Mengenal Para Pahlawan Putra Gereja

Oleh: C. Dwi Atmadi

soegijapranataMenyambut Hari Pahlawan 10 November 2010, marilah kita merefleksi diri sambil mengenal para Pahlawan bangsa Indonesia yang sekaligus Putra Gereja Katolik. Dari mereka kita belajar semangat, spiritualitas dan keprihatinan- keprihatinan mereka terhadap bangsa dan negara Indonesia tercinta. Semoga dengan demikian kita lebih sadar akan tugas perutusan kita sebagai warga negara dan warga Gereja.

Perjuangan umat Katholik dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Di makam pahlawan yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, terpateri saksi sejarah betapa umat Katholik telah ambil bagian dalam perjuangan itu.Dan di antara ribuan umat Katolik yang menjadi pejuangan itu, adalah tokoh-tokoh yang perjuangannnya tak perlu diragukan lagi. Mereka itu antara lain: Mgr. Alb. Soegijapranata, IJ Kasimo, Adisutjipto, Cosmas Batubara, Slamet Riyadi, Frans Seda, Cornel Simanjuntak dll. Kini kita kemukakan sekilas 4 di antaranya:

Albertus Soegijapranoto

Bagi masyarakat Katolik, khususnya Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranoto SJ merupakan tokoh kebanggaan sekaligus inspiratif dalam hidup berkebangsaan. 100 % Katolik 100 % Indonesia merupakan slogannya yang terkenal dalam mewujudkan hidup berbangsa dan bernegara dan bergereja. Atas jasa-jasanya tersebut, negara mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional dan beliau dimakamkan di TMP Giritunggal Semarang. Beliau begitu menonjol dalam pendidikan kebangsaan yang telah dicetuskannya, yaitu kesadaran akan tradisi, keterlibatan terhadap masalah sekitar dan pembentukan rasa cinta pada bangsa dan masalah yang dihadapi mayarakat

Ignatius Joseph Kasimo

Ignatius-Joseph-KasimoIgnatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (1900-19860) adalah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia adalah juga salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai menteri selama beberapa periode setelah Indonesia merdeka. Kasimo pernah menjadi anggota Volksraad (1931-1942). Ia ikut menandatangani Petisi Soetardjo yang menginginkan kemerdekaan Hindia Belanda. Pada masa kemerdekaan awal Partai Politik Katolik Indonesdia (PPKI) yang dilarang oleh Jepang dihidupkan kembali atas gagasan Kasimo. Namanya  pun berubah menjadi Partai Katolik Republik Indonesia. Ia pernah duduk sebagai Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II tahun 1947-1949. Dalam Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjadi menteri. Dalam Agresi Militer II ia bersama menteri-menteri lainnya bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lalu ketika bisa kembali ke Jogjakarta ia memprakarsai kerja sama seluruh Partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.

Agustinus Adisutjipto

AdisutjiptoAgustinus Adisutjipto dilahirkan 3 Juli 1916 di Salatiga. Pendidikan tinggi ia tempuh di GHS (Geneeskunde Hoge School) yang merupakan Sekolah Tinggi Kedokteran. Selain itu ia lulus dari Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati. Pada tangal 15 November 1945 Adisutjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Jogjakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo. Lanud ini kemudian berganti nama menjadi Bandara Adisutjipto untuk mengenang jasa beliau sebagi Pahlawan Nasional. Pada saat Agresi Militer I, Adisutjipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Namun dalam perjalanan pulang membawa bantuan obat-obtan dari Malaya, pesawat Dakota yang ditumpanginya jatuh ditembak oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk Belanda di dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947. Ia gugur. Adisutjipto dimakamkan di pemakaman umum Kuncen. Kemudian tanggal 14 Oktober 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di desa Ngoto, Bantul. Jogjakarta. Pangkat terakhirnya adalah Marsekal Muda Anumerta.

Ignatius Slamet Rijadi

220px-Slamet_RijadiIgnatius Slamet Rijadi lahir di Solo, 26 Juli 1927. Ia baru dibaptis akhir tahun 1949, dengan baptis Ignatius di Gereja Purbayan Solo. Slamet Rijadi merasa terpanggil membela ibu pertiwi, ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia. Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 1945 ia mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang. Ia pu diburu Jepang, tetapi tidak pernah tertangkap sampai Jepang bertekuk lutut. Pada tanggal 10 Juli 1950, Letnan Kolonel Ign. Slamet Rijadi, berangkat dengan kapal Waikalo dan memimpin batalyon 352 untuk menumpas pemberontakan Kapten Andi Azis di Makasar dan pemberontakan Republik Maluku Selatan. Meski berhasil menumpas pemberontakan itu, namun ia rela gugur di medan tempur di Ambon Maluku pada tanggal 4 November 1950. (dari berbagai sumber)