Inilah puasa yang kusukai: membuka belenggu Kelaliman, melepaskan tali-tali mencekit, membebaskan yang teraniaya, mematahkan setiap penindasan. Dana sebagai salah satu buah dari proses pertobatan melalui gerakan APP terarah kepada kesejahteraan dan kedamaian manusia terutama bagi mereka yang kehilangan harapan, tersingkir dan tertindas. Dengan demikian  gerakan APP menjadi persembahan kepada Tuhan untuk keselamatan bersama.

Visi-Misi APP KAS. Visi: Membangun Kerajaan Allah, yang bermakna memperjuangkan kedamaian, keadilan sosial dan kesejahteraan bagi semua orang. Menjalin kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik. Misi : Puasa dan pertobatan, yang bermakna, pada diri sendiri: terjadi perubahan perilaku hidup sebagai murid Yesus. Bagi orang lain dan lingkungan hidup : menjadi ragi dan garam dunia.

Tujuan  gerakan APP ialah mem­bangkitkan kepekaan sosial umat bersama masyarakat utamanya kepada audara saudari yang berkekurangan menurut dimensi sosial-ekonomi sebagai bentuk penghayatan / perwujudan pertobatan dan solidaritas sebagai murid Kristus. Memberdayakan umat bersama masyarakat mengembangkan pola pikir bersaudara dalam usaha-usaha kooperatif,  Mendorong kelompok-kelompok pendidikan pembangunan dalam masyarakat guna meningkatkan taraf hidup khususnya masyarakat miskin. Menggerakkan kecerdasan financial komunitas basis menuju kemandirian sosial ekonomi yang bersemangat kerelaan berbagi dengan tulus. Mendampingi masyarakat yang mengalami bencana dalam bentuk bantuan kemanusiaan darurat.

Prinsip gerakan APP ialah Pertobatan, Kesadaran, Keterlibatan, Solidaritas demi yang miskin dan terlantar, berkelanjutan. Proses gerakan APP ialah infentarisasi masalah /data / fakta, identifikasi masalah, perencanaan bersama, Kerjasama dan konsultasi, Sumber pembiayaan, Evaluasi. Tujuan Penggunaan Dana APP. Dana APP digunakan untuk mendukung pelayanan pemberdayaan umat Katolik dan masyarakat pada umumnya yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi dan kualitas hidup manusia beriman terutama bagi KLMTD. Supaya nilai-nilai kerajaan Allah menjadi pengalaman konkrit dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai kerajaan Allah itu meliputi kedamaian, keadilan sosial dan kesejahteraan.

Ditambahkan oleh Rm. AG. Luhur Prihadi, Pr bahwa Panitia APP yang sudah dilantik dan Ber SK supaya menjadi Tim Kerja sendiri,  kerjasamanya terutama dengan TK. PSE dan TK. Lainya, pertanggungjawabanya langsung  kepada Dewan Paroki. Selanjutnya waktu dilanjutkan oleh Rm. R. Sapto Nugroho, Pr yang menjabat sebagai Tim Akuntansi Kuskupan Agung Semarang. Beliau Menyampaikan materi Pengelolaan dana di masing-masing Tim Kerja.

Diawali dengan  menjelaskan Gereja sebagai Sakramen yang mempunyai Ciri Ilahi dan ciri Insani. Gereja sebagai sakramen berciri insani mempunyai makna bahwa gereja hadir di dunia (duniawi) sehingga Gereja yang ber- ciri Insani harus dikelola untuk mendukung ciri Ilahi. Ciri Insani tetap bersifat sakramental maka ciri insani tersebut harus dikelola dengan system credible ( transparan dan akuntabel ), ketika ciri insani itu lepas dari tata kelola yang baik, maka Sakramentalitas Gereja dibahayakan – maka pewartaan Gereja ciri ke-Ilahian anggotanya sendiri menjadi tidak bermakna (insignificant), Umat tidak dapat merasakan kehadiran yang Ilahi karena berkutat pada perselisihan duniawi ( harta ). Maka pengelolaan harta benda Paroki harus menjadi sakramen bagi umat sendiri maupun masyarakat.

Dicontohkan bahwa pengelola keuangan yang  mengatasnamakan Gereja pada kelompok, paguyuban maupun tim kerja tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah uang hasil kerja kelompok, paguyuban, tim kerja kami sendiri, sehingga uang kami tidak harus dilaporkan atau direkeningkan pada kas Paroki, kami berusaha sendiri dan kami menggunakanya sendiri. Pernyataan tersebut sangat bertentangan dengan ciri Ilahi dan ciri Insani Gereja sebagai Sakramen.

Pengelolaan keuangan Paroki yang terdiri dari  Aktiva Bersih tidak Terikat (ABTT), merupakan penerimaan yang atas penggunaanya tidak ada pembatasanya (boleh digunakan untuk apa saja ). Sumber dana diperoleh dari kolekte. Aktiva Bersih Terikat Sementara (ABTS) adalah dari dana papa miskin dan digunakan untuk papa miskin. Dana-dana dari kelompok, paguyuban, tim kerja, diharuskan untuk dapat dimasukkan ke ABTS kas Paroki karena dana tersebut penggunaanya hanya terbatas pada keperluan kelompok, paguyuban, tim kerja tersebut dan tidak boleh digunakan untuk pos lain ( dicontohkan bahwa Rama sekalipun tidak bisa  menggunakan dana ABTS untuk keperluan Rama membeli Hosti walaupun pos anggaran untuk beli Hosti sudah Habis).

Dengan demikian diharapkan untuk para pengelola keuangan baik itu kelompok, paguyuban, atau tim kerja supaya bisa menyerahkan uang yang dikelolanya kepada kas Paroki. Dan tidak mempunyai kekhawatiran bahwa uang yang dimasukkan di kas Paroki akan hilang atau tidak bisa / susah untuk diambil. Setelah uang dimasukkan di kas Paroki, pengambilan uang untuk kegiatan kelompok, paguyuban, atau tim kerja supaya menggunakan proposal, dan diketahui oleh Dewan Paroki supaya tidak terjadi Human Error atau penggunaan uang yang tidak pada posnya, juga  dengan maksud untuk laporan keuangan dan kegiatan Gereja Paroki  di  Keuskupan Agung Semarang.

Ditambahkan oleh Rm. Sapto Nugroho,Pr bahwa penggunaan dana papa miskin  untuk mereka yang sangat membutuhkan ( orang yang sudah tua, janda, duda, cacat, miskin  dan tidak punya penghasilan), bisa diberikan dana rutin berupa sembako dalam bentuk mingguan atau sesuai kebutuhan.

Dari penjelasan tersebut, peserta pemantapan merasa sungguh sangat berterima kasih, karena mendapat bekal yang sangat berharga dalam memahami Gereja sebagai Sakramen.  Acara berakhir pada pukul 21.15 ditutup dengan Doa dan santap malam bersama.(YF)