Belajar dari Perumpamaan Yesus

Oleh: C. Dwi Atmadi

dddPerumpamaan dalam arti yang sebenarnya adalah sebuah kisah pendek dari kehidupan sehari-hari yang dipakai sebagai perbandingan untuk menjelaskan ajaran tentang kebenaran, iman atau moral. Perbandingan yang dipakai sebagai perumpamaan dimaksudkan untuk memancing tanggapan aktif dari para pendengar. Unsur-unsur dalam perumpamaan dipakai untuk mendukung pesan utama yang mau disampaikan. Detail-detail perumpamaan kerap kali tidak begitu diutamakan.

Perumpamaan mempunyai makna ganda, yaitu makna literer dan makna rohani. Misalnya perumpamaan tentang biji sesawi mengajak pendengar atau pembaca membayang­kan proses pertumbuhan dari biji yang amat kecil menjadi pohon yang besar dan memberi keteduhan bagi burung-burung.

Di balik kisah itu, Yesus mengajak pendengarNya membayangkan proses per­tumbuhan  Kerajaan Allah yang dimulai dari keutamaan-keutamaan yang sederhana dan mungkin tidak kelihatan sampai akhirnya menjadi suatu karya raksasa di mana Allah diakui sebagai Raja di tengah umatNya. Seperti pertumbuhan benih yang terjadi atas penyelenggaraan Allah, demikian pula pertumbuhan Kerajaan Allah tidak lepas dari penyelenggaraanNya. Karena berisi pengajaran rohani yang dalam, perumpamaan Yesus sering disebut sebagai kisah duniawi yang mempunyai arti sorgawi.

Dari segi isinya, perumpamaan Yesus menampilkan hal-hal yang bersifat dinamis. Yesus tidak berbicara mengenai suatu keadaan, tetapi suatu gerakan, tindakan, realitas yang dinamis. Perumpamaan-perumpamaan bukanlah paparan ide yang teoritis dan abstrak, tetapi tuntunan praktis yang menantang orang untuk mengambil tindakan. Yesus memakai perumpamaan tentang orang yang menabur, mengampuni, menolong, menemukan hal berharga, berdoa, proses pertumbuhan benih, pencarian, dan sebagainya. Misalnya, perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati menggambarkan tindakan dari seseorang yang berhati tulus. Demikian pula Kerajaan Allah tidak digambarkan sebagai suatu tempat yang indah di luar kehidupan manusia, tetapi digambarkan sebagai suatu proses dinamis di mana setiap orang diundang untuk bertindak, memilih, dan menentukan sikap.

Perumpamaan Dan Alegori

Dalam arti sempit perumpamaan dibedakan dari alegori. Alegori adalah cerita singkat yang memuat berbagai unsur yang masing-masing mempunyai arti. Karenanya alegori sering disebut sebagai rangkaian metafora atau kiasan. Sedangkan perumpamaan lebih dengan metafora atau kiasan yang diperluas. Contoh dari perumpamaan yang harus ditafsirkan sebagai alegori:

  • Perumpamaan tentang ilalang di ladang gandum (Mat 13: 24-30; 36-43).
  • Perumpamaan tentang penabur benih (Mat 13: 1-23)

Unsur-unsur yang membentuk kisah tersebut memiliki lambang sesuatu, orang, keadaan atau benda. Dalam perumpamaan tentang ilalang di ladang gandum, ada unsur: pemilik ladang, biji gandum, biji ilalang, musuh, pekerja. Makna dari unsur-unsur tersebut dijelaskan Yesus dalam Mat 13: 36-43. Demikian pula alegori penabur benih (Mat 13: 3-9) mempunyai unsur-unsur yang melambangkan sesuatu, yaitu benih melambangkan sabda Allah, berbagi jenis tanah melambangkan penerima sabda yang berbeda-beda kondisi serta disposisinya, dan penabur benih menunjuk pada pewarta sabda.

Perumpamaan dan Similitude

Dalam arti luas perumpamaan juga mencakup similitude, walaupun dalam arti sempit keduanya berbeda. Perbedaannya terletak pada sumber perbandingan yang dipergunakan. Gambaran yang diambil dalam similitude diambil kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang biasa dan diketahui oleh semua orang. Misalnya cara perempuan mempergunakan ragi (Mat 13: 33), apa yang terjadi ketika orang menabur biji sesawi (Mat 31: 32), cara seorang majikan memperlakukan budaknya (Luk 17: 7-10), bagaimana cara seorang ayah memberikan hal-hal baik kepada anak-anaknya (Luk 11: 11-13) , kegembiraan orang yang menemukan domba atau dirhamnya yang hilang (Luk 15: 4-10). Karena gambaran yang dipergunakan diambil dari kehidupan nyata yang biasa dialami oleh semua orang, similitude diawali dengan frasa berikut:

  • ”Jika seorang dia antara kamu mempunyai” (Luk 11: 5).
  • ”Jika seorang dia antara kamu mempunyai” (Luk 11: 11)
  • ”Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara” (Luk 14: 28)
  • ”Siapakah di antara kamu yang mem­punyai seratus ekor domba: (Lu 15: 4)

Berbeda dari similitude perumpamaan dalam arti sempit mengambil gambaran  dari sebuah kejadian yang hanya terjadi satu kali. Kejadian itu diceritakan dengan cara yang hidup dan menarik sehingga orang yang mendengarnya tidak mempertanyakan apakah itu terjadi sungguh-sungguh atau tidak. Cerita yang disampaikan sering bertentangan dengan kenyataan dan hanya terjadi pada tokoh cerita tersebut

  • Ada seorang kaya yang mempunyai seorangbendahara (Luk 16: 1).
  • Seorang mempunyai dua anak laki-laki (Mat 21: 28).

Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seseorang (Luk 18: 2).***

dari berbagai sumber