Misa Penerimaan Sakramen Penguatan & Peringatan Hari Pangan Se-dunia ke-31

Sakramen PenguatanParoki Sragen (LENTERA) – Uskup Agung Semarang, Monsigneir Johannes Pujasumarta selama dua hari mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen dalam rangka memberikan sakramen Penguatan bagi 242 umat. Penerimaan Sakramen Penguatan sebenarnya dilaksanakan pada hari Jumat (28/10) pukul 16.00, namun Bapak Uskup berkenan hadir di Sragen pada hari Kamis, (27/10) karena diminta oleh umat Paroki Sragen untuk menutup rangkaian Ekaristi novena di tempat calon Gua Maria Fatima Ngrawoh

Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Penguatan, Jumat (28/10) di Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen ini dipimpin oleh Mgr. Pujasumarta didampingi Romo Robertus Hardiyanta, Pr dan Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr. Ekaristi ini juga dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-31, maka tak heran jika tiap pilar-pilar di Gereja Paroki dihiasi dengan aneka buah-buahan dan hasil bumi.

Meski diawal ekaristi, hujan deras mengguyur daerah Sragen dan sekitarnya. Ekaristi berjalan lancar dengan iringan gamelan Jawa berbahasa Indonesia. Adapun tema yang diangkat adalah : “Dipilih dan diutus menjadi saksi: Memelihara Keutuhan Ciptaan.”

Bapa Uskup menerimakan Sakramen Penguatan kepada 242  umat yang telah melalui proses pelajaran, triduum dan sakramen tobat sebelumnya. Dalam homilinya, Bapak Uskup mengatakan bahwa yang pertama kali dipilih dan diutus oleh Bapa adalah Yesus Kristus. Ia rela hidup di dunia, mewartakan sabda Tuhan. Ia rela menderita, dan wafat disalib. Ia dibunuh namun akhirnya dibangkitkan dari mati oleh Allah Bapa. Ia menjadi saksi kebaikan Tuhan. Pada saat mendengarkan sabda Tuhan (Injil) kita menandai dahi kita, dada dan bahu kanan serta kiri dengan kata-kata yang sama. “Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Sungguh amat baik bila kita menandai diri kita dengan tanda salib. Bila kita tinggal dalam pokok anggur, kita akan berbuah, sebab dari Yesus Kristus kita dapatkan Tubuh dan Darah-Nya. Makanan rohani yang perlu bagi hidup kita.

Pada akhir ekaristi kita dengar kata-kata imam “Ite Missa Et” – Marilah kita pergi, kita diutus bersaksi kepada dunia. Kita berada di jaman ketika allah bersama-sama kita, menaungi hidup kita.

Bapa Uskup juga kembali mengulangi penegasan yang beliau ungkap saat ekaristi di Ngrawoh. Semoga umat semua bergotong royong saling bantu membantu dalam ‘ngarah woh’, mencapai, memperjuangkan dan memperoleh buah-buah karya Allah di dalam hidup sehari-hari sesuai dengan tugas dan panggilan hidupnya.(dn)