Katolik Sejati: Semakin Peduli dan Berbagi

imagesOleh Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr – Masa Prapaskah, Gereja Katolik mengajak segenap umatnya untuk menjalankan pantang dan puasa dalam membangun sikap tobat dalam rangka mempersiapkan Paskah. Selama menjalani masa prapaskah ini, segenap umat menjalani masa ‘retret agung’ selama 40 hari. Selama retret agung ini, umat menjalani masa puasa, dan pantang untuk mendukung gladi rohani dalam membangun pertobatan sebelum hari raya Paskah. Selama menjalani puasa dan pantang ini, umat diajak untuk semakin memperbanyak doa dan matiraga untuk semakin membangun sikap tobat dan hidup sesuai dengan sabda Tuhan.

Di Keuskupan Agung Semarang dan Gereja Indonesia, ulah rohani dalam puasa dan pantang selama masa Prapaskah ini disertai juga dengan tindakan kasih dan amal bakti. Tindakan kasih dan amal bakti ini terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP). Sesuai dengan namanya Aksi Puasa Pembangunan, maka Aksi ini adalah sebentuk gerakan mengurangi keinginan diri sendiri untuk disumbangkan bagi orang lain, demi pembangunan sosial masyarakat. Sebagai contoh: dengan berpuasa dan berpantang, kita mengurangi jatah makan kita atau keinginan kita untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Aksi Puasa Pembangunan ini kemudian dikumpulkan melalui lingkungan, paroki, keuskupan, dan kemudian disalurkan kepada saudara-saudara yang sungguh membutuhkan bantuan, entah di tingkat paroki, atau keuskupan. Orang-orang yang mendapatkan bantuan dari Aksi Puasa Pembangunan ini adalah mereka yang tergolong kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Di samping itu, APP ini dapat disalurkan untuk mendukung kegiatan pembinaan-pembinaan karakter kaum muda dan juga membantu sesama yang terkena musibah.

Pada prinsipnya, Aksi Puasa Pembangunan (APP) ini adalah gerakan untuk berpuasa dan berpantang demi berbagi serta peduli dalam membantu saudara-saudari kita yang amat membutuhkan bantuan kita.

Sikap tobat dalam masa prapaskah yang disertai dengan APP ini disamping memiliki dimensi teologis spiritual, juga memiliki dimensi humanis dan sosial. Dimensi teologi spiritual dari APP ini adalah sikap tobat dengan meninggalkan kelekatan-kelekatan manusiawi yang seringkali membuat kita jatuh dalam dosa. Kelekatan-kelekatan itu adalah berhala-berhala bagi kita yang menghalangi cinta serta ketaatan kita kepada Tuhan. Dengan berpuasa dan berpantang serta berbagi pada orang lain, kita diajak untuk berbalik dari sikap mementingkan diri sendiri ke arah pengabdian penuh kepada Tuhan melalui pemberian diri bagi kebaikan sesama kita. Dengan demikian, puasa serta mati raga dengan semakin peduli serta berbagi hidup ini adalah salah satu langkah untuk berbalik dari dosa-dosa ke arah panggilan Tuhan, yang membuat kita menjadi pribadi-pribadi merdeka, memiliki martabat anak-anak Allah sebagaimana yang telah kita terima sejak pembaptisan.

APP menjadi salah satu sarana bagi kita, orang Katolik untuk mengikuti Kristus yang telah rela untuk menderita, sengsara, wafat dan bangkit sebagai tebusan dosa manusia. Harapannya, gerakan APP yang kita lakukan di tengah-tengah dunia ini juga menjadi bagian dari ibadah kita yang sejati bagi Allah, yang telah begitu baik hati terhadap semua orang. Gerakan APP ini mendukung gladi rohani kita dalam rangka berjuang untuk semakin rendah hati di hadapan Allah, yang telah menerbitkan matahari untuk orang baik dan orang jahat, serta menurunkan hujan bagi orang benar dan orang fasik.

Sementara itu, APP juga memiliki dimensi humanis sosial. Sisi humanis dan sosial ini tampak dari komitmen APP untuk memberikan dana yang terkumpul dari umat sebagai wujud puasa dan matiraga itu bagi orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD). Selain  diberikan untuk orang-orang yang termasuk kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD), APP juga diberikan kepada umat maupun warga masyarakat yang sungguh membutuhkan bantuan karena sedang mendapatkan musibah atau kecelakaan. Di samping itu, dana APP juga dapat digunakan untuk membantu pembinaan karakter bagi anak-anak muda demi pembangunan Gereja dan Bangsa. Dengan demikian, APP ini berdimensi humanis karena memperhatikan dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Bagi para umat yang menjalankannya, Gerakan APP ini dapat menjadi bagian dari wujud tanggung jawab untuk menghargai dan menjunjung tinggi martabat manusia. Sementara itu bagi orang-orang yang dibantu, mereka akan merasakan perhatian dari sesamanya sebagai bagian dari sikap cinta kasih serta kepedulian terhadap kesejahteraan umum. Dengan menjunjung tinggi martabat manusia, Gerakan APP ini dapat menjadi bagian dari habitus baru yang mencerahkan bagi masyarakat kita yang tengah dilanda egosentrisme pribadi yang terkadang mengorbankan manusia lain demi kepentingan diri sendiri maupun golongan.

