Menjadi Prodiakon yang Signifikan & Relevan

227319_1768570966308_1000220680_31551927_5538689_nKlaten (LENTERA) – Sebanyak 43 orang Prodiakon bersama-sama mengadakan Retret bertempat di Rumah Retret Panti Semedi Sangkalputung Klaten pada hari Jumat (01/07) sampai dengan Minggu (03/07). Kali ini mereka dipandu dan dibimbing oleh Romo D. Bambang Murti Subadi Pr. Tema yang mereka bahas adalah: MENJADI PRODIAKON PAROKI YANG SIGNIFIKAN DAN RELEVAN.

Dalam  retret itu  Romo Bambang mengurai­kan tentang makna Signifikan, yaitu bermakna, menyentuh hati; serta Relevan, yaitu berguna, bermanfaat. Para Prodiakon Paroki diajak merefleksikan pengalaman hidup mereka. Sejauh mana mereka telah berbuat dan berfungsi, dan apakah pelayanan mereka sungguh berguna, menyentuh hati umat yang dilayani.

Mengingat kata Paroki pada Prodiakon itu, mereka tidak hanya siap bertugas di Lingkungan atau Wilayahnya sendiri, tetapi juga di Lingkungan atau Wilayah lain separoki. Dalam hal ini umat mesti diberi tahu bila ada Prodiakon dari lain Lingkungan bertugas di situ. Tentu saja pengurus Prodiakon Paroki mesti ber­koordinasi agar tugas pelayanan mereka dapat berlangsung sebaik-baiknya.

Seorang Prodiakon dituntut menjadi orang beriman. Beriman atinya terbuka terhadap sapaan Allah dan siapapun, selalu berupaya menangkap kehendak Allah menurut kehendak zaman dalam situasi konkret. Sabda Allah itu menjadi semangat dasar dalam bertindak. Hikmah apakah yang ada dibalik sabda Allah itu?  Apakah Prodiakon mengingat pedoman-pedoman yang telah ditentukan bersama dalam tugas dan pelayanan. Dan apakah tanda-tanda zaman yang menjadi pemandu berpikir dan bertindak?

Dengan kata lain para prodiakon harus bertugas berdasarkan opsi daripada tradisi. Mereka harus memandang ke depan. Keputusan-keputusan tidak hanya berdasar­kan kebiasaan dan kebutuhan sesaat, tetapi lebih berdasarkan hal-hal tadi agar lebih memberdayakan dan mencerdaskan dengan ciri-ciri: transformatif (siap diperbarui dan diubah), antisipatif (berpandangan ke depan) dan eksplosif (punya daya pengaruh yang menggerakkan) .

Para prodiakon diingatkan agar menghindari status quo.  Maka baiklah apabila sudah dua kali masa bakti berturut-turut prodiakon itu berhenti bertugas dan diganti orang lain. Supaya terjadi penyegaran dan pemerataan tugas. Kita semua sebagai umat Allah tidak boleh tergantung kepada seseorang, tetapi kepada Kristus yang telah berkenan  memilih memanggil para pelayan, termasuk di dalamnya para prodiakon paroki. Dengan demikian suasana yang hidup, saling membantu dan menyemangati selalu terjaga. Situasi yang dinamis dan berkembang perlu diciptakan, agar semakin banyak orang diberdayakan, sesuai dengan ARDAS KAS 2011-2015. (Atmadi)