Kemerdekaan dalam Perspektif Ajaran Katolik

Oleh: A. Luluk Widyawan, Pr

merah-putih-di-puncakMakna Kemerdekaan
Kemerdekaan merupakan situasi yang dirindukan manusia. Kemerdekaan bahkan menjadi panggilan tertinggi dalam hidup manusia. Tulisan ini akan mengulas makna kemerdekaan dalam perspektif ajaran Katolik

Seorang pemikir bernama Hegel pernah berkata: “sejarah adalah sebuah proses pembebasan”. Terbukti dalam sejarah bahwa manusia mencari makna terdasar tentang kemerdekaan. Gagasan yang pernah muncul ialah, kemerdekaan dari berbagai halangan (misalnya: dari determinasi alam, dari kendala-kendala manusiawi dan sebagainya). Gagasan tersebut belumlah memuaskan manusia untuk mencari makna kemerdekaannya secara mendasar dan berkualitas. Makna terdasar dan berkualitas tentang kemerdekaan manusia justru terletak pada pemahaman kemerdekaan untuk. Kemerdekaan dalam arti ini bertujuan membangun masyarakat lebih manusiawi atau yang lebih sesuai dengan keluhuran martabat manusia.

Kemerdekaan menjadi panggilan tertinggi dalam hidup manusia. Kemerdekaan manusia lalu diartikan sebagai tahap kemanusiaan tertinggi atau humanum, sebagimana dikatakan Hans Kung, sebagai titik kematangan identitas seperti kata Erik H. Erikson, atau sebagai kesadaran moral universal menurut Lawrance Kohlberg. Tulisan ini akan mengulas makna kemerdekaan, yang dirindukan manusia itu, dalam perspektif Kitab Suci dan ajaran Katolik.

Pemahaman Tentang Kemerdekaan
Gagasan tentang kemerdekaan didasarkan dari ajaran bahwa Allah membuat manusia menurut citraNya sendiri. Manusia dianugerahi daya serupa dengan kekuatan Tuhan sendiri. Sejak lahir manusia dianugerahi akal budi, kemampuan dan kecakapan-kecakapan tertentu dan sifat yang harus diolah supaya membuahkan hasil. Manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang berdaulat. Semua hak manusia ialah hak mengembangkan diri sebagai citra Allah.
Hak manusia dilindungi Tuhan, terutama bila ia sendiri tidak mampu membela diri. Ketika manusia kehilangan haknya karena kesalahannya sendiri, Tuhan tetap membela dan melindunginya sebagimana tertulis dalam Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus: “Apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan yang berarti, supaya jangan ada orang yang memegahkan diri di hadapan Allah”.

Kemerdekaan amat dirindukan manusia. Tetapi seringkali manusia mendukung kemerdekaan dengan cara yang salah. Manusia mengartikannya sebagai kesewenang-wenangan untuk berbuat sesuka hatinya atau berdosa. Padahal kemerdekaan yang sejati merupakan tanda yang mulia, gambar Allah dalam diri manusia, karena Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri. Maksudnya supaya manusia secara sukarela mengabdi kepadaNya secara merdeka hingga mencapai kesempurnaan hidup. Memang kemerdekaan manusia seringkali terbelenggu oleh dosa, tetapi dengan bantuan rahmat Allah manusia dapat meluruskan gerak hatinya kepada Allah. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perilaku hidupnya sendiri di hadapan tahta pengadilan Allah, sesuai dengan perbutannya yang baik maupun yang jahat.

Saat terbelenggu oleh dosa, manusia tetap merindukan kemerdekaan. Kitab Perjanjian Lama menulis, ketika manusia mengalami ketidakmerdekaan, manusia berseru kepada Allah supaya menjadi pembebas dari segala kesesakan. Kitab Keluaran mengisahkan peristiwa pemerdekaan bangsa terpilih dari penindasan bangsa asing dan perbudakan. Kemerdekaan itu dimaksudkan untuk pembentukan umat Allah dan ibadat perjanjian yang dirayakan di Gunung Sinai. Peristiwa tersebut telah menjadi kenangan bagi umat Yahudi yang hidup dalam pengharapan akan kemerdekaan baru, pasca runtuhnya Yerusalem dan pembuangan di Babilonia. Pengalaman ini menorehkan pengalaman bahwa Tuhan adalah Sang Pembebas.
Kecemasan dan penderitaan yang dialami oleh mereka yang setia kepada Allah dan perjanjian merupakan tema beberapa Mazmur. Bentuknya berupa keluhan, permohonan bantuan dan ucapan syukur yang mengacu pada keselamatan religius dan pemerdekaan. Penderitaan tersebut merupakan cermin situasi kemiskinan, tekanan politik, permusuhan dengan para lawan, ketidakadilan, kegagalan dan kematian. Mazmur itu sekaligus mengungkapkan bahwa hanya dari Tuhanlah seseorang dapat mengharapkan keselamatan dan penyembuhan.

