Misa Inkulturasi Tahun Baru Jawa 1 Suro

Suro SragenParoki Sragen (LENTERA) – Misa Tahun Baru Jawa 1 Suro kembali diadakan di Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen, Minggu (28/11). Tema : “Dite Warsa Kenaba: Lampah: Pratisteng Donga tumwawing kala hambirat Krodaning Rupa Pringga.”

Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Hardiyanta, Pr dan Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr. Koor dari Paduan Suara Maria Assumpta Sidoharjo dengan Iringan Kerawitan (Gamelan). Yang menarik adalah baik para Romo, misdinar, petugas liturgi semua memakai pakaian khas Jawa.

Bacaan Misa diambil dari Kisah Para Rasul 5:17-21 dan Bacaan Injil dari Markus 5:1-20. Yang menarik adakah Bacaan Injil dibawakan dengan Macapatan (Buku Macapatan Injil 4: Karangan Sindhunata). Sebelum memasuki Homili macapatan Suluk, yakni mencari keheningan dengan konsentrasi sebelum umat mendengarkan homili.

Dalam homilnya Romo Hardi mengajak manusia sadar dengan membersihkan diri dengan melakukan pertobatan, agar jiwa umat manusia tidak terjerumus dalam dosa. Romo Hardiyanta juga menceritakan Sejarah penanggalan Jawa. Suro adalah bulan pertama kalender Saka ciptaan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang permulaan­nya ditandai dengan 1 Suro tahun Alip 1555 Saka, bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah dan 8 juli 1933 Masehi. Peringatan Hari Besar 1 Suro biasanya diisi dengan semadi atau manekung ke hadapan yang Maha Esa, bersih diri jasmani dan rohani.

Diakhir Misa ada Kepyuran Sekar Melati untuk ngalap berkah sesuai tradisi tradisi Jawa.

Bp. JA. Suharto, salah satu Panitia Misa ini mengaku sangat terkesan dengan Misa inkulturasi ini karena masih banyak yang terlibat dalam melestarikan budaya Jawa. Misa 1 Suro beberapa tahun terakhir memang selalu diadakan di Paroki Sragen. Harapannya tradisi Jawa dan Misa Inkulturasi ini tetap dilestarikan dan diregenerasikan, seusai dengan yang pernah diungkapkan Romo Pujasumarta, Uskup Agung Semarang yakni  100 % Katolik, 100 % Indonesia dan 100 % Jawa.  Semoga Misa 1 Suro tetap dilestarikan dan rutin diadakan tiap tahun serta menjadi khas di Gereja Paroki Santa Perawan di Fatima Sragen, apalagi dengan bangunan Gereja Paroki Sragen yang sangat inkulturatif dengan budaya Jawa. (dn)