Ia yang pergi akan kembali

Yesus naik ke SurgaOleh: D. Soepardi – Tanggal 17 Mei adalah HARI RAYA KENAIKAN TUHAN  YESUS KRISTUS, sekaligus menutup jangka waktu  yang  penting, yaitu jangka waktu kehidupan Yesus Kristus di bumi, dimulai dengan peristiwa Natal Betlehem dan ditutup dengan peristiwa Kenaikan Yesus di Bukit Zaitun. Antara Natal dan Kenaikan terdapat kisah Yesus orang Nasaret dalam suka-dukaNya sebagai Juru selamat manusia.

Antara Betlehem dan bukit Zaitun terdapat rentetan peristiwa-peristiwa  suci, kisah karya Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia. Dan dari semua kisah dalam rentetan-rentetan peristiwa itu, salib dan kebangkitan mengambil tempat yang sentral dan utama. Melalui salib dan kebangkitan itulah manusia yang telah mati dalam dosa dibangkitkan untuk hidup yang baru, diberikan kedudukan menjadi anak-anak Allah.

Sesudah berlangsung kedua peristiwa yang sentral dan pokok itu, maka hari itu Yesus dan para muridNya telah berada di atas bukit Zaitun. Dari atas bukit itu Yesus melayang­kan pandanganNya berkeliling ke kota Yerusalem dengan bait Allahnya yang megah, yang kelak diratakan dengan tanah, karena penduduknya yang tidak mau percaya. Melayangkan pandangan kepada jalan berliku-liku yang pernah ditempuhNya dengan memanggul salib: VIA DOLOROSA!

Yesus melayangkan pandanganNya ke taman Getsemani yang diteduhi oleh pohon-pohon zaitun, tempat yang sudah menelan tetesan-tetesan peluh seperti darah, ketika Ia  bergumul menerima cawan yang diberikan BapaNya. Melayangkan pandanganNya ke bukit Golgota, tempat Yesus dinista, diolok-olok dan ditikam. Melayangkan pandanganNya ke kebun Yusuf Arimatea, tempat kuburan yang sudah terbuka untuk selama-lamanya. Tidak dapat kita membayang­­kan segala pikiran Yesus ketika memandang semua itu. Tetapi tentu hatiNya lega, karena tugas penyelamatan seberat itu sudah dilaksanakan­Nya dengan baik dan sempurna.

Hati Yesus lega, karena dengan memasuki dan mengalami semua kepahitan dan penderitaan itu, terbukalah jalan keselamatan bagi manusia. Sekarang Yesus hendak kembali. Sebelas murid­Nya, semua orang Galilea mengelilingi­Nya. Kepada mereka, Yesus memberikan pesan-pesan terakhir untuk menyaksikan karya penyelamatan yang telah selesai dikerjakan­Nya bagi manusia. Selesai berkata-kata, tiba-tiba terangkatlah Yesus, sementara para murid memandang­Nya, para murid terdiam dan dengan penuh hormat mengikuti Dia dengan matanya.

Tetapi tiba-tiba awan menyelubungi kemuliaanNya dan lenyaplah Yesus dari pandangan mereka. Para murid mengerti dan ingat akan perumpamaan yang telah diberikan oleh Yesus yaitu perumpamaan tentang ”Seorang tuan yang berangkat ke negeri yang jauh.” Siapakah tuan itu? Mereka mengerti sekarang, bahwa tuan itu adalah Yesus Kristus.

Dalam perumpamaan itu dihadapkan dua macam hamba, yang satu hanya melihat kepada kenyataan, bahwa tuannya sudah pergi. Oleh karena itu ia mulai mabuk, semua tugas yang dipercayakan dilalaikan, memikirkan kepentingan mereka sendiri. Tetapi hamba yang lain memusat­kan pikiran­nya bukan pada kepergian tuannya, tetapi kepada kedatangan­nya kembali. Oleh karena itu ia bekerja dengan teliti,  tahu bahwa sebentar lagi tuannya akan kembali dan harus memberikan pertanggungan­jawab sepenuhnya.

Akhirnya tuan itu kembali di saat yang tidak diduga. Hamba yang pertama kedapatan dalam keadaan mabuk, ia dipecat. Tetapi hamba yang setia itu, kepadanya dipercayakan segala milik tuannya. Inilah inti sari dari permenungan tentang ”YANG PERGI AKAN DATANG KEMBALI”.

Yesus pergi untuk kembali, berarti meninggalkan kita suatu tanggung jawab. Maksudnya: Yesus pergi, supaya kita bekerja. Yesus pergi, supaya kita diuji, sampai dimana kesetiaan kita selama Yesus tidak lagi hidup di dunia seperti masa hidupNya. Bukanlah merupa­kan perkara kebetulan, bahwa kita disuruh hidup antara masa kenaikan dan kedatangan kembali .

Yesus datang di waktu lalu, dan akan datang lagi di waktu depan. Dalam kedatangan pertama Yohanes Pembabtis ditugaskan menyiapkan suatu bangsa yang tersedia bagiNya. KedatanganNya yang kedua, bukan lagi Yohanes Pembabtis yang bertugas, tetapi kita yang sudah ditebus/ dibabtis dan diselamatkan, kita yang disuruh hidup antara masa Kenaikan dan Kedatangan kembali, kitalah yang meng­gantikan Yohanes Pembabtis menyiapkan segala bangsa untuk menyambut Kristus.

Apakah untuk kedatangan yang kedua kita yang sudah ditebus berlipat tangan saja? Kita berkhianat kepada panggilan kalau hanya hidup untuk diri sendiri. Kita berkhianat kalau kita menyangka bahwa tugas persiapan itu adalah tugas orang lain dan bukan tugas kita, kita berkhianat kalau hidup di bumi ini hanya untuk berebutan rezeki saja. Sesungguhnya mencari rezeki itu adalah merupakan alat/sarana saja,sedang tujuan dan panggilan hidup kita lebih mulia dari pada itu.

Mari saudaraku pada hari ini hendaknya kita mulai menyadari lagi akan tugas kita. Marilah kita turun dari bukit Zaitun bersama-sama murid-murid itu ke dunia di bawah kita. Bukan untuk Yerusalem, tetapi untuk lingkungan kita masing-masing, ke rumah tangga kita, ke tempat pekerjaan kita, ke kantor kita, ke sekolah kita, ya kemana saja untuk mempersiapkan sesama kita, supaya apabila Raja yang pergi ke negeri yang jauh itu datang, janganlah kita disesah, tetapi ditetapkan untuk mendapat bagian bersama-sama dengan Yesus dalam kemuliaanNya.

Ingatlah akan perkataan malaekat: ”Yesus ini yang terangkat ke Sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali.” Dan tugas mempersiapkan sesama kita di dunia ini untuk menyambut kedatanganNya bukanlah tugas orang lain, tetapi tugas setiap orang yang sudah ditebus, tugas saudara / anda dan tugas saya,tugas kita bersama. Amin***