Mendengarkan Tuhan Bercerita

“Aku membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat 13 : 35)

Oleh : Th. Soerjanto

yyBulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional.  BKSN 2011 ini LBI mengajak umat mendengarkan Sabda Tuhan khususnya yang berupa perumpamaan. Sebenarnya, tujuan BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) adalah supaya seluruh umat membaca Kitab Suci dan mendengarkan Sabda Tuhan secara pribadi, seperti dalam dokumen Konsili Vatikan II “Bagi umat beriman kristiani jalan menuju Kitab Suci harus dibuka lebar-lebar” (Dei Verbum 22).

Dalam BKSN kali ini, kita belajar Kitab Suci khususnya bagian-bagian yang berupa perumpamaan. Tuhan Yesus dalam pengajarannya sering kali meng­guna­kan perumpamaan (sepertiga pengajaran-Nya dalam Injil disampaikan melalui perumpamaan). Perumpamaan dipakai Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu agar para pendengar-Nya aktif  berpikir, bertanya, menentukan pilihan, mengubah sikap dan cara pandang sehingga kadang-kadang mem­buat ‘para lawan-Nya’ tersindir, jengkel, bahkan marah.

Perumpamaan digunakan untuk Mengajar

Dengan memakai perumpamaan, para pendengar diundang untuk berpikir, ber­pendapat, mengambil sikap, bahkan mengubah sikapnya untuk diselaraskan dengan ajaran Tuhan. Injil Markus 4:30, Yesus berkata, “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?”. Di sini Tuhan ingin mencari cara agar misteri Kerajaan Allah dapat dipahami lewat perumpamaan oleh pendengarnya.

Perumpamaan digunakan Dalam Rangka Kontroversi

Beberapa perumpamaan disampaikan Tuhan dalam rangka kontroversi melawan orang-orang yang tidak setuju dengan sikap-Nya, ingin mencobai-Nya, mencari-cari kesalahan-Nya. Tuhan memberi tanggapan dengan hati-hati dan cerdik, bahkan sangat tepat untuk mengatasi adanya resiko yang fatal (Luk.15 Perumpamaan tentang anak yang hilang; Luk.10:25-37 Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati;

Mrk.12:1-12 Perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur).

Tuhan Yesus juga menggunakan perumpamaan untuk menyindir sikap mereka, dan sindiran itu dimaksudkan untuk menyadarkannya bukan untuk menghakimi

Menafsirkan Perumpamaan

Dokumen Konstitusi Vatikan II Dei Verbum 12, menyatakan bahwa dalam Kitab Suci Allah bersabda melalui manusia dan dengan cara manusia. Semua yang diwahyukan oleh Allah dan tertulis dalam Kitab Suci firman oleh Allah dan ditulis dengan ilham Roh Kudus. Dalam mengarang kitab-kitab dalam Kitab Suci Allah telah memilih para penulis (Hagiograf) dan Ia bekerja didalam dan melalui mereka. Tafsir merupakan usaha untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh para penulis suci dan apa yang hendak disampai­kan oleh Allah dengan kata-kata mereka.

Kita harus mencari penjelasan lebih lanjut misalnya hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang tradisi di zaman Tuhan Yesus atau di zaman penulisan Injil. Sebagai contoh, perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk.10:25-37) memaksa kita untuk mencari tahu macam apakah bangsa Samaria itu, apa kekhasan jalan dari Yerikho ke Yerusalem, apa yang penting dari tokoh imam dan lewi ditempat itu? Pengetahuan yang cukup tentang latar belakang sejarah didalam perumpamaan akan membantu kita untuk memahaminya dengan lebih baik dan tepat.

Tema-tema Pokok Perumpamaan dalam Pengajaran Tuhan Yesus

Kerajaan Allah

Kerajaan Allah merupakan tema utama dari pemberitaan Yesus. Sejak awal karya-Nya, Yesus memberitakan datangnya Kerajaan Allah. Ia tidak pernah memberita­kan uraian tentang Kerajaan Allah, tetapi menjelaskannya dalam berbagai perum­pamaan. Luk.12:32, Pemerintahan Allah itu diberikan Allah sebagai karunia; Luk.22:29, Sesuatu yang tanpa jasa manusia diwariskan; Mrk.4:26-29, tentang benih yang  dengan sendirinya dan secara rahasia tumbuh,  Mat.13:33, tentang ragi, Mat.13:31-32, tentang biji sesawi, Mrk.4:1-9, tentang seorang penabur.

Allah

Dalam berbagai kesempatan, Yesus menyatakan bahwa Ia datang ke dunia untuk melakukan kehendak Allah. Ia pun selalu mengajak orang untuk dekat dengan Allah. Salah satu cara yang dilakukan Yesus adalah dengan mengajak orang untuk memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa’.

Perumpamaan tentang yang hilang, Luk.15; menggambarkan sikap Allah yang aktif mencari para pendosa dan menanti pertobatan mereka dengan tangan terbuka.

Allah Maha Pengampun dan meng­hendaki agar manusia saling mengampuni digambarkan para perumpamaan tentang hamba yang jahat, Mat.18:23-35.

Warga Kerajaan Allah

Perumpamaan tentang orang farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah (Luk.18:9-14), Yesus mengajarkan pertobatan sebagai sikap yang benar dihadapan Allah. Orang yang berani mengakui dosanya dan datang kepada Allah tanpa kesombongan rohani apapun diterima dan dipandang benar oleh Allah.

Dalam perumpamaan tentang hamba yang berhutang, Mat.18:21-35, Yesus mengajarkan kepada pendengar bahwa Allah sendiri telah mengampuni dosa dan kesalahannya, orang yang telah menerima pengampunan itu harus mengampuni sesamanya. Dalam perumpamaan Luk.14:7-11, Yesus mengajarkan kerendahan hati kepada sesama dan Tuhan. Diingatkan pula, agar para pendengar tidak suka mencari penghormatan diri. Dalam perumpamaan tentang talenta, Yesus mengajarkan agar mereka mem­perguna­kan talenta yang diberikan Allah dipergunakan Allah dengan sebaik-baiknya, Mat. 25:14-30, bahwa pada waktunya Allah akan meminta pertanggung­jawaban atas semua yang telah diberikan kepada kita.

Dan masih banyak tema-tema yang perlu kita pahami agar dapat menafsirkan­ya dengan tepat. Selamat ber-BKSN 2011. Berkah Dalem !***