Semangat Baru Kelompok Koor Cisilia Sragen

imagesSumengko (LENTERA) – Di hari Kasih Sayang, Senin (14/02) seluruh anggota Koor Cisilia sebanyak 25 personal sepakat membangun semangat baru. Hal ini terungkap dalam pertemuan rutin Kelompok Koor Cisilia, Senin (14/02) bertempat di rumah Bp. P.Suharso, Sumengko, Sragen Tengah. Agenda Rapat rutin ini membahas komitmen dan eksistensi kelompok kategorial, Cisilia.

Kelompok Paduan Suara Cisilia yang berdiri 2 Nopember 1993 dan dideklarasikan oleh Romo Paroki Sragen saat itu, yaitu Romo Sutrasno dan Kelompok Koor Cisilia ini kini semakin dewasa. Pencitraan ini terjadi bukan tanpa sebab, nanum melalui proses yang diterpa oleh berbagai friksi. Ibarat manusia, untuk menjadi semakin dewasa harus berhadapan dengan berbagai masalah. Tanpa ada tantangan tak mungkin bisa menjadi dewasa, karena dalam mengatasi tantangan itu berarti terjadi proses pembelajaran berharga.

Kelompok Koor Cisilia memang sempat sedikit lesu, menyusul beberapa anggota Cisilia menyeberang bergabung di kelompok Koor lain. Komunikasi kekeluargaan di tubuh Cisilia berdampak menjadi kurang harmonis. Namun itu semua terjadi hanya karena ada kesalahpahaman di antara anggotanya. Dan kini, semua pihak telah clear setelah diadakan rekonsiliasi yang diprakarsai oleh P.Suharso, sebagai pembina.

Organisasi ini menjadi besar dan kuat karena pintar dalam menyikapi permasalahan yang ada. Luka-luka batin dibuang jauh dengan cara mengedepankan kerendahan hati dengan membangun kerelaannya untuk saling mengampuni. Harapannya, semoga diilhami oleh semangat hari Valentine yang penuh cinta, Cisilia menjadi berkah bagi yang lain sehingga sungguh membanggakan karena penuh rasa gembira dan syukur bahwa Cisilia menjadi terang.

Dalam komitmen yang disepakati bersama bahwa Cisilia tak melarang bila anggotanya  membantu kelompok lain. “Hanya sebatas membantu karena tak mungkin seseorang bisa mengabdi pada dua induk”,kata pak Atmadi. Karena konteksnya sebatas membantu, sehingga apabila ada tugas pelayanan dalam waktu yang bersamaan, maka yang lebih diutamakan adalah Cisilia.

Dalam kiprahnya Cisilia menolak anggapan berorientasi pada mencari keuntungan (profit oriented). Tidak benar bahwa Cisilia dalam pelayanannya memasang tarif besaran rupiah. Hal ini untuk menghilangkan kesan bahwa menikah di gereja itu mahal. Tapi bolehlah sekedar ucapan terima kasih untuk mengisi kas. “Sekalipun tidak bisa mengisi kas karena keadaan saudara yang menggunakan jasa kor Cisilia sangat terbatas, itu tidak menjadi soal”, tutur bapak P.Suharso bersungguh-sungguh.(Andre AS)