Rekoleksi Keluarga Muda: “Memahami Perselisihan Suami Isteri”

Paroki Sragen (LENTERA) – Tim Kerja Pendampingan Keluarga Dewan Paroki Sragen bekerja sama dengan Paguyuban Keluarga Muda Paroki Sragen, Minggu, (12/12) menyelenggarakan Rekoleksi bagi keluarga-keluarga dengan usia perkawinan s/d 15 tahun.

Disamping sebagai sarana untuk saling lebih mengenal antar para keluarga, rekoleksi tersebut bertujuan untuk merefleksikan pengalaman aktual suami isteri dalam hidup berkeluarga. Maka pada kesempatan rekoleksi kali ini mengambil tema “Memahami Perselisihan Suami Isteri” dengan menghadirkan nasrasumber dari Komisi Pendampingan Keluarga Kevikepan Surakarta (Rm Ign. Supriyatno Pr & Pasutri Didy-Cicik).

Rekoleksi diawali dengan penayangan film pendek “children see, children do” sebagai refleksi bahwa sebagian besar yang dilakukan orang tua (yg dilihat anak), juga akan dilakukan oleh anak.

Kebiasaan buruk yang dilakukan oleh orang tua yang disebabkan oleh ketidak sabaran, ketidak pedulian, kondisi relasi yg buruk antara suami isteri, dan lain-lain, sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak, namun ironisnya orang tua sering menuntut anak agar berperilaku baik tanpa menyadari bahwa kadang orang tua sendiri yang membentuk perilakun anak tersebut.

Menanggapi kondisi tersebut, nara sumber mengajak para peserta pasutri untuk mengevaluasi relasi kepasutrian mereka dengan pertanyaan refleksi tentang kebanggaan & kekecewaan terhadap pasangan­­­nya, yang kemudian didialogkan dengan pasangannya masing-masing. Dari sharing para peserta dapat disimpulkan bahwa sebenarnya banyak hal-hal yang membanggakan dan mengecewakan yang selama ini tidak dikomunikasikan dengan baik. Komunikasi yang tidak baik inilah yang seringkalli menimbulkan perbedaan suami Istri menjadi perselisihan suami isteri dan hal ini serinig kali berujung pada relasi suami isteri yang buruk.

Dalam rekoleksi ini para peserta diingatkan kembali bahwa perbedaan suami-isteri adalah sangat wajar, mengingat mereka memiliki perbedaan latar belakang keluarga, lingkungan masyarakat, pola pikir, hoby, dan lain-lain. Dan perbedaan tersebut akan sangat rentan menjadi perselisihan yang hebat bila tidak berhasil dikomunikasikan dengan baik.

Yang menjadi pertanyaan adalah Bagaimana Cara Berkomunikasi dengan Baik? Dalam sharingnya narasumber menyampaikan bahwa cara berkomunikasi yang baik memang bukan perkara yang mudah, berbagai upaya komunikasi telah mereka lakukan namun sering mengalami jalan buntu, akhirnya mereka sangat terbantu oleh salah satu komunitas pasutri yang diikutinya. Dalam komunitas tersebut (yang berkomitment: saling percaya, tidak ‘menjatuhkan’ pasangan, saling berbagi pengalaman), membuat narasumber bisa belajar banyak bagaimana cara ver­komunikasi yang baik dan tidak kalah pentingnya komunitas tersebut juga mem­buat mereka merasa tidak sendirian ketika mengalami permasalahan. Untuk itu keluarga-keluarga muda di Paroki Sragen disarankan agar membentuk/bergabung dalam komunitas/paguyuban kecil yang saling percaya, saling berbagi & saling membantu demi perkembangan relasi suami isteri yang lebih  baik.

Menanggapi pentingnya peran komunikasi keluarga tersebut maka Koordinator Paguyuban Keluarga Muda bekerjasama Tim Kerja Pendampingan Keluarga Paroki Sragen merencanakan untuk membuat kegiatan pendampingan yang bisa mendukung perbaikan dan peningkatan relasi suami isteri Keluarga Muda di Paroki Sragen.(Agst