Kristus Sang Pembaharu

V. Sri Murdowo

imagesHari berganti bulan, tahun berganti tahun, jarum jam terus bergulir mengikuti irama putaran waktu. Semua turut berjalan dan bergerak dalam koridor dan melaju bagaikan putaran roda pedati. Berputar menelusuri lintasan romantika kehidupan.

S

audari terkasih dalam Kristus, apa yang anda rasakan ketika memasuki awal tahun 2011 ini? Senang, bahagia, sedih, bingung atau cuek dan terkesan biasa-biasa saja? Okelah…semua memang terpulang pada pada diri kita masing-masing! Namun yang jelas, kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena tahun 2010 telah dapat kita lalui dengan segala pernak-perniknya, baik suka-duka, kesuksesan, kegagalan atau pengalaman spiritual lain yang kelak menjadi pelajaran hidup yang sangat berarti untuk kita semua.

Nah….penulis ingin sedikit berbagi dengan anda tentang pengalaman dan perjalanan hidup seorang ibu penjual gethuk di tengah Pasar Bunder Sragen. Lho kok? Benar ketika sibuk mem­bungkusi jajanan tradisional kesukaan keluarga ini, iseng-iseng penulis bertanya pada ibu tadi. “Mbok, kalau akhir-akhir ini ibu-ibu pada bingung karena harga cabai terus naik, yang lain juga ikut-ikutan naik. Bagaimana menurut mbok?” Tanpa menoleh, dengan ringan simbok tadi menjawab: “Ooalah jeng…lombok mundhak napa mandhap, kula nggih panggah dodol gethuk. Kula bersyukur dhateng Gusti amargi taksih saged mangan, ngopéni anak-anak slamet lan ayem. Urip mboten dienggo rekasa, kula saderma nglampahi, awit pejah gesang ndhèrèk Gusti!”

Wah hebat-hebat, tanpa penulis bayangkan sebelumnya, ternyata ibu penjual gethuk tadi benar-benar pandai mensyukuri hidup. Selama hampir dua dasawarsa setia dengan panggilan hidupnya sebagai ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Selepas suami tercinta pergi untuk selama-lamanya, ia berjuang sendirian dengan berjualan gethuk di pasar. Jika sore dan malam hari bersama ketiga anaknya, si ibu masih bekerja membuat barang-barang anyaman seperti tampah, tenggok dan lain-lain. Hasilnya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, kini setelah semua anak-anak bisa hidup mandiri, si ibu tetap saja setia dengan pekerjaannya. Semua dilakoni dengan senang hati. Baginya, rejeki sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta, manusia tak perlu saling iri, dengki atau menuntut yang berlebihan di luar jangkauan dan kemampuan kita masing-masing.

Saudara….sejatinya itulah hidup terkadang dipenuhi dengan aneka warna pertentangan atau dilema. Belajar dari kesederhanaan serta jalan hidup Tuhan kita Yesus kristus serta sikap hidup si ibu penjual gethuk, rasa-rasanya kita bisa merefleksi diri, betapa banyak pola hidup yang harus kita ubah dan kita benahi. Kelahiran Yesus benar-benar menjadi teladan, agar di tahun yang baru ini, kita bisa merubah diri kita menjadi ‘manusia baru”. Manusia yang benar-benar mampu menghayati, memahami kehendak Allah yang baik, menghayati sikap dan perilaku yang lebih dewasa, tanggap akan tuntutan dan perkembangan jaman, rela berbagi dan peduli kepada sesama kita yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Memang benar kata pepatah….”Di atas langit masih ada langit dan selebihnya tak ada kepandaian yang melebihi kuasa Allah Bapa di surga !.

SELAMAT TAHUN BARU. GOD BLESS YOU !