Pertobatan Personal sebagai Dasar Pertobatan Sosial Menuju Transformasi Sosial

Pengakuan-dosaOleh : Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr – Setiap manusia dipanggil kepada keselamatan yakni bersatu dengan Tuhan. Namun dalam dunia ini, manusia mengingkari kasih Allah ini karena kuasa dosa. Oleh karena dosa ini, manusia terpisah dari Allah, Sang Sumber dan Tujuan hidupnya. Saat itu, manusia tidak hidup dalam Kerajaan-Nya. Hal ini tampak dalam berbagai macam penderitaan yang dialami oleh manusia dan masyarakatnya (culture of death).

Pewartaan Kerajaan Allah pertama-tama selalu didasari dengan pertobatan. Para nabi dan bahkan Yesus sendiri telah menyatakan hal itu. Ketika kehidupan dikuasai oleh dosa yang menyebabkan penderitaan dan kematian, pertobatan diperlukan agar manusia berbalik kepada Tuhan yang penuh kasih dan rahim. Di samping berdimensi sosial, dosa juga berdimensi personal. Dimensi personal dari dosa ini sebagai konsekuensi dari kebebasan manusia. Setiap manusia bebas untuk menerima atau menolak kasih Allah itu. Dan ketika seseorang menolak kasih Allah, ia jatuh dalam dosa yang adalah bertindak melawan moral atau berbuat jahat. Perbuatan melawan moral atau kejahatan adalah bentuk perlawanan terhadap Allah dan panggilan ke arah kesejatian manusia.

Dengan perbuatan dosa manusia melanggar tujuan sejati, dan kegagalan ini membuat ia terdampar pada disharmoni dan frustasi (GS 13). Selain melukai diri sendiri, dosa personal ini juga melukai kehidupan bersama. Setiap dosa (bahkan dengan ciri paling personal sekalipun) menjadi rintangan bagi perwujudan tujuan akhir bersama. Oleh karena itu, pertobatan sosial dapat dimulai melalui pertobatan personal. Pertobatan ini merupakan wujud rekonsiliasi dengan Allah, sesama (Gereja dan masyarakat) serta lingkungan hidupnya.

Menurut Benhard Haering, pertobatan ini pertama-tama merupakan inisiatif dari Allah sendiri untuk menyelamatkan umat-Nya. Walau inisiatif untuk mengawali proses rekonsiliasi berasal dari Allah, manusia tetap punya peranan dalam proses tersebut. Setiap manusia dipanggil untuk bekerja sama dengan inisiatif Allah itu. Ia diharapkan untuk menanggapi tawaran pengampunan dan belaskasihan-Nya yang tak terbatas.

Dengan demikian, unsur kebebasan pribadi turut menentukan terjadinya metanoia personal yang membawa pada rekonsiliasi/pertobatan sosial. Hal yang sama dikatakan juga oleh J.B. Libanio dalam tulisannya yang berjudul Submitting to a Process of Purification tentang pertobatan sosial didasari oleh pertobatan personal. Menurut dia, pertobatan sosial dimulai dari individu-individu yang memiliki ‘hati baru’ untuk menjadi anak-anak Allah, saudara-saudara Kristus, dan hidup dalam kuasa Roh Kudus. Hidup dengan ‘hati baru’, kesadaran sebagai anak-anak Allah, saudara-saudari Kristus dan hidup dalam kuasa Roh Kudus ini merupakan wujud dari pertobatan personal.

Pertobatan ini akan mereformasi mentalitas umat beriman dan membawa kehidupan mereka selaras dengan Kristus, membawa mereka untuk bertanggung jawab secara penuh dalam mengubah dunia sesuai dengan visi Kristus, dari dunia yang dikuasai dosa dan penderitaan ke dalam Kerajaan Allah yang memerdekakan.
Pertobatan Personal sebagai Transendensi Diri ke Arah Transformasi Hidup

Interpretasi otentik dari pertobatan Kristiani tidak dipahami sebagai sebuah pengorbanan diri (self-sacrifice) atau pemenuhan diri (self fulfillment) tetapi dipahami sebagai sebuah realitas dinamis atas transendensi diri sebagai suatu hal normatif bagi kehidupan spiritual.

Transendensi diri merupakan sebuah gerakan dinamik untuk melampaui diri sendiri demi kebaikan orang lain. Hal yang sama disampaikan juga oleh Bernard Lonergan bahwa transendensi diri itu terjadi ketika pribadi manusia menanggapi secara radikal atas pencarian makna hidup, kebenaran, nilai dan cinta. Tanggapan secara radikal ini tidak hanya akan berhenti pada pencarian makna saja tetapi mengarahkan pribadi itu untuk bertindak sesuai dengan tanggung jawab moralnya.

Ketika orang mengalami transendensi diri, ia akan memberikan hal terbaik dari dirnya secara total dan merdeka demi tanggung jawab moral sesuai konteks kebutuhan yang dihadapinya. Apabila orang mengalami transendensi diri ini, ia akan mengalami reorientasi hidup yang akan semakin mengarahkannya pada pencarian makna hidup, kebenaran, nilai moral dan komitmen terhadap cinta. Reorientasi hidup atas dasar transendensi diri seperti itulah yang disebut sebagai pertobatan.

