Merayakan Hari Raya Tubuh & Darah Kristus

Oleh: Mgr.Johannes Pujasumarta

Sakramen EkaristiMerayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengantar kita untuk masuk dalam pemahaman mendalam mengenai kasih Allah yang dianugerahkan-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus yang memberikan diri-Nya sendiri seutuhnya dan sehabis-habisnya demi keselamatan kita. Mendalami kasih Allah berarti bersedia masuk dalam intimitas yang berlingkar-lingkar, bersedia mengadakan perjalanan bolak-balik dari intimitas paling dalam di ruang kudus menuju lingkar-lingkar  luar,  bahkan sampai melewati batas-batas cakrawala agar dapat menyentuh ujung-ujung semesta.

“Inilah Tubuh-Ku, makanlah” adalah kata-kata yang keluar dalam intimitas relasi Allah dengan manusia, yang memaknai tubuh sebagai bahasa komunikasi sangat eksklusif untuk memeragakan kasih Allah itu sendiri karena kasih-Nya kepada manusia dan seluruh semesta.

“Inilah Darah-Ku,  minumlah” adalah kata-kata yang mengandung totalitas dalam memperjuangkan nilai secara tuntas, berdarah-darah sampai tetes darah yang terakhir. Merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus telah mengantar saya untuk memahami apa itu intimitas dan totalitas kasih ilahi.

Dalam intimitas dan totalitas kasih  ilahi itu Tuhan kita Yesus Kristus menjelaskan kepada kita bahwa imamat yang ditampilkan-Nya mengatasi imamat Perjanjian Lama secara definit dan radikal, karena Ia tidak mengorbankan sesuatu di luar diri-Nya, akan tetapi Ia sendiri menjadi Imam Agung Perjanjian Baru karena menjadi korban. Dalam  diri-Nya ditampilkan sekaligus imam (sacerdos) dan korban (victima) sebagai pribadi yang satu dan sama. Dalam imamat Kristus ini martabat imamat seluruh ciptaan dan manusia berpartisipasi  dan mendapat makna yang baru, dan diungkapkan dengan kata-kata biasa dan sederhana: “Inilah Tubuh-Ku, makanlah! Inilah Darah-Ku, minumlah!”

Kata-kata itu biasa dan sederhana, karena menyangkut kebutuhan pokok. kehidupan manusia dan seluruh alam agar bisa hidup, yaitu kebutuhan untuk makan dan minum secukupnya. Untuk kehidupan manusia itulah seluruh dunia diciptakan Allah agar manusia dapat makan dan minum.

Pekerjaan manusia mengolah dunia, dengan tetap memelihara keutuhan ciptaan, merupakan perjalanan dengan banyak  jerih payah, dan memerlukan perjuangan berdarah-darah, sampai  tetes darah terakhir, agar dari pekerjaan manusia dapat disediakan makanan dan minuman yang cukup bagi semua.

Persembahan itulah yang kita bawa setiap kali kita merayakan Ekaristi, agar dipersatukan dengan persembahan diri Tuhan kita Yesus Kristus. Kata-kata yang kita dengar  “Inilah Tubuh-Ku, makanlah! Inilah Darah-Ku, minumlah!” pada saat konsekrasi  memberi makna mendalam tidak hanya pada roti dan anggur, tetapi pada seluruh bumi tempat tumbuhnya tanam -tanaman yang mengeluarkan hasil bumi itu. Dengan itu disucikan pula pekerjaan manusia mengolah dunia ini.

Karena itu, komunio yang kita terima merupakan gerak kesediaan kita untuk menerima peristiwa persatuan Allah yang adalah komunio triniter dengan kita, suatu momentum intimitas kasih Allah melalui pemberian Tubuh dan Darah Kristus Putera-Nya. Dan kemudian momentum intimitas kasih Allah itu hendaknya kita bawa melalui perjalanan berjerih payah ke lingkar-lingkar kehidupan semesta, bahkan melewati batas-batas cakrawala, agar kasih-Nya mengubah bumi ini menjadi bumi yang baru, dan mengubah langit ini menjadi langit yang baru. Untuk itulah kita diutus. Ite missa est!***

Sumber:

http://www.pujasumarta.multiply.com