Memaknai Natal dengan ikut peduli & berbagi

Oleh : Th. Endang Joko Siswanto

kkDesember menurut kata orang Jawa sering diartikan sebagai “gedhé-gédhéné”sumber karena pada bulan ini curah hujan boleh dikatakan meningkat bahkan hampir setiap hari turun hujan yang bagi manusia sungguh bermanfaat namun bisa juga menjadi bencana.

Di luar konteks di atas, apakah sebenarnya makna bulan Desember bagi sisi kehidupan umat manusia khususnya umat Kristiani. Di bulan Desember ada satu peristiwa gembira yaitu Hari Natal atau Hari Kelahiran Putra Tunggal Allah yakni Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia yang secara Internasional dirayakan pada tanggal 25 Desember.

Kelahiran Yesus memberikan nuansa bahagia bagi umat manusia karena Yesus memberikan pengharapan besar bagi umat manusia bahwa Yesus adalah penyelamat dunia seperti yang dikatakan oleh malaikat Tuhan kepada para gembala (Lukas 2:10-11) yang mengatakan “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberikan kepadamu kesuaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus Yesus di kota Daud.”

Natal bermakna besar bagi umat manusia, kegembiraan, kebahagiaan dan sukacita teramat dalam. Ibarat seorang ibu yang menantikan kelahiran anaknya selama 9 bulan mengandung dengan segala perasaan suka maupun duka. Duka pada saat kali pertama mengandung anaknya pada bulan pertama sampai dengan bulan ketiga bahkan mungkin juga sampai dengan bulan keempat, rasa mual, pusing, makan tidak terasa enak sampai sulit, tidurpun dirasakan, sedangkan sukanya karena anak adalah buah cinta kasih pasangan suami istri yang dipersatukan oleh Tuhan melalui sakramen perkawinan yang kudus. Kebahagiaan suami istri menjadi lengkap setelah anak mereka lahir. Khusus bagi sang ibu, rasa duka pada usia kandungan yang dirasakan pada awal bulan sampai dengan 3 bulan dan rasa sakit pada saat melahirkan menjadi sirna begitu melihat sang buah hati lahir dengan selamat, sehat, normal dan cakep/cantik.

Bagaimanakah sebenarnya yang dirasakan oleh Maria, Ibu Yesus yang mengandung tanpa melalui ikatan perkawinan atau dalam kondisi masih bertunangan. Bila orang awam tentu malu, tidak berani ke luar rumah karena takut dicerca, dihina dan lain sebagainya yang semuanya tidak enak dirasakan apalagi bagi orang yang mengandung/hamil karena korban perkosaan, tentu rasanya ingin mati saja daripada menanggung malu.

Namun tidak demikian bagi Maria, seorang hamba Tuhan yang taat dan suci hatinya sehingga Tuhan berkenan memilih Maria untuk menjadi Ibu yang mengandung dan melahirkan Yesus. Sungguh dirasakan tidak enak, karena Maria belum bersuami harus mengandung dan melahirkan seorang anak, namun Maria sudah siap dengan segalanya. Maria berpasrah diri seutuhnya hanya kepada Tuhan sebagai hamba yang taat kepada Tuhan seperti yang dikatakannya kepada malaikat yang diutus oleh Tuhan untuk mengabarkan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak.

Di dalam Injil Lukas 1:38 dikatakan bahwa sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu. Apa yang dialami Maria baik kita renungkan. Kepasrahan Maria kepada Tuhan dalam keadaan/situasi apapun menjadi Ibu Yesus hanya disimpan dalam hati, tanpa mengeluh dan selalu berpasrah diri dan percaya kepada Tuhan bahwa rencana Tuhan penuh kasih dan baik adanya.

Bagaimana dengan Yusuf yang menjadi tunangan Maria? Setelah Yusuf mengetahui Maria mengandung dengan diam-diam, ia berusaha meninggalkan Maria. Namun kenyataan berkata lain. Tuhan datang kepada Yusuf dengan mengutus Malaikat untuk memberitahukan kepada Yusuf perihal kandungan Maria yang sebenarnya berasal dari Roh Kudus dan meminta kepada Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan Yusufpun melakukan apa yang diperintahkan Malaikat Tuhan itu kepadanya.

Kepasrahan total yang dilakukan oleh Maria dan Yusuf dalam menyikapi perintah Tuhan, meskipun berat tetap mereka laksanakan dengan penuh keikhlasan dan sukacita. Maria dan Yusuf dipilih Tuhan sebagai perantara mewujudkan kasih Tuhan kepada umat manusia yaitu dengan memberikan putranya yang tunggal untuk menebus dosa umat manusia.

Bagaimana dengan diri kita sendiri, sudahkah kita ikut ambil bagian dalam karya kasih Tuhan kepada sesama manusia? Dalam kondisi alam di tahun 2010 ini, menyikapi bencana alam yang terjadi di bumi pertiwi kita ini yang kita ketahui melalui informasi baik dari Media elektronik maupun cetak yang memberitakan bencana tsunami di Mentawai, Erupsi Merapi dan bencana alam lainnya. Dari bencana tersebut, banyak korban berjatuhan baik yang meninggal dunia, menderita luka berat ataupun ringan, belum lagi menyisakan duka teramat yang menimbulkan trauma dalam melanjutkan kehidupan mereka.

Menyikapi hal ini, perlunya kepedulian atau uluran tangan kita yang terhindar dari bencana sebagai rasa solidaritas kepada mereka yang terkena musibah. Sudah selayaknya bagi kita rela berbagi apa saja yang dapat kita sumbangkan kepada mereka yang terkena bencana menurut kemampuan yang kita miliki.

Semoga suka cita Natal & Terang Natal membawa damai bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita dan kita mengetahui bahwa Kristus datang membawa damai sejahtera bagi kita umat Kristiani juga bagi seluruh umat manusia.***