Misa Penutupan Novena bersama Uskup Agung Semarang di Ngrawoh

NgrawohNgrawoh (LENTERA) – Mendung bergayut kala Perayaan Ekaristi Penutupan Novena yang berlangsung di Gua Maria Fatima Ngrawoh Kamis (27/10) pukul 17.00 WIB. Cuaca nan lembab membangun suasana misa semakin kusuk, ditunjang  oleh  rasa damai yang terpancar dari wajah-wajah ceria mengikuti misa tersebut. Mereka adalah umat Allah dari berbagai penjuru paroki Santa Perawan Maria Fatima Sragen yang tumplek blek di hamparan Taman Doa menyambut kedatangan Tuhan melalui Misa Penutupan Novena ini. Tampaknya hujanpun tahu diri, karena baru mau turun mengguyur setelah misa ditutup dengan berkat perutusan.

Perayaan Ekaristi Penutupan Novena ini dipimpin oleh Mgr Johannes Pujasumarta (Uskup Agung Semarang) didampingi  dua Romo Paroki Sragen yakni Romo Robertus Hardiyanta, Pr dan Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr. Bapa Uskup Agung Semarang  terlihat memegang  tongkat estafet kegembalaan yang merupakan simbol tugas penggembalaan yang diembannya di Keuskupan Agung Semarang. Misa ini mengambil tema “Berdoa Rosario Untuk Setia Membangun Pertobatan dan Pembaruan Hidup Beriman” ini.

Dalam homilinya, Mgr. Johannes Pujasumarta mengungkapkan tentang karya Allah dalam menumbuhkan iman di tanah Jawa yang diperjuangkan oleh para misionaris.  Pada awalnya, pewartaan iman di tanah Jawa ini seakan menemui jalan buntu, karena tidak mengalami perkembangan. Hingga akhirnya Tuhan sendiri berkenan berkarya menumbuhkan iman di tanah Jawa ini melalui peristiwa Pembaptisan di Sendangsono. 25 tahun sesudah peristiwa pembaptisan itu, Romo Prenthaler berinisiatif membangun Sendang­sono sebagai tempat peziarahan Maria yang dirasakan begitu dekat dengan orang Jawa. Tempat peziarahan Maria ini menjadi ungkapan kecintaan umat terhadap Bunda Maria yang akan menghantarkan mereka kepada Yesus, Per Mariam ad Iesum.

Mengenai nama tempat  ‘Ngrawoh’, Bapak  Uskup bertanya kepada umat sekalian tentang makna atau sejarah tentang nama ‘Ngrawoh’ itu. Bapak Uskup mengajak seluruh umat untuk bersama-sama menjaga kecintaan atau devosi yang kuat terhadap Bunda Maria ini sebagai jalan berziarah menuju satu arah yakni buah-buah Karya Allah di dalam diri Yesus Kristus. Ngrawoh menurut beliau adalah “Ngarah Woh”: berziarah menuju buah karya Allah.

Beliau mengatakan bahwa Taman Doa dan Gua Maria Fatima Ngrawoh ini akan menjadi tempat ziarah, siji sing diarah, ngarah woh, buah Karya Allah. Harapannya, Taman Doa dan Gua Maria Ngrawoh ini akan sungguh menjadi tempat berziarah, menuju karya Allah dalam diri Yesus Kristus dengan meneladan Maria, Sang Tabernakel Hidup.

Beliau juga mengajak seluruh umat untuk seperti Maria, sebagai Tabernakel Hidup yang membawa Kristus bagi siapa saja, yang hadir dalam Ekaristi Kudus. Dengan mengarah pada buah-buah Karya Allah itu, umat diajak untuk meneladan Kristus, yang bagai burung Pelican, berkenan memberikan tubuh dan darahnya bagi hidup anak-anaknya, ketika bencana kelaparan melanda. Untuk menegaskan hal ini, Bapak Uskup berkenan menyanyikan lagu Pie Pelicane gubahan beliau.

Pada kesempatan tersebut dilantik pula Panitia Pembangunan Taman Doa dan Gua Maria Di Fatima Ngrawoh serta pemberkatan tempat calon Gua Maria Ngrawoh. Ekaristi berjalan dengan lancar diikuti sekitar 700 umat. Seluruh umat Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen terlibat bersama, mulai dari petugas koor, para prodiakon, misdinar, tata laksana, penata tempat, petugas persembahan, dan petugas parkir. Ekaristi diiringi musik keroncong dengan petugas dari Wilayah Yohanes Rasul Kedawung terasa melekat erat menyemarakkan ekaristi  malam itu. Dekorasi mengambil tema perayaan Hari Pangan Sedunia.

Bp. N. Suparno yang bertugas MC pada malam itu, menuturkan bahwa hasil kolekte akan dijadikan modal awal pembangunan. Selain itu juga ada beberapa sumbangan finansial dari perseorangan pada malam itu lalu disatukan dengan kolekte.

Kerjasama dengan pemerintah setempat, jajaran keamanan Kabupaten Sragen, serta warga  setempat juga berjalan dengan sangat baik. Seusai Ekaristi, Bapak Uskup, romo paroki dan umat makan bersama di Kapel Ngrawoh. Akhirnya, di bawah hujan, Bapak Uskup dan romo paroki pulang ke pastoran, sementara para umat’.(Andre AS-Poer)