Gereja Kehendak Allah

Oleh: Fajar Riadi Dwi Sasongko

todoslossantosBerkah Dalem……..Seringkali kita mendengar kata “perbedaan” dan ketika kita mendengar kata itu, dalam pikiran kita langsung dihadapkan pada pandangan bahwa dengan “perbedaan” maka kita tidak akan mampu menjalin kerjasama atau menjadi sahabat dalam melayani dan seringkali juga kita lebih asyik dengan mencari “persamaan” dan bergabung dengan orang-orang atau kelompok yang jelas memiliki hal-hal yang sama dengan hidup dan pandangan kita dan kita cenderung memisahkan diri atau meninggalkan bahkan melupakan hal “perbedaan” yang masih terus mungkin ada selama kita hidup….Secara tidak sadar pola seperti ini akan semakin menambah jurang pemisah buat kita dan pelayanan yang akan kita lakukan. Dengan melihat bahwa “perbedaan adalah perbedaan” , maka semakin kuatlah ketidakmampuan kita untuk menjalin persahabatan dan akhirnya muncullah perpecahan

Saudara yang terkasih dalam Kristus, kita masih ingat Firman Tuhan dalam 1 Korintus 12 : 12 – 26 tentang macam-macam karunia dan setiap karunia adalah pemberian khusus dari Allah. Dalam Kristus ada banyak karunia, namun semua karunia itu adalah satu di mata Allah dan semua karunia adalah diciptakan dengan fungsi tersendiri yang saling melengkapi. Semuanya bermuara pada satu tubuh yaitu Allah dan semua ada dalam kendalinya. Setiap anggota tubuh yang setia menjalankan fungsinya dengan baik akan berujung pada sukacita namun untuk menjadi sempurna seperti apa yang Allah kehendaki, satu anggota tubuh tidak akan mampu berfungsi sendirian karena mereka harus mau menerima fungsi dari anggota tubuh yang lain…contoh kecil “Mengapa Gereja bisa berkembang dengan pesat seperti Gereja kita Paroki Santa Maria Fatima, karena tidak semata tokoh-tokoh gereja pusat yang punya fungsi dan menjalankan fungsi tersebut, namun lingkungan dan wilayah adalah anggota tubuh lain yang terus berupaya keras menjalankan fungsinya ditempat lain untuk mendukung perkembangan gereja dan tanpa yang kecil-kecil ini mustahil Paroki Santa Perawan Maria Fatima bisa berkembang pesat seperti sekarang”……

Ilustrasi lain menyebutkan :

“”Seorang ayah meminta anak kecilnya menyingkirkan pohon kecil yang tumbang, sang anak mengeluh bahwa dia tak mungkin kuat, lalu ayah memaksa, kemudian sianak mencoba, gagal, dan kembali mengeluh, si ayah memaksa lagi, lalu sang anak mencoba lagi, lalu menyerah…si ayah berkata “anakku, sudahkah kau gunakan semua kekuatanmu?….jawab anak “Sudah!”…kata ayah “belum, kamu belum minta tolong ayah sama sekali,maka jadilah pribadi yang mudah dibantu sesame dan berdoalah agar engkau mudah dibantu Tuhan”.

Saudara yang terkasih, ilustrasi ayah dan anak ini hanya sekedar mengingat­kan kita bahwa setiap anggota tubuh Kristus butuh anggota yang lain. Ayah tidak akan mampu berjalan sendiri tanpa anak dan juga sebaliknya dan ketika anak mulai mengerjakan sesuatu sendirian, maka kesulitan akan ia alami dan saat itulah ia butuh orang lain. Allah sebenar­nya berperan sebagai ayah dan seringkali kita lebih senang mengerjakan semua sendiri tanpa melibatkan campur tangan Allah namun sampai kekuatan habis maka tujuan kita tidak akan tercapai dan saat itulah Allah akan berseru “ Kamu melupakan Aku dan tidak meminta tolong kepadaKu”, inilah saat dimana kita disadarkan bahwa sebenarnya kita telah jauh meninggalkan dan melupakan Allah dari hidup kita….Jadi satu anggota tubuh Kristus tidak bisa berkata kepada anggota tubuh yang lain “aku tidak membutuhkan engkau”.

