Retret Agung “Per Mariam Ad Iesum.”

Saudari-saudaraku terkasih dalam Tuhan,

RETRETMengakhiri Surat Gembala Prapaskah 2011 Keuskupan Agung Semarang  saya menyampaikan ajakan saya,  “Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Iesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia,  kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.”

Yang diharapkan terjadi selama 40 hari itu saya utarakan, “Dalam waktu 40 hari masa Pra-Paska, dengan berdoa dan berpuasa, kita masuk ke dalam misteri hidup, sengsara dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, pokok keselamatan dan andalan hidup kita. Di dalam misteri Kristus  kita tenggelamkan hidup kita dengan segala dimensinya, dalam realitas konkrit, dalam jaringan relasi segala arah. Dengan kekuatan Roh Kudus yang kita sadari bekerja dalam diri kita, kita akan menjadi semakin siap untuk menjadikan hidup kita  berkat bagi yang lain, terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.”

Melalui media ini saya tawarkan cara sederhana, agar retret agung tersebut dapat dilakukan di tengah kesibukan kerja yang padat. Tentu sangat berguna menyisihkan waktu untuk berdoa hening dalam hari-hari kehidupan kita. 24 jam sehari, 7 hari seminggu telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dan agar keseimbangan hidup terjadi ada satu hari Tuhan, “Dies Dominica”, yang kita khususkan untuk Tuhan. Kenyataannya, di antara pekerjaan-pekerjaan kita ada waktu untuk hening tersebut. yang kita luangkan untuk  Tuhan. Dalam bahasa Latin biasa disebut “vacare Deo”.

Selama retret ini kita didampingi, dan diantar oleh Maria agar semakin dekat mengikuti Yesus, semakin dalam mengenal-Nya, dan semakin mesra mencintai-Nya dengan berdoa ROSARIO.  Sebut saja retret jenis ini dengan nama “RETRET AGUNG PERMARIAM AD JESUM”.   Sambil mendaraskan rosario, kita renungkan peristiwa-peristiwa hidup, sengsara dan kebangkitan Tuhan: Peristiwa Gembira, Peristiwa Terang, Peristiwa Sedih, dan Peristiwa Mulia.

Sepanjang hidup kita pun kita alami peristiwa-peristiwa serupa. Dalam meditasi tentang peristiwa-peristiwa hidup kita, kita dapat menemukan, mengakui, melukiskan peristiwa-peristiwa tersebut dengan penuh syukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Lukisan peristiwa-peristiwa hidup dapat dikembangkan menurut cara seorang wartawan melengkapi berita, dengan menjawab WHAT ?, WHO?,  WHEN?,  WHERE?  WHY?, HOW?.

Langkah-langkah:

PERSIAPAN:

1.    Hadirlah pada perayaan Ekaristi hari Sabtu/Minggu menjelang Rabu Abu. Dengarkan baik-baik Surat Gembala Pra-Paska yang ditulis untuk mengantar umat memasuki masa persiapan merayakan Paska Kristus. Biasanya Uskup diosesan menulis Surat Gembala Pra-Paska yang dibacakan bagi umat.

2.    Hari-hari berikutnya menjelang Rabu Abu digunakan untuk mempersiapkan diri, agar hati terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus untuk melaksanakan retret ini.

3.    Siapkan beberapa perlengkapan untuk retret, misalnya: Kitab Suci, Rosario, Buku untuk membuat Catatan Harian Retret Agung Per Mariam Ad Iesum, alat tulis, dll.

4.    Hadirlah pada perayaan Ekaristi Rabu Abu, untuk menerima abu, tanda pengingat bahwa kita  manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

PELAKSANAAN:

1.    40 hari Retret Agung Per Mariam Ad Iesum kita isi dengan doa ROSARIO, sambil merenungkan peristiwa Yesus dan peristiwa kita dalam dua hari, secara berkelanjutan sampai selesai. Satu peristiwa direnungkan dalam dua hari, dengan membanding-bandingkan peristiwa Yesus dan peristiwa kita. Dua hari pertama dimulai dengan renungan peristiwa gembira 1. a. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38), yang dibandingkan dengan renungan peristiwa gembira kita 1. b. Ibu saya menerima kabar gembira bahwa saya dikandungnya, misalnya. Begitu seterusnya sampai 20 peristiwa Yesus dan peristiwa kita selesai direnungkan selama 40 hari

2.    Renungan dimulai dengan doa singkat untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan, dan mohon rahmat agar dapat merenungkan bahan retret dengan baik.

3.    Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

a.    Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita.

b.    Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita.

c.    Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem  Gusti” dalam kehidupan kita.

4.    Bahan renungan: peristiwa-peristiwa dalam doa rosario dan peristiwa hidup kita: Peristiwa Gembira; Peristiwa Terang; Peristiwa Sedih; Peristiwa Mulia (Lihat. http://id.wikipedia.org/wiki/Doa_Rosario)

5.    Catatlah butir-butir renungan dalam Catatan Harian Retret Agung Per Mariam Ad Iesum. Akan sangat bermakna bagi pengembangan hidup rohani, bila buah renungan tersebut dapat di-sharing-kan dengan teman/sahabat kepercayaan.

6.    Hadirilah pertemuan-pertemuan pendalaman iman umat selama masa Pra-Paska. Barangkali bila ada pertemuan pendalaman iman umat lingkungan, buah-buah renungan tersebut dapat di-sharing-kan pula sesuai situasi dan kondisi.

Silakan menggunakan waktu retret agung selama 40 hari untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 5 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang