Dunia Pendidikan Kita: “Golek Uceng kelangan Deleg”

Oleh : Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr


lkml;Pembaca LENTERA yang terkasih, pokok pembicaraan kita kali ini sekitar dunia pendidikan. Pokok pembicaraan ini dipilih dengan latar belakang dimulainya tahun ajaran baru. Dalam tahun ajaran baru ini dimulai pula materi pengajaran baru yakni pendidikan karakter. Dalam hal ini pemerintah melalui kementrian pendidikan menginstruksikan kepada seluruh sekolah untuk memberikan pendidikan karakter kepada para muridnya. Pemerintah berharap dengan ada pendidikan karakter ini akan tercipta generasi bangsa yang luhur dan mulia, generasi yang mengindahkan etika dan moral.

Dengan dicanangkannya pendidikan karakter sebagai materi pengajaran wajib, mempertegas penilaian pemerhati pendidikan akan kegagalan dunia pendidikan kita. Lembaga pendidikan kita memang telah berhasil menghantarkan anak didiknya menjadi orang yang cerdas dan pandai. Hal ini nampak pada prosentase kelulusan yang cukup tinggi. Dan sekolah-sekolahpun berlomba-lomba mengejar predikat sekolah bermutu yang dibuktikan dengan tingginya prosentase kelulusan. Segala upaya dan cara pun akhirnya ditempuh walaupun sangat jelas melanggar etika dan moral. Akibatnya banyak lembaga pendidikan kita yang orientasi pendidikannya melulu mengejar kelulusan. Padahal kelulusan hanya menjadi bagian kecil dari proses pendidikan yang sebenarnya. Ibarat peribahasa Jawa, “golek uceng kelangan deleg” ; demi mengejar prosentase kelulusan rela mengorbankan keutamaan hidup yang sebenarnya adalah tujuan pokok pendidikan.

Para pembaca Lentera, kita memang layak prihatin dengan keadaan dunia pendidikan kita yang seperti ini. Apalagi kita juga telah merasakan hasil dari orientasi pendidikan yang melulu mengutamakan kecerdasan intelektual. Banyak pribadi yang tumbuh dalam arus pendidikan seperti itu menjadi sosok yang cerdas, pandai namun tak bermoral, tak beretika bahkan tak beradab. Sosok pribadi tersebut pasti hanya mengutamakan ambisi diri, tak peduli pada yang lain. Pribadi yang demikian pasti juga tidak akan mempunyai jiwa kebangsaan, yang rela berjuang dan berkorban demi kebesaran bangsa dan negaranya. Sebaliknyalah yang akan terjadi, bangsa dan negara dikorbankan demi mencapai ambisi pribadi.

Melihat realita seperti memang harus segera di”puter giling” orientasi pendidikan nasional kita, dikembalikan pada tujuan utama pendidikan. Rm. YB. Mangunwijaya mengatakan bahwa  pendidikan harus mampu membekali dan

mendampingi peserta didik agar:

  • Secara perorangan menjadi pribadi yang cerdas, terampil, jujur, berkarakter, takwa dan utuh.
  • Dari segi sosial menjadi manusia dengan rasa solidaritas dan pelibatan diri yang bertanggungjawab

Bekal itu akan menghantarkan peserta didik menjadi manusia eksplorator, kreatif dan integral (bdk. Pendidikan Pemerdekaan hal. 8)

Dalam perspektif Gereja pendidikan mempunyai tujuan mencapai pembinaan pribadi manusia yang selaras baik bakat-pembawaan fisik, moral dan intelektual. Pencapaian ini dijalankan dengan mengindahkan tradisi kebudayaan, terbuka bagi persaudaraan dan menumbuhkan persatuan dan perdamaian sejati ( Gravissimum Educationis art. 1-2).

Kita semua berharap pendidikan karakter yang akan dilaksanakan nanti sungguh akan membawa perubahan mendasar bagi dunia pendidikan kita.***