Ilustrasi diatas juga mengingatkan kita bahwa anggota paling kecil/paling lemah justru seringkali merupakan anggota yang paling dibutuhkan dalam menjalan­kan fungsi bersama..contoh adalah seringkali kita melupakan tukang kebersihan dalam suatu kelompok/tempat tertentu, tetapi sebenarnya kita jauh lebih membutuhkan mereka disbanding siapapun, tanpa mereka, rasa nyaman tidak akan muncul, bagaimana bisa nyaman beribadah, kalo halaman gereja keliatan kotor?…lalu bagaimana mata bisa berfungsi maksimal kalo tidak ada alis diatas mata? Bukankah inilah yang paling kecil dan yang paling kita butuhkan? Dan sudah seharusnyalah untuk mereka yang kecil dan lemah inilah kita harus lebih memberikan fokus perhatian kita? Dan bukankah Tuhan Yesus juga mengatakan hal yang sama “jadilah seperti anak-anak ini, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”, sebab anak-anak sebenarnya adalah gambaran yang lemah dan kecil dan mereka harus diperlakukan secara khusus.

Gereja adalah jemaat Tuhan dan Tuhan tidak pernah melihat perbedaan karena semua baik dimata Allah. Saat ini banyak paguyuban muncul di Paroki Santa Maria Sragen, baik untuk kalangan anak sampai lansia dan itulah buah penyertaan Allah pada komitmen pelayanan kepada­Nya dan intinya adalah paguyuban ini muncul bukan untuk semakin menyatakan perbedaan umat Katolik Sragen tetapi semakin menyatakan bahwa fungsi pelayanan kepada Allah sudah berkembang dengan segala macam kreativitas dengan tujuan yang sama memuliakan Allah, tetapi ketika tiap kelompok atau paguyuban sudah menonjolkan perbedaan dan itu justru dipakai untuk bersaing dengan kelompok/ paguyuban yang lain, maka justru tujuan Gereja secara nyata tidak akan pernah terwujud.

Saudara, mari kita lihat (baca : instropeksi diri) lagi keinginan pribadi kita dan tujuan-tujuan kita memilih aktif dalam kegiatan menggereja, apakah untuk Allah, atau untuk orang lain, atau untuk rekan, atau supaya dipandang “aktif” atau untuk sebuah status tertentu?

Jika untuk Allah, mari kita tetapkan komitmen lebih dalam melayani secara bersama-sama apapun perbedaan yang ada dan di paguyuban manapun kita aktif berfungsi, tetapi jika kita memilih karena tujuan selain Allah, mari kita secara tanggung jawab, meluruskan dulu tujuan kita atau malah berhenti terlebih dahulu dari sikap hidup menggereja, dan belajar lagi tentang perutusan Allah seperti tertulis “Aku akan menjadikan kamu penjala manusia” karena jika tujuan bukan karena Allah maka bukan kita yang menjadi penjala manusia melainkan kita yang akan “memindahkan” manusia dari sukacita menuju pada konflik/perpecahan dalam anggota tubuh Kristus…marilah kita menggereja secara tulus dan memusatkan tujuan pada perutusan Allah dan bukan karena kepentingan pribadi/golongan dan tidak lagi menganggap perbedaan sebagai batu sandungan, marilah kita bersikap wajar dan mulai menghargai satu dengan yang lain untuk menuju pada tujuan Allah yang sebenarnya yaitu “Penggembalaan” umat yang sejati dan tulus” sesuai fungsi pelayanan kita masing-masing..

Akhir tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan ajakan untuk seluruh paguyuban di Paroki Santa Perawan Maria Fatima Sragen, sudah saatnya kita bersatu (mungkin sekarang sudah) tetapi mari kita tingkatkan iman dan komitmen kita, kita lakukan bersama-sama dengan tulus dan penuh tanggung jawab karena hanya dengan itulah maka tujuan paguyuban gereja akan terpenuhi dan bukan lagi memandang paguyuban muncul dari, oleh dan untuk segelintir orang saja tetapi paguyuban muncul dari, oleh dan untuk Gereja dan perutusan Allah, karena paguyuban-paguyuban yang ada bukan milik golongan manapun tetapi milik gereja dan Allah.

Mari kita perkuat persatuan antar paguyuban untuk bersama-sama berfungsi menuju pada tujuan Allah yang mulia yaitu “Menggembalakan umat Allah dalam kehidupan menggereja”…..Tuhan memberkati !***