Menjadi Saksi Kedatangan Sang Terang

Ucapan NAtal

Oleh: Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr

Natal tahun 2011 segera tiba. Hari Natal bagi kita adalah hari yang istimewa karena Tuhan Yesus, Sang Sabda Allah, berkenan tinggal di tengah-tengah kita. Inkarnasi Sabda Allah di dalam pribadi Yesus terungkap dalam peristiwa Natal. Pada saat itulah, Tuhan menyatakan diri berpihak pada kita, manusia yang rapuh dan berdosa ini untuk diangkat ke martabat sebagai putera-puteri terkasihNya oleh kelahiran Kristus. Pada saat itu, manusia yang hidup dalam dunia kegelapan telah mendapatkan Terang Sejati yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Setiap kali kita merayakan Natal, kita merayakan kedatangan dan keberpihakan Tuhan yang telah mengirimkan Terang Sejati untuk menerangi manusia yang hidup dalam kegelapan karena dosa.

Pada hari raya Natal tahun 2011 ini, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengeluarkan pesan Natal bersama dengan tema: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar” (Yes. 9:1a). Pesan ini ditujukan untuk semua umat Kristen di Indonesia yang tengah berhadapan dengan situasi ‘kegelapan’ bangsa Indonesia. Situasi kegelapan itu tampak dalam realitas kemiskinan dan ketidakadilan di Indonesia ini yang masih menjadi keprihatinan bersama. Selain itu, masih seringnya kekerasan sebagai bahasa dalam relasi antar manusia, dan rapuhnya penghargaan atas keanekaragaman sosial membuat kita ini seakan tengah berjalan dalam kegelapan. Berbagai macam pelanggaran atas hak asasi manusia yang masih terjadi di negeri ini pun menantang iman untuk sungguh-sungguh menghadirkan Terang Yang Besar itu bagi kedamaian dan kebahagiaan segenap jiwa di negeri ini. KWI dan PGI mengajak segenap umat beriman untuk berani bersaksi tentang Terang Yang Besar itu, yang telah datang untuk menerangi bangsa yang berjalan dalam kegelapan ini.

Lantas bagaimanakah bersaksi atas kedatangan Sang Terang Yang Besar itu di tengah situasi bangsa Indonesia saat ini? Dalam pesan natal tersebut, disebutkan bahwa menjadi saksi atas kedatangan Terang yang Besar adalah dengan mewujudkan iman dalam suatu habitus yang baru demi mencintai kehidupan. Beberapa yang disebutkan dalam pesan tersebut antara lain:

•     Sederhana dan bersahaja: Yesus telah lahir di kandang hewan, bukan hanya karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah pengiapan” (Luk. 2:7), tetapi justru karena Dia yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:5-7).

•     Rajin dan giat: seperti para gembala yang “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan bayi itu” (Luk. 2:16).

•     Tanpa membeda-bedakan secara eksklusif: sebagaimana kanak-kanak Yesus juga menerima para Majus dari Timur seperti adanya, apapun warna kulit mereka dan apapun yang menjadi persembahan mereka masing-masing (lih. Mat. 2:11).

•     Tidak juga bersifat dan bersikap separatis, karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa “barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk. 9:50).

Konteks Umat Sragen

Untuk konteks kita, umat Paroki St. Perawan Maria Fatima Sragen, apa yang dapat kita lakukan dalam rangka menyambut kedatangan Kristus dalam perayaan Natal tahun ini? Kita dapat mengawalinya dari diri kita sendiri. Marilah kita menjadi saksi kedatangan Sang Terang Yang Besar itu di dalam setiap perjalanan kita masing-masing, sesuai dengan panggilan dan perutusan kita. Pada dasarnya, setiap dari kita ini adalah pribadi yang rapuh dan berdosa, yang pernah hidup dalam situasi ‘gelap’, entah berbagai macam situasi. Melalui perayaan Natal ini, kita diajak untuk menerima Sang Kristus sebagai Terang Sejati yang menghalau kegelapan hidup kita. Marilah kita mulai menghayati sabdaNya di dalam setiap hidup harian kita agar jiwa kita bersinar memancarkan Sang Terang Sejati. Kita ini bagai bulan yang menerangi gelapnya malam di bumi. Kita memantulkan cahaya dari Matahari Sejati, yakni Kristus sendiri.

Bagaimana hal ini dapat kita lakukan? Kita dapat mengikuti pesan Natal dari KWI dan PGI ini sebagai bagian dari perwujudan iman kita. Mari kita belajar untuk menjadi pribadi yang sederhana dan bersahaja. Menjadi pribadi yang sederhana dan bersahaja ini dapat diungkapkan dengan berjuang selalu jujur di dalam setiap langkah-langkah hidup kita. Membiarkan orang lain mengenali kita seluruhnya, tanpa ada yang perlu disembunyikan. Bersikap uga hari di dalam menggunakan segala fasilitas yang kita miliki, juga termasuk perjuangan untuk menjadi pribadi yang bersahaja dan sederhana. Sikap ini perlu diikuti dengan kesediaan untuk berbagi dengan sesama, terutama yang sungguh membutuhkan uluran kasih kita.

Selain itu, menjadi pribadi yang sederhana dan bersahaja terungkap dalam sikap rajin serta giat dalam terlibat bagi kemajuan umat. Hal ini dapat diungkapkan dengan keterlibatan di dalam kegiatan Gereja dan masyarakat, sesuai dengan peran masing-masing. Seperti halnya para petani yang dengan rajin serta giat menanam padi demi menyediakan pangan bagi masyarakat, demikianlah rajin serta giat dapat dilakukan.

Dalam menyongsong Natal tahun 2011 ini, kita diajak untuk memiliki hati yang bersih. Hati yang mau menerima siapa saja tanpa membeda-bedakan secara ekslusif. Sebab Yesus dilahirkan di dunia ini bukan hanya untuk orang Katolik saja, tetapi untuk umat manusia seluruh dunia. Marilah kita membagikan kabar sukacita tentang datangnya Terang Yang Besar ini bagi siapa saja. Biarlah kita menjadi tabernakel hidup seperti Bunda Maria yang mengandung Sang Kristus, penyelamat manusia. Sebab mewartakan Terang Yang Besar bagi setiap orang adalah tugas perutusan kita yang sejati sebagai anak-anakNya. Selamat Natal tahun 2011. Berkah Dalem.***