Para Nabi sesudah Amos pun menyatakan tuntutan keadilan dan solidaritas serta mengecam kaum kaya yang menindas kaum miskin. Para nabi membela para janda dan yatim piatu. Mereka mengecam penguasa dengan ancaman bahwa mereka akan mengalami hukuman keras karena kejahatannya. Para nabi mewartakan bahwa kesetiaan pada Perjanjian Tuhan harus diikuti dengan tindakan adil kepada sesama, karena Tuhan adalah pembela dan pembebas kaum miskin. Apalagi, Perjanjian Lama menegaskan perintah mengasihi sesama merupakan hukum tertinggi dalam kehidupan sosial. Tujuan dari pemerdekaan itu tak lain kedamaian di mana tercipta ketertiban baru, baik hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan alam. Itulah saat Kerajaan Allah hadir.

Perjanjian Baru mempertegas tuntutan Perjanjian Lama secara lebih radikal. Yesus yang menjadi miskin mengajak manusia untuk mengenal kehadiranNya dalam diri orang miskin. Yesus mengalami penderitaan sebagaimana kaum miskin yang menderita.. Kemiskinan Yesus bukan hanya protes negatif terhadap nilai-nilai Mamon, bukan sekedar solidaritas dengan kaum miskin saja, tetapi merupakan perlawananNya terhadap Mamon.

Yesus menyadari bahawa Ia yang didorong oleh Roh Kudus memperjuangkan pemerdekaan kepada orang yang miskin. Ia mempertegas pembelaanNya kepada kaum miskin dalam kotbah di tanah datar. Ia pun menuntut kesempurnaan kepada para muridNya dalam perbuatan kasih, sebagaimana Bapa yang penuh belas kasih. Jelaslah bahwa panggilan orang Kristen untuk menjalankan kasih persaudaraan dan berbelas kasih. Sikap Yesus dipertegas dengan pernyataanNya bahwa dalam dan melalui kaum miskinlah Ia akan melaksanakan hukuman terakhirNya demi seluruh umat manusia. Sampai akhirnya, Yesus menyempurnakan karyaNya di kayu salib. Saat itulah Ia dipaku di gunung Kalvari karena hidup beragama manusia yang terpolusi uang dan kekuasaan.

Santo Paulus mempertegas anjuran ini saat menghadapi situasi Korintus yang kacau dengan menekankan ikatan persaudaraan cinta kasih dan membantu saudara yang kekurangan. Dengan demikian, wahyu Perjanjian Baru mengajarkan kepada kita bahwa dosa adalah kejahatan yang terbesar, maka kemerdekaan yang diusahakan mestinya kemerdekaan dari dosa yang menjadi penentu kemerdekaan lainnya.

Sifat radikal pemerdekaan yang dibawa Yesus diarahkan kepada semua orang menuntut perubahan kondisi sosial atau politik. Sumbernya ialah kemerdekaan baru yang diberikan oleh rahmat Yesus yang harus berdampak dalam bidang sosial politik. Oleh rahmat itu, tiap pribadi hendaknya mematikan akar kejahatan yang mengakibatkan penindasan dan ketidakadilan. Akar kejahatan terletak dalam pribadi yang harus dipertobatkan oleh rahmat Yesus supaya hidup dan bertindak sebagai mahluk baru dalam cinta kasih kepada sesama.

Kemerdekaan Dalam Kitab Suci
Kitab Suci memuat tiga arti berbeda dari kata kemerdekaan ialah: merdeka dari perbudakan, merdeka dalam bersikap dan berperilaku dan merdeka untuk menaati hukum kemerdekaan yang sempurna, yaitu warta gembira Kerajaan Allah. Kemerdekaan dalam arti tersebut merupakan kemerdekaan sejati yaitu kemerdekaan anak-anak Allah dalam Yesus Kritus.

