Misa Rabu Abu: Bertobatlah Dari Lubuk Hatimu Yang Terdalam

abuParoki Sragen (LENTERA) –  Masa prapaskah yang diawali dengan Misa Rabu Abu dilaksanakan di Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen, Selasa (08/03) pukul 16.30 WIB. Misa dipimpin oleh Romo Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr  dengan petugas Liturgi PS. Shimponi Gratia & Padua Bikers.

Pada Misa Rabu Abu ini, umat yang hadir diberi tanda salib abu di dahi sebagai simbol prosesi ini yang merupakan  tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan. Pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.”.

Dalam homilinya, Romo Issri mengungkapkan bahwa  masa prapaskah menjadi kesempatan untuk mengenangkan rahmat pembaptisan yang telah kita terima. Dalam pembaptisan kita meyakini bahwa segala dosa kita dihapus melalui karya penebusan-Nya. Kita diangkat menjadi anak-anak Allah sehingga kita sanggup menjadi umat Allah yang kudus, akan tetapi kita sadari bahwa kekudusan yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Disinilah makna masa prapaskah sebagai masa pencucian diri untuk menjadi umat Allah yang kudus seperti saat kita menerima baptis. Pencucian diri ini kita jalani dengan puasa, bersedekah dan berdoa.

Berpuasa bagi umat Kristiani memiliki kepentingan religius yang sangat mendalam, kita belajar mengalahkan keserakahan dan memupuk hidup atas dasar anugerah dan cinta. Membuka diri kita terhadap Allah dan kebutuhan sesama.

Bersedekah. Nafsu serakah untuk memiliki bisa menyeret kita ke kekerasan, eksploitasi dan kematian. Maka bersedekah, khususnya di masa prapaskah menjadi pengingat bahwa kita pun memiliki kemampuan untuk berbagi. Tidak mungkin kita dapat memahami kebaikan Allah, apabila hati kita dipenuhi dengan egoisme dan kepentingan-kepentingan diri kita sendiri, sambil menipu diri kita sendiri bahwa masa depan kita terjamin. Bersedekah mengingatkan kita kepada kedaulatan Tuhan dan mengarahkan perhatian kepada sesama.

Berdoa dengan merenungkan dan membatinkan sabda Tuhan agar dapat menghayati setiap hari, kita diberi kesempatan mempelajari suatu bentuk doa yang sangat berharga dan tak tergantikan yakni dengan penuh perhtaianb mendengarkan allah, yang senantiasa berbicara kepada hati. Berdoa juga mengajar kita untuk mendapatkan pemahaman baru tentang waktu. Apabila kita berdoa, kita menemukan waktu bagi Allah.

Maka sangatlah bermanfaat jika dalam masa prapaskah kita meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup doa kita. Pertobatan yang kita jalani haruslah menghasilkan buah-buah pertobatan yang nyata. Buah-buah pertobatan itu kita upayakan dengan membebaskan dari berbagai macam belenggu dosa mulai dari langkah-langkah sederhana dan kecil, keluar dari kemalasan, mengendalikan emosi, bersikap lepas bebas terhadap harta milik. Pembebasan yang dibimbing oleh Roh Kudus pastilah mengarahkan langkah setiap orang menuju pada pembebasan sejati dari kuasa dosa dan maut yang dasarnya adalah kebangkitan Kristus. Marilah kita konkretkan pertobatan kita dengan menampakkan buah-buahnya.

Selain dilaksanakan Selasa sore, Misa Rabu Abu di Gereja Paroki Sragen  juga diadakan pada Rabu pagi (09/03) jam 05.15 WIB. Misa Rabu Abu juga diadakan di daerah-daerah: Selasa (08/03): jam 16.00 WIB di Kapel Gondang dan jam 19.00 WIB di Kapel Jenawi. Sedangkan hari Rabu (09/03) jam 16.00 WIB di Kapel Tangen dan jam 16.30 WIB di Gereja Wilayah Sidoharjo, Sragen.(dn)