Goa Maria Ratu Kedawung

MBAH KARDIKedawung (LENTERA) – Goa Maria Ratu Kedawung sebetulnya belum terpikirkan, karena saat itu Gereja Paroki Sragen sedang direnovasi. Patung Maria di Gereja Paroki diganti baru, sedangkan yang lama dipasang di Gereja Kedawung.  Karena sudah ada patung Maria, maka Mudika Kedawung bekerja keras mencari dana untuk mem­bangun Goa Maria. Mereka membuat Rosario, dan souvenir lainnya untuk dijual. Mereka juga membuka warung Hik malam hari, hasil keuntungan­nya digunakan untuk membangun Goa Maria yang terletak di pojok utara belakang Gereja Kedawung.

Tanggal 15 Agustus 2005 dimulai pembangunan Goa Maria Kedawung dan diberkati Romo Agustinus Suryonugroho Pr. dalam Misa Wilayah Kedawung.

Dalam perjalanannya, tanpa promosi media masa, ternyata ada peziarah datang satu mobil Kijang penuh penumpang dari Temanggung yang mengaku sampai disitu karena petunjuk mimpi. Hingga kini peziarah dari berbagai kota: Magelang, Purwodadi, Parakan dan dari Lanud Iswahyudi Madiun (TNI AU) 11 orang turut berdatangan ke Goa Maria Ratu Kedawung.

Suatu hari ada seorang Non Katolik (Suhu, kata orang) minta ijin Romo Djati berdoa kepada Ibu Ratu menurut istilah mereka dan diijinkan sampai sekarang masih aktif.

Goa Maria Ratu Kedawung setiap malam Selasa Kliwon & malam Jumat banyak dikunjungi para peziarah, ada satu lingkungan mengadakan ibadat dengan dipandu Prodiakon. Pada waktu Romo Issri dan Romo Djati pernah mengadakan Misa malam pernah diliput TATV Solo dan wartawan Joglo Semar.

Bulan Mei bulan Maria ini diadakan Ibadat Sabda setiap malam Jumat yang bertugas  lingkungan  dalam wilayah Kedawung bergantian. Pada tanggal 31 Mei 2012 akan diadakan Misa penutupan bulan Maria yang dipimpin oleh Romo. (Skrd)