Yesus Kristus Berada Di Tengah–tengah

Oleh: D. Soepardi

crucifixion-mantegnaSesudah 7 minggu berturut-turut kita berbicara tentang sengsara Kristus, kini kita masuk acara puncak, yaitu peristiwa wafatNya di atas kayu salib di Golgota. Sebelum peristiwa ini berlaku, jauh sebelum saat hari sengsara yang sebenarnya, Tuhan Yesus telah menyatakan hal itu kepada para muridNya. Kepada Nikodemus Yesus telah dahulu berkata: ”Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan ”(disalibkan).

Kepada murid-murid-Nya tiga kali berturut-turut Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi ke Yerusalem untuk ditangkap,disalibkan, mati dan dikubur­kan,tetapi pada hari yang ketiga akan bangkit kembali. Kisah sengsara dan kematian di atas salib bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi,yang tidak diketahui lebih dahulu.oleh semua orang, hal ini menjadi kenyataan di atas bukit Golgota disaksikan oleh semua orang pada waktu itu. Usaha para ahli taurat dan orang Farisi  mengintai Tuhan Yesus untuk membunuh­Nya tanpa diketahui orang banyak. Maka mereka merencanakan suatu pembunuhan gelap seperti yang biasa terjadi pada zaman kita, yaitu orangnya tiba-tiba diculik dan di -”aman -”kan, tanpa diketahui siapa   pembunuhnya.

Tetapi orang –orang yang disertai tugas itu selalu berubah hatinya kalau memandang Yesus. Mereka menjadi kagum akan keagungan yang nyata dalam pe­ngajaran dan mukjizat-mukjizat-Nya, dan timbul rasa hormat yang luar biasa di hati mereka terhadap Yesus. Mereka pulang melaporkan: ”Belum pernah kami melihat orang seperti itu: penuh dengan hikmat dan kuasa”.

Demikianlah rencana para imam dan orang Farisi itu tidak pernah tercapai. Yesus memang harus dibunuh juga untuk penyelamatan manusia, tetapi hal itu tidak boleh terjadi di belakang-belakang secara sembunyi-sembunyi. Ia harus ditangkap secara resmi,dan diadili secara resmi pula. Kebenaran dan kesucian Yesus harus diakui dan diumumkan secara resmi oleh hakim dan pemerintah yang sah waktu itu, kemudian baru diserahkan untuk disalib­kan.Ia akan diarak oleh suatu rombongan orang banyak ke tempat Yesus akan dibunuh. Di sana Yesus harus ditinggikan di atas kayu salib, supaya semua mata dapat memandang kepada-Nya.

Demikianlah yang sudah terjadi, seperti bunyi nas: ”Dan disitu Ia disalib­kan mereka dan bersama-sama dengan Yesus juga dua orang lain, sebelah menyebelah, Yesus di tengah-tengah. Di situ Ia disalibkan! Di situ! Di atas bukit Golgota. Begitu penting peristiwa itu, sehingga hal itu tidak boleh terjadi secara rahasia dan bersembunyi. Keselamatan manusia ter­gantung seluruhnya pada penyaliban itu, oleh karena itu Yesus harus dapat dipandang dan disaksikan oleh banyak orang.

Cobalah mari kita perhatikan kata-kata ini: ” …dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah menyebelah.” Artinya ada suatu hal yang mau dikatakan kepada kita di sini, yaitu Yesus di atas salib-Nya dikelilingi saksi-saksi. Salib-Nya tidak berdiri sunyi dan sendirian, tetapi didampingi pula oleh dua saksi terdekat. Mereka dari jarak yang sangat dekat dapat menyaksikan segala sesuatu yang diderita Yesus, dan sejak saat Yesus dinaikkan ke atas salib sampai Ia berseru menyerahkan RohNya.

Bukanlah perkara kebetulan, bahwa kedua orang itu di atas salibnya masing-masing tidak mati mendahului Yesus. Keduanya sebagai saksi, bertahan sampai Yesus selesai menghembuskan napas peng­habisan. Sesudah itu barulah mereka mati dengan jalan dipatahkan kaki-kakinya oleh para prajurit. Itulah peristiwa yang terbesar dalam alam semesta. Itulah saat yang sangat menentukan,yang sudah lama di nanti-nanti.

Segala malaekat ikut menundukkan kepala, melihat kepala Anak Allah terkulai di atas dada-Nya. Di sanalah pada salib itu, segala tawanan terlepas.Di sanalah hutang dosa manusia terbayar lunas dengan darah Kristus yang mulia. Demikianlah, di atas bukit Golgota Yesus Kristus menjadi suatu ”tontonan” karena segala mata memandang kepada-Nya. Tetapi apakah semua orang yang memandang itu selamat? Tidak.

Berdirinya salib Kristus di tengah-tengah mempunyai pula arti yang lain. Salib Kristus berdiri di tengah-tengah untuk membagi manusia atas dua bagian.Yesus memisahkan mereka  yang diselamatkan karena percaya, dan mereka yang tidak dapat diselamatkan karena tidak percaya.

Hal ini berarti pula bahwa : Pertama yang menuju hidup yang kekal, dan yang Kedua: yang menuju kebinasaan. Mari kita lihat: Orang yang sebelah kiri dipisahkan dari yang sebelah kanan oleh salib Yesus yang tegak berdiri di tengah-tengah.Yang sebelah kiri menuju maut yang kekal, karena ketidak-percayaan.Yang sebelah kanan menuju Firdaus, karena kepercayaannya.

Salib Kristus adalah suatu fakta keselamatan bagi kita, suatu realita walau­pun kita masih berpijak di atas bumi ini. Berita salib menjadi tanda keselamatan bagi kita,karena Kristus mau menyelamat­kan kita dengan darah-Nya yang suci. Tetapi keselamatan itu tidak akan menjadi milik kita, kalau kita sendiri dengan penuh kesadaran menolaknya. Lihatlah sekali lagi kepada orang yang di sebelah kiri salib.Begitu dekat ia dengan Kristus. Semua ucapan Tuhan Yesus didengarkan­nya. Setiap tetesan darah dari tubuh yang suci itu dilihatnya denga mata kepalanya sendiri.

Namun demikian, karena tidak percaya ia tidak memperoleh keselamatan. Tetapi orang yang di sebelah kanan Yesus, dengan jarak yang sama dengan kawannya, diselamatkan karena ia percaya. Dan sesudah kita diselamat­kan, tugas kita adalah menjadi saksi pula. Artinya kita/saudara dan saya harus menempatkan salib Yesus di tengah-tengah dunia, sehingga mau tidak mau umat manusia menentukan sikap: menolak atau menerima Dia.

Kita akan  merasa sangat ber­bahagia, karena banyak saudara sesama kita akan datang berdiri di pihak kita dan menikmati keselamatan itu bersama-sama,walaupun tidak dapat disangkal, bahwa ada orang yang pergi berdiri di pihak sana untuk tenggelam dan hilang se-lama-lamanya, Salib Kristus harus tetap berdiri di tengah-tengah. Dan nasib manusia ditentukan oleh kenyataan itu. Amin.***