Misa Novena V Gua Maria Ngrawoh: “Sesarengan Ibu Mariyah Nampi Hyang Roh Suci Ingkang Ngenggalaken Gesang”

247142_1854497354414_1000220680_31653968_4580659_nNgrawoh, Sragen (LENTERA) – Bawa sekar Pocung” yang disusul dengan lagu “Ladrang Ibu Pertiwi”  mengalami proses Ekaristi Novena V di Gua Maria Fatima Ngrawoh, Malem Jum’at Wage, 9 Juni 2011. Pada kesempatan kali ini Wilayah Sidoarjo “didhapuk” menjadi petugas liturgi dan koor. Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih menarik lagi, ternyata gema keberadaan Gua Maria Fatima Ngrawoh mulai dirasakan. Buktinya semakin banyak umat dari luar wilayah St. Maria Fatima Sragen yang turut menghadiri Ekaristi, seperti dari Paroki Ngawi, Ponorogo, Madiun, Kleco, Palur dan lainnya.

Ekaristi. Novena V ini, dipimpin oleh Rm. Agustinus Supriyadi, Pr. Romo ini merupakan Romo yang berasal dari Lingkungan St. Dionisius Ngrawoh. Putra daerah, begitu singkatnya. Jelas itu semua menjadi kegembiraan, keharuan dan syukur tersendiri yang bercampur menjadi satu. Rm. Agustinus Supriyadi sangat bersemangat memberikan dukungannya untuk keberadaan tempat doa ini. Umat pun begitu antusias menanggapi karena Rm. Agustinus Supriyadi juga sangat menarik dalam memberikan kotbahnya, berkobar-kobar, jelas dan mendalam. Yah….inilah karya Roh Kudus yang sungguh bisa dirasakan

Berbeda dengan suasana Ekaristi pada umumnya, Wilayah Sidoarjo menyuguhkan kemasan “Jawa” dalam seluruh perjalanan ekaristi. Hal ini tampak dari nuansa “macapatan” yang kental dirasakan. Mazmur tanggapan dikemas dalam macapatan. Bahkan Injilpun dilantunkan dengan Mijil. Sungguh rasa syahdu dan mendukung doa dapat dirasakan pada malam itu .

Tidak mau kalah, ketika membuka kotbahnya, Rm. Agustinus Supriyadi langsung berperan menjadi Dalang dalam pergelaran wayang kulit, yaitu Limbukan. Selanjutnya Romo mengajak umat untuk memahami makna dari tema yang direnungkan pada novena kali ini. “Sesarengan Ibu Mariyah, Nampi Hyang Roh Suci ingkang Ngenggalaken Gesang”. Pokok dari permenungan adalah bagaimana kita semua mampu bersama Maria menerima karunia Roh Kudus yang dapat mendayai hidup kita sehari-hari sehingga semakin mendalam dan berdaya guna.

Pertama-tama, Rm. Agustinus Supriyadi mengatakan bahwa banyak orang bisa mengetahui situasi hidup yang dialami dan terjadi. Namun demikian, tidak banyak orang  yang secara sungguh-sungguh mampu merasakan semua peristiwa itu (isa krasa ning ora isa ngrasakake). Bahkan tidak jarang yang terjadi justru “rumongsa isa ning ora isa ngrumangsani”. Kadang kala kita sering merasa orang yang paling kuat, paling bisa dan bahkan paling benar. Akibatnya tidak jarang kita melupakan dan bahkan memperlakukan orang lain secara tidak manusiawi karena keakuan itu. Padahal dalam banyak hal kita mestinya sadar bahwa kita mengalami banyak keterbatasan dalam hidup.

Kemampuan untuk “ngrumangsani” (sadar akan banyak keterbatasan dan dan kekurangan) menuntun orang untuk bersikap lebih rendah hati. Hal ini jelas berbalikan dengan sikap keakuan, keangkuhan, sok merasa benar atau suci dan bahkan kesombongan diri. Padahal, prasyarat dasar untuk mampu mendapatkan anugerah hidup apalagi Roh Kudus adalah sikap rendah hati ini. Bagaimana kita mampu membangun sikap “ngrumangsani” (kerendahan hati) ini dalam kehidupan sehari-hari?

Kehadiran Bunda Maria yang sungguh-sungguh rendah hati dalam kehidupan iman kita, menjadi bukti dan inspirasi bagaimana kita membangun hidup iman kita. Bunda Maria menyadari sungguh kelemahan dan kekurangan dalam hidupnya, oleh karena itu Ia menyerahkan semua dalam kehendak Allah. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”.  Dengan kata lain, Bunda Maria mampu menerima anugerah kehidupan imannya yang begitu dalam karena ia mau mendengarkan inspirasi dari Roh Kudus. Bunda Maria mampu secara rendah hati untuk membuka hati dibimbing oleh daya Roh. Oleh karena itulah maka Bunda Maria menjalani seluruh kehidupannya, meski itu berat dalam kekuatan Roh itu sendiri.

Kita dapat bayangkan semua pengalaman berat Bunda Maria. Ketika Bunda Maria menerima warta gembira, ketika Bunda Maria mengalami peristiwa kelahiran Yesus yang didatangi oleh 3 sarjana dari Timur dengan berbagai persembahannya, ketika Bunda Maria bingung mencari Yesus yang hilang dibait Allah saat usia 12 tahun, bahkan ketika Bunda Maria menerima Yesus yang wafat dipangkuannya, semua diterima oleh Bunda Maria dengan diam dan merenungkannya dalam hati. Dari sikap ini tampak bahwa Bunda Maria adalah Bunda yang senantiasa mau mendengar kehendak Allah. Hidupnya mengalami kedekatan personal dengan Allah dan Yesus.

Kebersamaan iman kita dengan Bunda Maria seakan mengandung makna ajakan bagi kita untuk terus membangun hubungan kedekatan personal dengan Allah dalam Roh Kudus. Kita tidak bisa hanya mengandalkan keakuan kita. Kalau semua hanya mengandalkan keakuan dan melupakan daya Roh Kudus maka niscaya yang akan terjadi adalah kehancuran. Hal yang sama juga akan terjadi dengan tempat doa ini kalau semua orang hanya rumongsa isa ning or isa ngrumangsani.

Akhirnya, Romo Agustinus Supriyadi menutup kotbah dengan sekar pocung

Rukun iku, yekti warisan leluhur (rukun itu merupakan warisan yang luhur)

Tumprap kekadangan (dalam hidup kebersamaan)

Gayuh urip kang nyawiji (untuk mengupayakan hidup yang satu)

Dampyak-dampyak mbudidaya ngalap berkah (bersama-sama mengupayakan berkah)

Murid Gusti, ngugemi dhawuh linuhur (Murid Tuhan, bertanggung jawab dalam tugas luhur)

Pasrah ing Pangeran (berserah hidup pada Allah)

Tanggap wisiking Roh Suci (mendengarkan bisikan Roh Kudus)

Sayuk rukun mbangun kratoning suwarga (hidup rukun untuk mewujudkan Kerajaan Allah)

Anuladha, Ibu Dalem kang misuwur (meneladan Bunda Maria yang terkenal)

Pasrah ing Pangeran (berserah hidup pada Allah)

Dhawuh Dalem den ugemi (kehendakNya dihidupi)

Tinarbuka tumprap wilujenging donya (senantiasa terbuka hati untuk keselamatan dunia)

Andhap asor, pawitan urip kang rukun (Rendah hati prasyarat hidup rukun bersama)

Adoh cecongkrahan (tidak ada saling silang/bertengkar)

Tansah mbelo kang sayekti (senantiasa membela yang sejati dan benar)

Tan ngedohi kabeh sakareping setan (serta menjauhi semua kehendak setan)

Umat Dalem, ing paroki kang satuhu (Umat Allah di paroki ini)

Maria Fatima (St. Maria Fatima)

Karsa tumindak linuwih (berkendak lebih untuk bertindak)

Nunggal ati mbangun papan nyujarahan (menyatukan hati untuk membangun tempat ziarah)

Liputan: Srie Hartanto