Kethoprak Sengsara Yesus di Gereja Paroki Sragen

Kamis Putih_60Paroki Sragen (LENTERA) – Setelah satu tahun tidak ada visualisasi jalan salib, akhirnya Paroki Sragen kembali memvisualisasikan jalan salib dalam bentuk kesenian Tradisional Kethoprak, Jumat (22/04)  bertempat di Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen. Pemeran Kethoprak hingga penabuh gamelan yang mengiringi semua dimainkan oleh OMK Sragen

Visualisasi jalan salib ini dilaksanakan jam 09.00 pagi di luar ibadat Jumat Agung.  Berbeda dengan jalan salib pada umumnya, disini unsur Kejawennya sangat kental, mulai dari bahasa, pakaian, musik, logat. Kesenian ini dikemas dengan tradisional budaya sebagai dasar untuk ”Nguri- uri budaya jawi” atau melestarikan budaya jawa terlebih karena dengan konsep jawa umat lebih bisa mengerti, apalagi umat yang sepuh,

Jika tahun lalu pementasan kethoprak di atas panggung, kali ini dipentaskan mengitari halaman gereja paroki Sragen dan umat bisa mengikuti dan melihat lebih dekat tiap adegan, sehingga umat bisa merasakan langsung peristiwa sengsara Yesus. Banyak umat yang antusias mengikuti jalan salib ini, dari yang muda hingga para eyang, bahkan beliau Rm. Issri melibatkan diri pada musik untuk mengalunkan suara merdu dari suling yang beliau tiup. Makna yang bisa diambil dari visualisasi jalan salib banyak dirasakan oleh umat paroki Sragen bahkan para pemain juga merasakan itu. Banyak umat yang terbawa emosinya tidak ada rasa canggung sama sekali,walaupun ada juga yang hanya dalam hati. Rasa-rasa yang lebih dalam lagi juga ada seperti yang dikatakan salah satu umat “Sudah sangat diperhitungkan antara memberi dan membalas

Persiapan kethoprak ini lumayan matang setelah kurang lebih berdinamika selama 2 bulan untuk berlatih bersama. Banyak perasaan yang timbul dari setiap latihan, dari rasa anyel, bosan, senang, bahagia. Karena karakter tiap pribadi yang berbeda ini, mereka bisa menjadi satu dan sangat dekat. Banyak spritualitas yang rekan rekan Muda dapatkan dari dinamika kelompok selama 2 bulan ini seperti rasa bisa menghargai teman, karena saat latihan pasti diawali dengan meditasi, karena dengan meditasi tersebut rekan muda diajari untuk mengolah batin untuk bisa merasakan perasaan perasaan dalam diri setiap pribadi.

Ada juga rasa ketaatan, ini bisa terwujud karena kita diajak untuk menghargai waktu dan tanggung jawab seperti pada waktu latihan harus on time tidak ada budaya molor. Dekat secara pribadi, ini yang paling terlihat pada rekan muda setelah berdinamika bersama. Ada satu kalimat yang membuat rekan muda selalu optimis dalam berdinamika bersama yaitu “ Pitados Hyang Roh Suci”

Dalam artian Yesus rela mengorbankan nyawanya untuk disalib baru orang orang menerima keberadaan Yesus” rasa seperti itu pada saat ini juga sering kita alami setiap hari. Di sini kita juga bisa mendalami banyak karakter dari tokoh-tokoh jalan salib seperti Yesus yang digambarkan sebagai orang desa yang bekerja sebagai petani. Umat bisa merasakan sosok Yesus seperti orang yang berada di kehidupan sekitar kita, disini umat emosinya lebih bisa masuk dan bisa merasakan langsung penderitaan Yesus, tapi bukan berarti pula hanya penderitaan Yesus saja, yang dirasakan ada juga yang merasakan kasih sayang Maria terhadap Yesus, atau Veronika yang berani menerobos barisan para prajurit hanya untuk menyeka wajah Yesus, atau Pilatus yang memutuskan suatu keputusan karena takut kekuasaannya jatuh karena desakan para orang orang Yahudi dan imam-imam agung, atau Petrus murid Yesus yang menyebut Yesus sebagai Mesias tapi pada waktu Yesus ditangkap dia menyangkal Yesus. Banyak pemaknaan dapat diambil pada jalan salib Kisah Sengsara Yesus.

Renungan singkat:
Pitados Hyang Roh Suci
Dari tradisi menjadi opsi, itulah yang menjadi dasar pemikiran perubahan bentuk visualisasi Ketoprak Jalan Salib, dari yang berbentuk Jalan Salib Romawi beserta atribut-atributnya, menjadi kethoprak yang sangat kental dengan tradisi Jawa. Ide awal kethoprak ini adalah bahwa Yesus yang kita kenal adalah Yesus yang menyejarah, artinya Yesus yang bukan hanya hidup pada masa lalu tetapi juga hidup pada masa sekarang, dan hidup pada suatu tatanan budaya, sosial, politik yang benar benar riil kita hadapi. Jika Yesus hidup di jaman sekarang dan menyejarah artinya Yesus bagi orang Katolik Sragen adalah bukan hanya anak seorang tukang kayu saja, melainkan dia juga seorang petani yang tahu persis bagaimana jatuh bangun hidup sebagai seorang petani. Inilah yang ingin ditonjolkan dari sebuah visualisasi yang dibuat oleh rekan-rekan muda Katolik Sragen.

Kethoprak Jalan Salib ini dibuat berdasar pada Injil Yohanes. Mengapa menggunakan Injil Yohanes sebagai dasar spiritualitasnya? Alasannya, Injil Yohanes lebih menekankan suatu kepasrahan Yesus yang tanpa tawar-menawar berani berkata “Ya” pada penderitaan Jalan Salib. Bukan dalam wujud Putra Allah yang maha kuasa melainkan dalam wujud manusia yang lemah dan rapuh, Yesus menebus manusia. Perasaan sakit karena mengalami penyiksaan yang keji, perasaan sedih ketika murid-murid-Nya meninggalkan diri-Nya, perasaan haru ketika bertemu dengan Ibu-Nya dan wanita-wanita yang menangis melihat penyiksaan diri-Nya, adalah perasaan-perasaan manusiawi Yesus sebagai manusia. Yang menarik dalam Injil Yohanes adalah Yesus tidak mendapat bantuan dari Simon dari Kirene dalam memanggul salib. Keagungan jalan salib ingin diperlihatkan secara nyata dalam sosok Yesus yang menderita dan pasrah kepada kehendak Allah, inilah alasan mengapa Yesus tidak dibantu oleh Simon dari Kirene.

Refleksi yang lebih dalam Injil Yohanes adalah bagaimana kita juga harus menanggung salib kita masing-masing dengan berani hidup sebagai seorang Katolik yang taat sampai mati, tanpa tergoda iming- iming kekuasaan, harta benda, dan kenikmatan perut semata. Yesus ingin mengajarkan bahwa jikalau diri-Nya taat mati, kita sebagai orang Katolik juga harus taat sampai mati.
Ketaatan pada masa sekarang adalah hal yang sangat langka ditemukan di dalam dunia. Banyak tawaran dunia jaman sekarang yang membuat orang jauh dari ketaatan. Pilatus yang karena takut kehilangan kekuasaan, harta duniawi tidak mengikuti kata hatinya tetapi mengikuti desakan orang-orang Farisi dan Imam-imam Agung untuk menyalibkan Yesus. Kita mungkin seperti seorang Pilatus, yang karena ingin mendapatkan kekuasaan dan posisi yang tinggi, berani menanggalkan Kekatolikan kita dan menerima tawaran yang lebih menguntungkan dari pada menjadi seorang Katolik.

Contoh lain, bagaimana seorang yang rela mengganti tulisan Katolik dalam KTPnya karena alasan jodoh. Atau mungkin, kita hanya menjadi seorang Katolik sebatas KTP saja, yang beban moral dan dosanya lebih sedikit dari pada yang dicontohkan di atas. Masih banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan terlalu mudahnya tawaran-tawaran dunia menggerus dan menggerogoti ketaatan.
Yesus memberi contoh keteladanan ketaatan yang sangat ideal. Jika kita menyatakan diri sebagai seorang Katolik, tentunya ketika bertindak dan berbuat harus mewujudkan Kristus yang hadir dalam sikap penuh kasih, rela mengampuni sesama, mempunyai rasa kepedulian yang tinggi, sabar, rela berbagi, dan murah hati, bahkan murah senyum, sehingga kita pantas menyadang gelar sebagai “Orang Katolik Sejati. (Tandra)