Dengan Kebangkitan Yesus, sesungguhnya kita berhutang pada-Nya

Yesus bangkitOleh: Ibu Ateng Haryanto – “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku,’demikian kata Tuhan Yesus kepada orang-orang yang mau mengikuti-Nya.” Kedengarannya sederhana, tetapi melaksanakan tidaklah sederhana. Kalau semua orang bisa dengan gampang menyangkal diri dan memikul salib, oh..betapa akan damainya dunia ini. Tidak akan ada keluarga yang berantem lalu berantakan, gereja yang berantem lalu pecah, masyarakat yang berantem lalu rusuh. Dunia akan tenteram dan tenang. Seumpama danau tanpa riak gelombang atau langit cerah tanpa awan hitam. Sungguh menyenangkan.Apa sih artinya menyangkal diri dan memikul salib? Dan kenapa itu tidak mudah? Pertama, menyangkal diri. Artinya menahan diri. Tidak mudah, sebab manusia memiliki kecenderungan mencari yang enak, melakukan segala hal yang menyenangkan dirinya. Sekalipun mungkin ia tahu bahwa itu tidak ada gunanya. Atau bahkan merugikan, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Kita, misalnya cenderung lebih senang bermalas-malasan daripada belajar atau bekerja keras. Lebih senang nonton acara bagus di televisi daripada harus hadir di kegiatan kerohanian. Lebih senang melampiaskan kedongkolan dan kemarahan, daripada mengalah dan meminta maaf. Lebih senang mengambil jalan pintas yang gampang dan enak, daripada bersusah payah berusaha. Pokoknya yang enak, nikmat, gampang, menyenangkan dan memuaskan hati. Karena kecenderungan inilah, maka menahan diri itu perlu. Kita perlu menahan diri dari kemalasan, dari keinginan untuk melampiaskan amarah dan kejengkelan secara membabi buta. Kita perlu menahan diri dari godaan untuk mengambil jalan pintas yang gampang dan enak tetapi menyesatkan dan banyak lagi. Ada banyak masalah di sekitar kita yang faktor penyebabnya adalah karena orang tidak bisa menahan diri. Kejahatan, pertikaian antar kelompok masyarakat, perselisihan antar anggota keluarga, atau korupsi dan kolusi kerap terjadi karena orang tidak mampu menahan diri, hanya mengikuti emosi. Akal sehat tidak dipakai. Kedua, memikul salib. Artinya, bersedia melakukan atau menanggung sesuatu demi iman kita kepada Tuhan dan pelayanan kita terhadap sesama. Sekalipun mungkin itu tidak menyenangkan, atau bahkan menyakitkan. Dan itu tidak hanya terwujud dalam tindakan-tindakan “besar”. Misalnya, rela menderita ejekan dan ancaman demi iman kepada Tuhan Yesus atau rela meninggalkan segala sesuatu demi memenuhi misi pelayanan yang Tuhan embankan. Namun, itu juga tampak dalam wujud tindakan sehari-hari. Misalnya, mengorbankan waktu. Atau melepaskan kesenangan pribadi demi kesaksian iman kita atau demi sesama yang membutuhkan pertolongan. Tidak gampang? Jelas. Contoh kecil saja: di banyak gereja, untuk mencari orang yang mau menjadi anggota gereja atau personalia komisi dan panitia-panitia kegiatan gereja, susahnya bukan main. Memang, bisa karena berbagai alasan pribadi yang dapat dipertanggungjawab¬kan. Namun, tidak jarang juga karena pada dasarnya mereka tidak mau repot, tidak mau memikul tanggungjawab, tidak mau berkorban, tidak mau kecewa dan sebagainya. Kita lebih memilih “Bersembunyi dibalik salib.” Padahal dalam Alkitab tidak ada satupun ayat yang menyuruh kita bersembunyi dibalik salib. Tuhan Yesus juga tidak pernah meminta begitu. Salib bukan untuk dijadikan tempat bersembunyi, tetapi dipikul. Begitulah, menyangkal diri dan memikul salib memang bukan perkara gampang dan sederhana. Sebab, itu berarti kita harus menguasai atau menundukkan diri sendiri. Dan seperti kata pepatah, ”Lebih mudah menguasai ribuan pasukan perang daripada menguasai diri sendiri.’ Akan tetapi, itulah yang harus kita lakukan kalau mau mengikut Kristus. Iman Kristiani memang bukan iman yang gampangan. Lagi pula, toh yang kita dapatkan adalah sesuatu yang teramat berharga dan mulia. Sesuatu yang bernilai abadi. Pertanyaan untuk untuk kita renungkan: Kalau Tuhan sudah begitu banyak memberikan anugerah-Nya kepada kita, lalu apa yang sudah kita berikan kepada-Nya? Apa balasan kita? Ada satu cerita: Ada seorang pria bangsawan sedang berjalan-jalan naik kereta kuda, menikmati panorama akan sekitar. Tiba-tiba dia melihat sebuah gambar besar di pinggir jalan; Gambar Tuhan Yesus sedang disalib, bermahkota duri dengan luka-luka disekujur tubuh. Dibawah gambar itu ada kalimat: Ini yang sudah Aku lakukan buat kamu, apa yang sudah kamu lakukan buat aku?” Sekarang mari kita bayangkan: Tuhan berdiri dihadapan kita dan bertanya: “Aku sudah memberikan kepadamu kehidupan, kemampuan ini dan itu, pekerjaan, kesehatan, keluarga, rejeki dan waktu. Bahkan yang paling utama bagi manusia: Keselamatan! Lalu apa yang sudah kamu lakukan untuk aku?” Yang seringkali terjadi, kita seperti anak kecil dalam cerita berikut. Ada seorang anak pergi makan berdua dengan ayahnya di sebuah restoran fried chicken. Anak itu makan lahap sekali. Sang ayah rupanya pura-pura mau mengambil sepotong ayam yang ada dihadapan si anak. Anak itu langsung menepis tangan ayahnya,’Ayah, ini kan punyaku. Jangan diambil dong” Aneh, bukan? Ayah membelikan anak itu ayam, sang ayah tentunya berhak mengambil ayam itu. Akan tetapi, toh kita sering menjadi seperti si anak itu. Ketika Tuhan meminta sedikit saja waktu kita, uang dan tenaga kita; perasaan dan pikiran kita. Kita malah menepisnya, “Maaf, Tuhan, ini milik saya, jangan diambil!” Kita menganggap segala yang ada pada kita adalah milik kita pribadi. Padahal semua itu adalah anugerah Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Doa dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36). Jadi, sesungguhnyalah dengan kebangkitan Yesus, kita adalah orang-orang yang berhutang kepada Tuhan.*** Penulis tinggal di Griya, Puro Asri, Sragen