Kemampuan manusia untuk ber-transendensi diri ini selalu bersifat personal sekaligus sosial. Oleh karena itu, taraf masing-masing pribadi dalam ber-transendensi diri akan selalu berbeda satu sama lain.

Reorientasi hidup personal atas dasar transendensi diri ini menjadi wujud dari suatu pertobatan personal. Salah satu contoh dari pertobatan personal sebagai realitas transendensi diri ini adalah pertobatan Rasul Paulus. Perubahan orientasi hidup Santo Paulus dari pribadi yang menjalankan Hukum Taurat secara ketat dengan mengejar serta membunuh orang-orang Kristen awal ke arah komitmen cinta terhadap kebenaran Kristus menjadi wujud transendensi dirinya. Pertobatan semacam ini selalu ditandai dengan perubahan radikal atas paradigma lama dalam dirinya demi suatu sikap baru untuk melampaui diri demi suatu transendensi diri (pencapaian makna hidup, kesejatian manusia, dan komitmen terhadap cinta). Pertobatan semacam ini selalu memiliki dimensi perjalanan spiritual manusia ke arah kesejatiannya.

Secara umum, setiap manusia memiliki kemampuan untuk ber-transendensi diri dan mencapai kesejatian hidupnya sebagaimana diungkapkan oleh St. Agustinus ketika bertobat. Kesejatian manusia hanya dapat ditemukan dalam relasi intimnya dengan Allah. Kata-kata St. Agustinus: “Hanya kepada-Mu Tuhan jiwaku menemukan istirahat kekal” kiranya menjadi gambaran bagaimana setiap manusia dipanggil ke arah kesejatian hidupnya, yakni bersatu dengan Allah. Dengan demikian, setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengalami pertobatan.

Pada dasar dirinya, manusia selalu memiliki kerinduan untuk bisa bersatu dengan Allah, yang adalah sumber, asal serta tujuan hidupnya. Hal yang sama dikatakan juga oleh Karl Rahner bahwa manusia adalah selalu ‘menjadi’ dan manusia selalu pada perjalanan ke arah tujuannya. Dengan demikian, pertobatan selalu berdimensi eskatologis, yakni antisipasi terhadap hidup manusia di masa depan. Pertobatan selalu menjadi wujud tanggapan iman atas wahyu Allah yang mewujud dalam gerak transendental manusia menuju kepenuhannya, yakni keselamatan di dalam Allah.

Lantas bagaimanakah realitas konkret pertobatan sebagai bentuk transendensi diri manusia? Bentuk pertanggungjawaban iman sebagai bagian pokok dari transendensi diri manusia menuju kepenuhannya itu adalah melalui komitmen terhadap tanggung jawab global dan tindakan moral. Komitmen pribadi terhadap tanggung jawab global dan tindakan moral kontekstual itu menjadi wujud dari reorientasi hidup berdasar atas transendensi diri. Hal ini memungkinkan terjadinya sebuah transformasi hidup ke arah terjalinnya kembali relasi intim yang membebaskan antara pribadi manusia dengan Allah, dengan pribadi sesamanya dan juga alam semesta.

Dengan dasar pemahaman teologis tentang pertobatan seperti inilah, Gereja sebagai sakramen keselamatan Allah yang mewartakan Kerajaan Allah sebagaimana telah diwartakan oleh Kristus mewartakan juga tentang pertobatan.

Oleh Gereja, pertobatan selalu dimaknai sebagai anugerah keselamatan Allah bagi manusia yang telah membebaskan manusia dari segala dosa dan kelemahannya melalui hidup, karya, sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Oleh karena penebusan-Nya di atas kayu salib, manusia dimungkinkan untuk selalu kembali kepada Allah. Anugerah itu terus menerus dicurahkan oleh Allah melalui Kristus hingga saat ini dalam sakramen baptis dan sakramen tobat. Dengan memberikan diri dibaptis, setiap orang dibebaskan dari dosa dan diangkat menjadi putra Allah sebagaimana Kristus sendiri telah membukakan pintu keselamatan yang telah tertutup oleh dosa Adam (kejatuhan Adam ke dalam dosa merupakan simbolisasi realitas manusia yang rapuh dan berdosa). Sementara dengan sakramen tobat, anugerah pembaharuan diri terus menerus dicurahkan agar setiap orang yang bertobat semakin serupa dengan Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Kepenuhan manusia).

Pada saat itulah manusia dimampukan untuk mengalami pertobatan personal sebagai wujud transendensi diri ke arah transformasi hidup yang berciri membebaskan. Pertobatan personal ini akan selalu menjadi dasar bagi terwujudnya suatu pertobatan sosial demi kesejahteraan bersama sebagai hadirnya Kerajaan Allah secara real saat ini maupun pada saat kepenuhannya nanti***