Kemerdekaan Dalam Perjanjian Lama
Salah satu penagalaman orang Yahudi ialah menikmati kemerdekaan pasca perbudakan Mesir. Pengalaman kemerdekaan ini dirasakan mereka sebagai karya Allah. Kenyataan hidup sebagai budak telah melahirkan rasa setia kawan dan persaudaraan di antara mereka. Suasana itu memberi semangat dan kegembiraan untuk hidup dalam persatuan dan harga diri dalam kebersamaan. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menyadarkan bahwa Allah hadir dan berkarya kepada mereka, serta mengantar mereka menjadi bangsa yang memiliki tanah air terjanji. Perjuangan mereka untuk merdeka bukan lagi perjuangan mereka sendiri, tetapi Allah sendiri telah memerdekakan mereka. Allah telah menganugerahi kemerdekaan sehingga orang Yahudi memiliki kebebasan bersikap dan bertindak. Karena itu, kesetaraan di antara mereka yang telah memberi dampak positif dirasakan sebagai kehendak Allah sendiri.
Atas dasar pentingnya menjaga kesetaraan dan melestarikan kemerdekaan anugerah Allah itu, orang Yahudi mulai mengatur kemerdekaan mereka melalui peraturan.

Dalam Kitab Suci diceritakan, Allah sendiri mengatur kemerdekaan mereka melalui Hukum Taurat. Peraturan-peraturan yang tertulis dalam Hukum Taurat selalu berbunyi: “Tuhan berfirman…” Mereka pun menghayati hukum sebagai kehendak Allah yang harus mereka taati. Sebagaimana di hadapan Allah mereka setara dalam memperoleh kemerdekaan, demikian juga di hadapan hukum, dan hukum menjaga agar mereka selalu setara.

Hukum Taurat berusaha agar setelah orang Yahudi mengalami kemerdekaan, mereka tidak menumpuk kekayaan pada sejumlah kecil warga, tetapi mewujudkan kesetaraan di antara mereka. Peraturan hukum yang dihayati sebagai kehendak Allah diharapkan lebih memastikan dan menjamin kesetaraan itu, agar tidak akan terjadi penindasan, pemerasan atau pemaksaan kehendak yang mengancam kemerdekaan.

Kenyataan yang terjadi sebaliknya, Hukum Taurat gagal ditaati. Akibatnya terjadi penindasan dan penderitaan kaum lemah, serta kebinasaan seluruh bangsa. Penderitaan ini memuncak pada pembuangan ke Babilon, saat di mana Yerusalem diratakan dengan tanah. Keadaan di Babilon lebih buruk, penindasan lebih kejam, negeri mereka dihancurkan. Masa ini menyadarkan bahwa mereka kembali menjadi budak.

Semua itu terjadi karena desakan para nabi agar bertobat tak mereka hiraukan, sebagaimana seruan Yesaya, “bertobatlah, hai orang Israel, kepada Dia yang sudah kamu tinggalkan jauh-jauh !”. Meskipun terjadi penderitaan yang hebat, para nabi tetap menguraikan hadirnya masa depan yang cerah. Sebagaimana dituturkan Yehezkiel, “dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kauberikan kepada nenek-moyangmu dan kamu akan menjadi umatKu dan Aku menjadi Allahmu. Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu…”.

Kemerdekaan Dalam Perjanjian Baru
Yesus datang sebagai penyelamat yang datang dari Tuhan. Ia memerdekakan manusia dari penderitaan. Lebih dari itu, Yesus mengajak manusia agar merdeka dari akar penyebab penderitaan, yaitu dosa. Sebagaimana dikatakanNya, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Kemerdekaan berarti pemerdekaan yang menyelamatkan manusia dari perbudakan dan ketakutan. Ini terjadi bila manusia menerima Roh Keputraan, “Lihatlah betapa besar kasih yang dikurniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah”.

Roh perbudakan dan ketakutan ini kerapkali mewarnai kesalehan Perjanjian Lama. Tetapi kemerdekaan yang ditampakkan Yesus sudah pula bertunas dan bersemi dalam Perjanjian Lama, sebagaimana pernah ditulis: “…tetapi, karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpahNya yang telah diikrarkan kepada nenek moyangmu, maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan”. Dalam kemerdekaan itu, manusia diajak masuk dalam hubungan kasih. Manusia dimerdekakan dari dosa dan upah dosa, ialah kematian, seperti ucapan Paulus, “tetapi, dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah”.

Kemerdekaan hanya terwujud, kalau manusia merdeka dari pamrih, kehendak sendiri dan kepentingan sendiri, seperti dikatakan Paulus: “sebab oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”. Kemerdekaan tanpa pamrih, kehendak dan kepentingan sendiri, merupakan panggilan pribadi setiap manusia, “saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mepergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”.

