Penutupan Bulan Katekese Liturgi

kedawungKedawung (LENTERA) – Terinspirasi oleh lawatan Maria yang hamil muda ke rumah saudaranya, Elisabeth yang hamil enam bulan, yang mana dalam perjumpaannya itu mereka mendapat kabar gembira dari malaikat Gabriel. Janin yang dikandung dalam rahim Elisabeth yang kemudian diberi nama Yohanes bergejolak. Perjumpaannya dengan Yesus yang dikaruniai Roh Kudus itulah mengilhami anggota Pasamuan Katolik, hingga kini dikenal sebagai devosi. Demikian Romo Jati mengawali homilinya di acara misa penutupan Bulan Katekese Liturgi yang digelar Senin (29/5) di pelataran Gua Maria Kapel Santo Yohanes Rasul Kedawung.

Sejak dibangunnya Gua Maria tahun 1997, tempat tersebut ramai dikunjungi umat, baik dari Wilayah Santo Yohanes Rasul Kedawung sendiri, paroki bahkan ada yang datang dari luar paroki Sragen, seperti Mojosongo, Salatiga, dsb. Bahkan yang lebih menarik, ada warga yang mengaku bukan Katolik ikut serta berdevosi.  Menurut seseorang yang enggan disebut namanya, bahwa Bunda Maria adalah ibu Siti Maryam, ibu Isa Almasih orang yang bersih dari dosa (Immaculatis Cordis) karena dipilih Allah, wajib diminta mendoakan.

Romo Jati menuturkan, motivasi umat di Gua Maria malam itu “bersama Maria kita ngalap berkah” jangan sampai menjadi sesuatu yang tidak benar, menggeser Tuhan Yesus Kristus dengan memposisikan Bunda Maria sebagai “pengantara”. Sebab satu-satunya “perantara” tidak lain hanyalah Tuhan Yesus Kristus (baca buku Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi 2011). Bukan Bunda Maria yang mengabulkan permohonan, fungsi Sang Bunda menyampaikan doa melalui perantara putera-Nya, Yesus Kristus kepada Allah Bapa di Surga. Peran Maria, sebagai orang terdekat dengan Yesus, ia bisa mendatangkan-Nya.

Pada awalnya Maria tak percaya, namun akhirnya ia bisa menerimanya sebagai hamba Tuhan. Tindakan Maria mengunjungi Elisabeth itu menyenangkan. Keteladanan tersebut membangun sikap yang membudaya bagi jemaat karena bisa merubah sikap orang lain, meneguhkan, solidaritas, merasa orang lain didukung, dikuatkan, serta membuat orang lain tidak patah hati (optimistis).

Hari Bunda Maria mengunjungi Elisabeth yang diperingati setiap 31 Mei diharapkan mengandung motivasi, untuk membuktikan bahwa yang dikatakan Malaikat Gabriel memang benar adanya. Kedekatan jemaat kepada Bunda Maria menjadi barometer kecintaan umat kepada sesamanya di tengah masyarakat yang majemuk.

Antusiasisme umat mengikuti misa penutupan Bulan Katekese Liturgi di Gua Maria Kapel Kedawung ini ditunjang oleh pengumuman yang dilansir pada Misa Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen minggu sebelumnya. Hal inilah yang memungkinkan umat dari wilayah Jenawi datang satu bus. Lebih dari dua ratus umat tumplek bleg di pelataran Gua Maria Kedawung. “Dua ratus lembar teks misa habis terjual, bahkan masih ditambah beberapa lembar foto kopi, lagi-lagi masih kurang, “ demikian tutur Ketua Wilayah Kedawung, Bp.  C. Noer Soejadi kepada Lentera selepas misa.

Suasana misa hangat, mesra, lantaran Romo Djati suka memunculkan joke-joke khasnya yang komunikatif. Misa terbuka beratapkan langit yang dihiasi bintang-bintang bertaburan itu umatnya duduk bersila di atas tikar dengan bebas. Di seberang sana, di jalan raya, lima personal keamanan (polisi, Red.) membantu petugas keamanan dan parkir kaum muda wilayah dan lingkungan Santo Petrus Margoasri. Pelaksanaan misa.itu tenang dan damailah hingga berakhir dengan ritus perutusan. (Andre AS)