Menuju Beriman Mendalam dan Tangguh

catolicOleh: Robertus Hardiyanta, Pr – Beriman mendalam dan tangguh adalah salah satu butir atau pokok Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2011-2015 yang terdapat dalam alinea 2. Iman yang mendalam dan tangguh menjadi dasar dalam mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil. Beriman mendalam berarti memiliki pengetahuan yang benar mengenai pokok-pokok iman kristiani, mampu menghayati imannya dalam budaya setempat dan memiliki pengalaman mistik yang kuat, yakni keintiman relasi dengan Allah yang menggerakkan keterlibatan dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa Iman yang mendalam tersirat dalam spiritualitas tanda salib. Menyentuh dahi (ndumuk bathuk): “Necep Sabda” – tanda memiliki pengetahuan iman yang benar tentang pokok-pokok iman kristiani. Menyentuh dada (ndumuk dhadha): “Neges Karsa” – menghayati iman dalam budaya setempat dan memiliki pengalaman mistik yang kuat, yakni relasi dengan Allah. Menyentuh bahu kiri dan kanan (ndumuk bahu kiwa-bahu tengen): “Ngemban Dhawuh” – melaksanakan hidup beriman dengan terlibat dalam hidup menggereja dan memasyarakat.


Menyentuh dahi (ndumuk bathuk): “Necep Sabda” – dimensi kognitif

Memiliki pengetahuan yang benar mengenai pokok-pokok iman kristiani menjadi hal penting untuk membentuk diri sebagai umat yang beriman mendalam. Dengan mengerti pokok-pokok iman, orang mempunyai landasan kognitif yang kokoh untuk menerima misteri iman dan mengembang­kannya dalam kehidupan. Aspek kognitif ini penting dan menjadi tuntutan setiap orang beriman Katolik agar mampu beriman secara cerdas dan bertanggungjawab.

Mengetahui pokok-pokok iman berarti orang memahami dan mendalami Kitab Suci, ajaran-ajaran dasar Gereja Katolik menyangkut pengakuan iman atau syahadat, perayaan misteri iman Kristen yang dirayakan dalam perayaan liturgi Gereja, hidup dalam Kristus sesuai dengan tuntutan Injil dan mengenal doa-doa kristiani yang mengungkapkan iman Gereja. Pokok-pokok iman tersebut masih perlu dilengkapi dengan ajaran-ajaran moral Kristiani, ajaran-ajaran sosial Gereja, tradisi-tradisi iman dalam Gereja katolik, magisterium (konstitusi-konstitusi yang memuat dogma-dogma maupun ketetapan-ketetapan resmi serta ensiklik-ensiklik). Khususnya kaum muda perlu mempelajari dan mendalami isu-isu pengetahuan iman yang krusial (Misalnya tentang Allah Tritunggal, Inkarnasi Yesus, Peran Bunda Maria dalam tata penyelamatan umat manusia, dll.); dan pengetahuan iman yang kontekstual, terutama untuk mencipta­kan iklim dialog antar umat beragama yang lebih sejuk dan kondusif.

Menyentuh dada (ndumuk dhadha): “Neges Karsa” – dimensi mistik

Pengalaman mistik merupakan hal paling mendasar yang harus dimiliki seseorang yang imannya mendalam. Kedalaman hidup beriman seseorang ditandai oleh seberapa dekat keintimannya dengan Allah. Dalam relasi yang intim dengan Allah itu, orang mengalami pengalaman dicintai Allah yang mendorong­nya untuk menjawab cinta-Nya sebagaimana Allah mencintainya. Dimensi mistik ini antara lain dapat dicapai dan dikembangkan melalui ketekunan dan kesungguhan dalam meraya­kan iman Gereja (mencakup perayaan liturgi dan sakramen-sakramen utamanya ekaristi dan pertobatan), doa-doa pribadi yang teratur, devosi-devosi dan latihan-latihan rohani (Misalnya meditasi, retret, rekoleksi, dll.). Inilah yang disebut penghayatan iman. Iman itu terpancar dalam ungkapan-ungkapan yang hidup, merasuk, menerangi dan menjiwai dinamika dan pergulatan hidup yang nyata.

Menyentuh bahu kiri dan bahu kanan (ndumuk bahu kiwa lan bahu tengen): dimensi politik – “Ngemban Dhawuh”

Relasi yang intim dengan Allah berdimensi politik, artinya menggerakkan orang untuk terlibat dalam dinamika hidup bermasyarakat dan menggereja sebagaimana Allah terlibat dalam jerih-payah kehidupan manusia. Keterlibatan ini ditandai juga dengan kemauan dan keberanian menyuarakan kebenaran. “Ngemban Dhawuh” berarti menjalani hidup dengan melaksanakan amanat Yesus dan semua ajaran maupun ketentuan hidup beriman Gereja, berusaha untuk hidup mendekati kesempurnaan. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48). Inilah yang disebut wujud iman. Wujud iman dalam perbuatan ini menjadi kesaksian dan bukti nyata akan iman yang menggerakkan hati orang untuk berbuat. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:17). Orientasi hidup dan perbuatan orang beriman Kristen  bukan lagi pada kepentingan diri, melainkan pada kepentingan sesama, terlebih mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Iman yang tangguh berarti iman yang tak tergoyahkan, baik pada disposisi pribadinya sendiri maupun ketika berhadapan dengan yang lain. “Pada disposisi pribadi” artinya bahwa orang tidak pernah ragu-ragu akan apa yang diimaninya dan dengan teguh meyakininya dengan konsisten dan konsekuen. Iman kristiani menjadi pilihan hidup yang dapat dipertanggung­jawabkan; dan ketika bergumul dengan peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman hidup yang pahit dan serasa mengalami kebuntuan, orang tidak mudah goyah.

Orang yang beriman tangguh dapat mengalami dan menemukan Allah dalam setiap peristiwa hidupnya, karena Allah tidak meninggalkan kita. Ketika berhadapan dengan yang lain dan ketika berhadapan dengan persoalan-persoalan iman yang diajukan oleh orang lain, orang yang beriman tangguh mampu dan berani mem­pertanggung­jawab_kan pilihan imannnya dengan benar. Untuk itu diperlukan pendasaran-pendasaran iman yang kokoh sejak awal dan pada usia dini. Pendampingan dan pembinaan iman harus mencakup ketiga dimensi tersebut: kognitif, mistik dan politis.***