Kehidupan kristiani diatur dengan hukum Roh, “sebab Tuhan adalah Roh dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan”. Lewat kemerdekaan ini, orang Kristen dibebaskan dari dunia, dari nafsu, dari daging seperti tuturan Paulus, “tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jikalau memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan miliki Kristus” . Dengan kemerdekaan ini, manusia menjadi budak cinta atau hamba Tuhan dalam pengabdian suci untuk menjadi pelayan untuk semua manusia. Lagi-lagi seperti dikatakan Paulus, “hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Tuhan”.

Arti kemerdekaan dalam Perjanjian Baru, dapat dikatakan, berciri dari dan dalam Yesus. Kemerdekaan ini menyelamatkan manusia dari roh perbudakan dan ketakutan. Hukum Allah menjadi hubungan cinta antara Bapa dan anak. Kemerdekaan dalam Yesus ini meliputi merdeka dari dosa, dari hukum dan dari kematian. Kemerdekaan dalam Yesus amat bermakna, karena Yesus sendiri memberi teladan merdeka dari segala pamrih. Ia memanggil manusia secara pribadi, untuk memiliki Roh kemerdekaan, yaitu Roh Anak Allah yang mengatur hidup manusia, agar manusia merdeka dari dunia, nafsu dan daging serta agar manusia dikuasai oleh cinta demi pelayanan kepada sesama. Pendek kata, manusia dimerdekakan dari perbudakan supaya hanya diperbudak oleh cinta, yaitu Allah sendiri.

Kemerdekaan Dalam Ajaran Gereja
Sebagaimana telah dijelaskan di depan, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk berakal budi. Manusia dengan akal dan budi itulah mereka bertanggungjawab atas segala tindakkannya, “Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri “. Kemerdekaan bukan suatu tindakan yang semau gue, tetapi kemerdekaan manusia yang mengarah kepada hal yang baik. Kemerdekaan sejati merupakan gambaran Allah dalam diri manusia, agar manusia dengan sukarela mencari PenciptaNya dan dengan mengabdi kepadaNya secara merdeka agar mencapai kesempurnaan yang penuh dan membahagiakan.
Martabat manusia menuntut agar ia bertindak secara merdeka dan sadar. Apalagi, manusia tindakannya pertama-tama didorong dari dalam diri dan bukan dari luar dirinya. Manusia dapat bertindak merdeka sesuai martabatnya, jika ia memerdekakan diri dari segala nafsu-nafsu liar, supaya dapat secara merdeka memilih apa yang baik. Kemerdekaan manusia yang terluka oleh dosa, hanya dapat diluruskan dengan rahmat Allah sehingga manusia dapat hidup merdeka dan terarah kepada kebaikan. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya yang baik ataupun yang buruk.
Manusia diberi kemerdekaan untuk berbuat, ia berhak atas segala tindakanya. Manusia harus tumbuh dalam kematangan dalam kebenaran dan kebaikan karena kemerdekaan. Kemerdekaan manusia akan mencapai kesempurnaan bila terarah kepada Allah. Kemerdekaan akan mewarnai perbuatannya sehingga sungguh manusiawi. Karena, Tuhan telah menjadikan manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya yang dikerjakan dengan kehendak bebasnya. Meskipun demikian, ketidaktahuan, perasaan takut dan segala faktor psikis atau sosial yang lain tetap dapat mengurangi atau menghilangkan kemerdekaan dan tanggung jawab manusia suatu perbuatan.
Jelaslah bahwa kemerdekaan manusia terbatas dan dapat salah. Manusia sudah berbuat dosa dan salah. Manusia bisa menolak Allah seperti dilukiskan dalam peristiwa jatuhnya manusia pertama dalam dosa. Sejarah manusia pun menunjukkan bahwa manusia mudah jatuh ke dalam dosa. Manusia yang jatuh dalam dosa merupakan cermin dari penyalahgunaan kemerdekaan. Selain itu, kemerdekaan yang dialami manusia tidak dapat lepas dari pihak lain. Kemerdekaan bukan berarti bisa berbuat seenaknya. Manusia harus memperhatikan unsur-unsur lain dalam hidup bersama, terutama harus selalu mengarah kepada yang Illahi. Hanya ada satu hal penting yang tidak menghalangi kemerdekaan manusia, ialah Rahmat Tuhan. Justru dengan rahmat itu kita mampu hidup sesuai dengan kebenaran dan kebaikan yang telah diletakkan Allah dalam hati setiap manusia. Rahmat selalu membantu kita untuk hidup selaras dengan kehendak Tuhan.

Penulis adalah imam praja Keuskupan Surabaya, tinggal di Sidoarjo

Sumber: http://seminarimertoyudan.multiply.com/journal?&page_start=20