Rm. Robertus Hardiyanta,Pr : Kebangkitan Kristus menggerakkanku untuk menjadi Katolik Sejati dengan semakin Peduli & Berbagi

Romo HardiOleh: Rm. Robertus Hardiyanta, Pr – Suatu hari seorang bocah miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah demi membiayai sekolahnya. Ia merasa lapar dan haus, tapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit sekali uang. Anak itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat. Tetapi saat seorang gadis muda membukakan pintu, ia kehilangan keberaniannya. Akhirnya ia hanya meminta segelas air putih untuk menawarkan dahaga. Gadis muda itu berpikir pastilah anak ini merasa lapar, maka dibawakannyalah segelas besar susu untuk anak tersebut.

Ia meminumnya perlahan, kemudian bertanya,: “Berapa saya berhutang kepada anda?” “Kamu tidak berhutang apapun kepada saya,” jawabnya. “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang kami lakukan.” Anak itu menjawab, “Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam.” Saat Howard Kelly – anak kecil yang miskin itu – meninggalkan rumah tersebut, dia bukan hanya merasa badannya lebih segar, tetapi keyakinannya pada Tuhan dan sesama manusia menjadi lebih kuat. Sebelumnya dia sudah merasa putus asa dan hampir menyerah.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari wanita muda tersebut mengalami sakit parah. Dokter yang menanganinya merasa bingung dan akhirnya mengirim wanita itu ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan spesialis. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk berkonsultasi. Ketika ia mendengar nama kota tempat asal si pasien, ia segera pergi ke kamar tempat di mana wanita tersebut dirawat. Ia langsung mengenali dan memutuskan untuk melaku¬kan hal terbaik yang bisa ia usahakan untuk menolongnya. Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus pada kasus ini. Setelah melewati perjuangan panjang, peperanganpun dapat dimenangkan.

Dr. Kelly dipanggil oleh pihak administrasi untuk menandatangani biaya yang harus dibayarkan oleh si wanita kepadanya. Ia melihat kepada kuitansi tersebut, dan kemudian menuliskan sesuatu. Kuitansi tersebut lalu di kirim ke kamar perawatan si wanita. Wanita tersebut merasa takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin bahwa ia tidak akan mampu membayarnya. Akhirnya dengan menguatkan hati, ia melihat kuitansi tersebut. Sebuah tulisan pada kuitansi telah menarik perhatiannya. Ia membaca tulisan itu : “TELAH DIBAYAR PENUH DENGAN SATU GELAS SUSU.” Tertanda: Dr.Howard Kelly.

Air mata mengalir dari matanya saat hatinya yang bahagia mengucapkan doa dan pujian:”Terima kasih Tuhan, kasih-Mu telah memancar melalui hati dan tangan manusia.”

Pembaca LENTERA yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, kisah di atas kiranya jauh lebih berbicara dan langsung kena sasaran ketika kita merenungkan tentang ‘peduli’ dan ‘berbagi’. Kepedulian gadis tersebut terhadap Howard Kelly, tumbuh sebagai suatu ‘habitus’ yang ditanamkan dalam diri gadis itu oleh ibunya yang mengajarinya, “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik yang kami lakukan.” Kepedulian terhadap sesama bukan suatu sikap yang tiba-tiba muncul dan dimiliki seseorang kalau tidak pernah dibina sebagai suatu ‘habitus’. Kepedulian itu menggerakkan hati gadis tersebut untuk berbagi. Yang diminta Kelly sebenarnya hanya segelas air putih, tetapi gadis itu justru memberikan segelas besar susu kepada orang yang tidak dia kenal itu.

Sebaliknya apa yang dilakukan oleh Dr. Howard Kelly kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya puluhan tahun silam, lebih mengagumkan lagi. Ia memberikan yang terbaik yang bisa menyelamatkan nyawa orang yang telah berbuat baik kepadanya. Tampaknya ini hanya sekadar perbuatan ‘balas budi’ saja; tetapi sesungguhnya jauh melebihi. Howard Kelly menjadi seorang dokter bukan dari keluarga kaya, tetapi karena hasil perjuangannya dan kerja kerasnya dari keadaannya yang miskin dengan mau berjualan dari rumah ke rumah. Ketika kini ia telah menjadi dokter ahli yang ternama, ia tidak lupa akan keadaannya dulu. Kasih Tuhan yang besar yang pernah ia terima sehingga menjadikannya seorang dokter itulah yang menggerakkan hatinya untuk berbagi. Ia tidak mencari kesempatan untuk mendapat bayaran yang banyak dari orang kaya yang ia kenal pernah berbuat baik kepadanya.

Paskah adalah pengalaman kasih Tuhan yang amat luar biasa kepada kita, hingga Yesus mengurbankan hidupnya bagi keselamatan kita. Kalau kasih Yesus itu tidak pernah menyentuh hati kita, inti hidup kita, kita tidak akan pernah tergerak untuk menjadi orang yang peduli dan rela berbagi.

Kecenderungan hidup manusia dewasa ini adalah menjadi ‘hedonis’, yakni senang menikmati kenyamanan, kemapanan dan fasilitas atau kemudahan hidup yang mengenakkan, tanpa mau berjuang bagaimana caranya mendapatkan. Hedonisme menjadikan orang malas dan lebih suka mengasihani diri sendiri; tetapi orang yang mengasihani dirinya sendiri, takut sakit, takut ‘ngrekasa’ adalah tanda orang yang lemah.

Kematangan hidup seorang murid Kristus ditandai dengan orientasi hidup yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi keluar dari kepentingan diri. Itulah hidup Kristus, itulah semangat Paskah. Ketika orientasi hidup tidak lagi pada kepentingan diri, barulah orang peduli dan rela berbagi, bahkan dengan tidak tanggung-tanggung, memberikan dirinya. Maka ketika orang tergerak hatinya untuk berbagi dengan ikhlas, terjadilah kebangkitan dalam diri orang itu. Perlu diingat bahwa ada cukup banyak orang yang mau berbagi, tetapi ada maksud yang tersembunyi di balik perbuatannya itu, entah untuk mencari ketenaran nama diri, untuk menutupi citra hidupnya yang buruk atau merupakan suatu bentuk penyuapan, “ada udang di balik bakwan.”

Semoga kisah di atas memberi inspirasi untuk makin menggerakkan hati kita sehingga kita menjadi orang yang makin peduli terhadap kehidupan sesama, lebih-lebih yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel; dan menjadi orang yang rela berbagi, bukan hanya sekadar memberika sebagian dari kepunyaan kita, tetapi rela memberikan diri, seperti Kristus. Selamat PASKAH!

Sragen, 02 April 2012

Rm. Robertus Hardiyanta, Pr

Pastor Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen