Novena 3 Ngrawoh: Pertobatan, Bangkit Bersama Kristus Membangun Kebersamaan dan Kerjasama sebagai Umat Allah

530450_326378802580rm suryoNgrawoh (LENTERA) – “Semangat Paskah, sepertinya telah menggerakkan umat dalam novena kali ini. Terbukti malam hari ini yang datang banyak sekali”, begitu kesan yang sempat diungkapkan oleh salah seorang peziarah yang sempat ditemui penulis. Memang malam hari itu, Kamis (19/04) umat yang menghadiri ekaristi Novena III putaran II di Gua Maria Fatima Ngrawoh lebih banyak dari yang sebelumnya. Yah….kira-kira ada lebih dari 500 orang. Setiap sudut gua dan bahkan di bagian gasebo pun penuh dengan peziarah.

Tema permenungan dalam Novena III putaran ke II ini adalah Pertobatan :”Bangkit Bersama Kristus Membangun Kebersamaan dan Kerjasama sebagai Umat Allah”. Perayaan Ekaristi pada Novena kali ini dipimpin oleh Rm. Agustinus Suryonugroho, Pr. Semarak perayaan Ekaristi novena III dimeriahkan oleh Koor Santa Monica Sragen. Petugas liturgi dipercayakan pada umat dari wilayah St. Mateas Masaran.

Begitu membuka perayaan Ekaristi, Rm. Ag. Suryonugroho, Pr menyampaikan salam kerinduannya kepada umat paroki Santya Perawan Maria Fatima Sragen karena telah sekian lama tidak berjumpa.  Bagi Rm. Suryo, umat Paroki Sragen merupakan umat yang memberikan arti tersendiri dalam pergulatan panggilan imamatnya. Di Paroki inilah beliau pertama kali ditugaskan sesudah menerima rahmat tahbisan. “Wonten paroki punika, kula saged mangertosi punapa maknanipun dados imam lan pamong umat”, begitu ungkapnya.

Dalam awal kotbahnya, Rm. Suryo mengajak umat untuk sejenak memahami apa yang dimaksud dengan beriman. Jalan untuk mendapatkan keselamatan kekal tiada lain adalah percaya. Apa itu percaya? Pada apa atau siapa kita percaya? Dalam tradisi iman katolik, sikap percaya mencakup dua subyek yang perlu kita percayai, yaitu percaya kepada Yesus Kristus dari Nasareth adalah Putera Allah yang hidup dan percaya bahwa Allah Bapa adalah Mahakasih sehingga Ia mengutus Yesus Kristus, Putera TunggalNya demi keselamatan dunia.

Dari kepercayaan tersebut tampak bahwa kebahagiaan kekal bukanlah hal yang terjadi nanti tetapi sekaranglah kebahagiaan itu terjadi, yaitu ketika kita menyatakan kepercayaan kita. Syarat utama agar orang bisa percaya adalah pertobatan. Dalam bacaaan I, tampak jelas bagaimana Rasul Petrus memberikan pemahaman tentang pentingnya pertobatan. “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu…”.

Rm. Suryo, Pr menegaskan bahwa iman berawal dari mendengarkan. Semakin orang mampu mendengarkan dengan seksama kesaksian dan Sabda Allah maka dengan sendirinya iman juga akan bertumbuh dan berkembang semakin mendalam. Dari pemahaman ini maka semakin jelas bahwa kalau telinga ini “BERES” maka iman akan bertumbuh. Persoalan yang sering terjadi adalah bahwa “telinga kita tidak beres”. Pikiran-pikiran yang memenuhi otak, lamunan dan beban-beban persoalan dalam hidup sering membuat telinga kita menjadi “TULI” untuk mendengarkan kesaksian dan Sabda Allah.

Rm. Suryo, Pr memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari perihal kenyataan tersebut. Tiap kali memulai kotbah atau sesudah perayaan Ekaristi, beliau senantiasa bertanya kepada umat apa yang tadi telah didengarkan saat mengikuti Ekaristi. Ternyata jawaban yang sering muncul adalah wah….lupa Romo atau hanya diam sambil mesam-mesem saja. Ini menandakan bahwa banyak umat yang belum mampu untuk mendengarkan sabda secara benar. Hal yang sederhana saja (misalnya meminta umat membawa pulang teks misa untuk dijadikan bacaan rohani di rumah sesudah misa) masih sering kurang didengarkan. Masih banyak umat yang meninggalkan teks misa di gereja.

Lebih lanjut, Rm. Suryo, Pr menegaskan bahwa pertobatan bukan semata-mata bermakna privat atau sendiri. Pertobatan yang nyata adalah pertobatan yang bermakna dan mempunyai daya pembaharuan sosial. Artinya bahwa dalam tradisi hidup iman Kristiani “dadi wong suci dhewekan kuwi ora ana gunane. Nanging dadi suci kanggo wong akeh, tanda keslametan kanggo donya”. Dalam konteks seperti ini maka pertobatan bermakna sebagai kesaksian dan warta iman bagi banyak orang.

Sejenak mari kita merengungkan makna tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari dan kebersamaan hidup kita dalam keluarga dan masyarakat. Untuk apa kita mengikuti novena? Kalau kita mengikuti novena hanya untuk kesalehan pribadi maka itu berarti kita belum mampu “andum berkah”. Ada kritik yang sering dilontarkan bagi para penggemar devosi, yaitu kalau tidak hati-hati maka devosi dapat melemahkan pewartaan sabda. Apakah kenyataan ini juga terjadi dalam hidup kita?

Kisah pergumulan iman Maria Magdalena dalam menanggapi makna kebangkitan memberi inspirasi bagi kita. Setelah melihat keadaan makam yang kosong, Maria Magdalena langsung “cengkelak” untuk berbalik dan mewartakan Kristus yang bangkit kepada para murid lainnya. Daya untuk “cengkelak” menyampaikan warta kebangkitan kepada yang lain inilah daya yang mestinya hidup dalam sikap iman kita. Dengan kata lain, apakah devosi novenaku  membuat aku juga “cengkelak” untuk berbalik mewartakan makna keselamatan dalam Allah pada orang lain?

Warta iman merupakan dasar untuk membangun kebersamaan dan kerjasama dalam hidup sehari-hari. Hal ini dapat kita perjuangkan melalui keluarga-keluarga kita. Terkait dengan permenungan ini, Rm. Suryo, Pr menyampaikan celoteh sederhana terkait dalam kehidupan keluarga. Adalah baik kalau dalam keluarga, khususnya suami atau isteri jangan pernah merasa cukup untuk menjadi suci bagi diri sendiri. Namun demikian, hendaknya menjadi suci untuk bersama. Ingat pada janji perkawinan, yaitu saling menyucikan. Untuk itu, masing-masing suami atau isteri jangan puas kalau belum mampu menyucikan satu dengan yang lain. “Aja kesusu sowan Gusti yen durung damel sisihan lan putra-putra dadi suci. Nek isa ya mlebu suwarga bareng-bareng aja kanggo awake dhewe. Nek perlu sowane bareng…he….he…he…”, begitu celoteh Rm. Suryo, Pr.

Pentingnya warta iman akan kebangkitan yang mampu membangun kebersamaan hidup dan kerjasama ini juga sering kita renungkan setiap kali kita mengakhiri ekaristi. Tiap Ekaristi berakhir kita diberi perutusan. Ite Misa est (pergilah kamu Diutus). Persoalannya adalah apakah kita sadar dan paham dengan perutusan itu? Seringkali, kita mengikuti ekaristi tidak dengan motivasi yang benar dan tulus sehingga kita tidak mampu memahami makna perutusan yang dimaksud. “Menawi dalu punika, saksampunipun berkat perutusan, panjenengan sedaya dereng mangertos, dereng mudeng kalih perutusanipun, pramila apun kondur rumiyin. Lenggah lan sembahyang nyuwun supados mangertosi maknaning perutusan misa dalu punika”, ungkap Rm. Suryo, Pr

Menutup kotbahnya, Rm. Suryo, Pr menyampaikan bahwa Gereja, tempat devosi dan dinamika iman lainnya akan bertumbuh dan berkembang kalau ada orang yang bersedia menyerahkan diri atau berbagi hidup bagi orang lain. Tiap kali imam memulai ekaristi senantiasa memberi penghormatan dengan mencium altar, yang melambangkan kristus yang mengorbankan diri bagi umat manusia. Tempat ziarah ini juga akan menjadi hidup dan berkembang kalau ada orang yang mau berbagi. Inilah inti dari kesaksian dan warta iman yang nyata.(Srie