Menjadi Katolik Sejati

Sejak tahun 2011, Keuskupan Agung Semarang mengajak umatnya untuk menjadi Orang Katolik Sejati. Secara khusus, ajakan tersebut dituangkan dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-2015 yang mengajak segenap umat beriman di Keuskupan Agung Semarang ini untuk semakin relevan dan signifikan. Menjadi umat yang relevan itu artinya di dalam kehidupan intern Gereja Katolik sendiri, antar sesama umat Katolik semakin mampu membangun persaudaraan sejati yang mengembangkan satu sama lain. Dengan semakin relevannya umat Katolik secara intern, harapannya, Umat Katolik pun menjadi semakin signifikan bagi masyarakat sekitarnyanya (ekstern). Tujuan utama dari semakin relevan dan signifikannya umat Allah ini adalah demi menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah bumi Indonesia. Menghadirkan Kerajaan Allah ini adalah tugas perutusan yang sejati bagi orang-orang Katolik Sejati.

Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2011-2015, segenap umat beriman di Keuskupan Agung Semarang ini kembali diajak untuk bergiat dalam mengembangkan iman yang mendalam dan tangguh, sebagai bagian dari perjuangan untuk menjadi orang Katolik Sejati. Dengan memiliki iman mendalam dan tangguh ini, umat diajak untuk semakin mau terlibat sebagai saksi Kristus bagi kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan memiliki iman yang mendalam dan tangguh, umat pun diharapkan selalu memiliki perhatian terhadap kaum KLMTD serta memiliki semangat untuk terus menerus terlibat dalam usaha memelihara keutuhan ciptaan.  Secara khusus, pada masa Prapaskah tahun 2012 ini, tema APP yang dikembangkan oleh Keuskupan Agung Semarang adalah: Menjadi Katolik Sejati dengan Semakin Peduli dan Berbagi.

Tema APP tahun 2012 ini mengarahkan segenap umat beriman untuk semakin menjadi orang Katolik Sejati dengan semakin peduli serta berbagi bagi sesama. Kiblat utama untuk menjadi orang Katolik sejati adalah Yesus Kristus sendiri yang telah memberikan diri sebagai tebusan dosa manusia. Dalam keseluruhan hidup-Nya, Yesus selalu peduli dan berbagi bagi sesama, terutama bagi orang-orang yang miskin, sakit, cacat, dan berdosa. Kepedulian dan sikap berbagi dari Yesus ini membawa keselamatan bagi orang-orang yang menderita sehingga mereka pun berjumpa dengan Kerajaan Allah. Dengan mengikuti Kristus yang peduli dan berbagi untuk keselamatan sesama, kita (segenap umat beriman) diajak untuk menjadi orang Katolik Sejati yang mau peduli serta berbagi bagi kesejahteraan sesama. Sikap peduli dan berbagi ini menjadi salah satu wujud pertobatan dari sikap mementingkan diri ke arah ketaatan terhadap Allah dengan memberi diri bagi orang lain. Sikap peduli dan berbagi ini juga merupakan habitus baru yang mengubah kita dari pribadi egois ke arah pribadi yang taat kepada Tuhan melalui kasih terhadap sesama.

Peduli dan Berbagi sebagai Habitus Baru

Marilah kita menanggapi tema dari Prapaskah 2012 ini dengan menjadikan masa prapaskah ini sebagai masa penuh rahmat yang mengubah kita menjadi manusia baru dengan habitus baru, yakni semakin peduli dan berbagi. Sikap tobat kita diwujudkan dengan semakin peduli serta berbagi pada sesama, baik melalui gerakan APP maupun dalam sikap kita sehari-hari. Dengan demikian, kita terlibat untuk saling bahu membahu dalam menghadirkan Kerajaan Allah bagi masyarakat kita, demi semakin relevan dan signifikannya Gereja Katolik di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Bagi Umat Katolik Paroki St. Perawan Maria Fatima Sragen, marilah kita memiliki semangat baru untuk semakin mau terlibat dalam kegiatan menggereja, sesuai dengan apapun yang kita miliki. Semakin peduli dan berbagi dalam kegiatan-kegiatan gereja, entah di tingkat lingkungan, wilayah, maupun paroki. Selain itu, marilah kita semakin memiliki sikap yang rendah hati serta tulus ikhlas dalam mengembangkan hidup menggereja di antara kita, sehingga bukan baju kita yang dikoyakkan, namun hati kita. Memiliki semangat baru untuk berani menderita sengsara, wafat seperti Kristus demi orang lain, agar kita pun diperkenankan untuk bangkit bersama Kristus, dalam KerajaanNya yang membahagiakan.***