Pesta Syukur Ulang Tahun Imamat ke -7 Romo Djati & Romo Tri Wijayanta

webJenawi (LENTERA) – Alunan musik mengiringi lagu “Aku Abdi-Nya” yang disemarakkan oleh  paduan Simphoni Gracia membuka Misa Kudus di Kapel Jenawi, Rabu (29/06) dalam upacara Pesta Syukur Ulang Tahun Imamat ketujuh bagi Rm.Rafael Tri Wijayanta, Pr & Rm. CT. Tri Wahyono Djati, Pr Dalam pelaksanaan misa tersebut sekaligus Romo memberkati benda-benda suci seperti salib Corpus Yesus (besar), Tabernanel, dan benda-benda suci lain sebagai tanda kehadiran Allah, setiap sakramen ada di sini.

Misa syukur ini bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, 29 Juni 2011 ini sungguh bermakna. Menurut Romo Djati, dalam homilinya, sosok Petrus dan Paulus berjuang mengemban amanah Kristus hingga akhir hidupnya sebagai martir. Kegigihannya menjadi tangan panjang Kristus sungguh perlu diteladani oleh seluruh Jemaat Allah, dan yakin benar keteladanan Petrus dan Paulus yang senantiasa dengan setia melaksanakan jabatan imamat menjadi pewarta iman akan kebenaran mengilhami kita.

Kesetiaan mengabdi Tuhan itu diaplikasikan dalam mewujukan kasih kepada sesama tanpa batas sampai mati yang dialamatkan kepada Kristus. Mengikuti Kristus dalam aksinya harus melakukan hukum cinta seperti Kristus yang membawa kunci surga. Pelayanan kepada Allah dan sesama harus adil, artinya akan tidak ada artinya apabila mengaku melayani Tuhan tapi dalam praktik hidup kesehariannya menolak kasih kepada sesama. Orang harus mempersembahkan diri kepada Alllah. Mencintai sesama itu bukan hanya diucapkan akan tepati dilakukan. Sebagai orang beriman Katolik bukan hanya membicarakan soal cinta tapi menjalankan kasih.

Mencintai sesama harus total di sepanjang hidupnya. Selalu berbuat baik, tapi karena manusia itu lemah kadang dalam praktik hidupnya mengalami dosa. Dengan demikian Romo Tri dalam homilinya menolak apabila ada orang meninggal lalu hanya didoakan sebagian kebaikannya, “Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan sesuai dengan amal bhaktinya.”

Siapakah sesama kita? Digambarkan oleh Romo Tri Wijayanta yang merupakan asal Klaten seangkatan dengan Romo Djati yang makarya di paroki Santo Stephanus Jumapolo – Karanganyar, adalah mereka yang memberi makan ketika kita lapar, memberi minum ketika kita kehausan, mem­beri baju ketika kita tak punya pakaian dan memberi tumpangan ketika kita menjadi orang asing.

Kegembiraan juga muncul selepas misa di daerah sejuk kaki gunung Lawu tersebut, setelah ditandai ritus perutusan seluruh jemaat yang hadir diajak pesta kembul dhahar dan ramah tamah bersama diringi tembang dan alunan musik.

Misa yang digelar akhir Juni lalu tersebut sungguh berkesan dan bermakna dalam, lantaran kedua romo dalam mengorban­kan misa sungguh mengena. Sembari melontarkan humor – humor kecil dengan ciri khas masing-masing menjadi sangat komunikatif. Bahkan, ada seorang ibu yang terharu hingga menitikkan air matanya. Kilatan bening di sudut mata itu lalu disekanya, seraya setenah berbisik dengan suara parau dia bilang, “Saya dengar kabar Romo Djati yang selama ini menggembalakan umatnya di Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen  akan dialihtugaskan oleh pihak Keuskupan Agung Semarang ke paroki baru Bandung – Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.”

Duduk di sebelah ibu itu, seorang Bapak yang tegar menyahut, “Ya … kita harus berani merelakan seseorang yang kita cintai pergi untuk tujuan  baik,” tutur Bapak yang enggan disebut namanya itu. (Andre AS).