Maria dan Keluarga Kita

StMary_d

oleh: C. Dwi Atmadi – Nampaknya, Maria menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Menyadari bahwa Alllah sangat kuasa termasuk dalam merencanakan roda kehidupan keluarga. Maka ketika Maria menerima kabar bahwa dirinya akan menjadi Bunda Allah, Maria dengan tulus berkata, ”Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Sikap inilah yang menjadi kekuatan suatu keluarga.

Nostalgia Seorang Manusia

Kehidupan keluarga adalah kehidupan yang berat, banyak tantangan dan banyak tuntutan. Dan ujung tombak keluarga adalah anak. Terus terang keluarga menjadi meriah dan ’regeng’, agung kalau ada tangis anak, ketawa anak yang terpingkal-pingkal, dst. Diakui bahwa anak itu lucu, menggemaskan, maka tak heran kalau semua bintang di dunia, misalnya bintang film, bintang olah raga, bintang musik, yang mempunyai banyak prestasi dengan banyak piala kejuaraan, merasa bahwa seluruh hadiah itu tidak ada artinya, tidak sebanding dengan anak yang lucu. Mengapa lalu sikap hidup keluarga ini menjadi demikian? Karena pada dasarnya manusia ingin bernostalgia untuk menapaki jalan hidup ini dari nol. Seolah hidup lalu merentang jauh, dan ingin meraih segala-galanya di masa nanti. Dan itu yang akan memperjuangkan adalah anak yang jenaka tadi. Ayah dan ibu sudah mentok dengan hadiah-hadiah prestasinya, tetapi anak akan mulai mengejarnya dari awal mula.

Tetapi di lain pihak, kehidupan yang merentang panjang tadi menjadi ’absurd’ tidak ada kepastian. Sebenarnya sangat kasihan. Dan kepedihan hati seorang ayah-ibu yang sangat mendalam adalah kalau melihat ketidakberdayaan si bocah kecil. Bocah (bunga dari sebuah keluarga), adalah karunia dari atas. Dan sekali melihat seorang bocah kecil, kita akan pasrah kepada Allah, karena bagaimanapun Allahlah yang nanti sepenuhnya membuat rencana yang istimewa. Manusia hanya sekedar membuat strategi kehidupan, tetapi sarana dan jalan sudah disediakan oleh Allah.

Cara Melihat Kehendak Allah

Letak kekuatan sikap Maria yang harus kita jadikan pedoman: Fiat voluntas Tua (Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu). Jangan lupa keluarga kita ini akan menjadi contoh keluarga yang lain. Di dalam masyarakat pastilah mereka akan melirik kehidupan keluarga kita. Tetapi keluarga yang masih muda ini juga harus melirik keluarga lain yang dekat dengan Allah. Kita sudah bisa meraba, dan melihat, kalau ada sebuah keluarga yang menyerahkan hidupnya menurut rencana Allah.

Salah satu cara untuk melihat di mana kehendak Allah terhadap keluarga kita masing-masing yaitu dengan melihat keluarga-keluarga lain yang berhasil, kalau anaknya jadi semua, sudah ’mentas’ semua. Jadi orang menurut rencana Allah, dan dilihat secara pas dalam masyarakat adalah orang yang dekat dengan Allah, dekat dengan sesama manusia, membawa kedamaian yang memberi kekuatan dan keberanian bagi yang lemah dst.

Sedang arti sudah mentas adalah sudah menemukan jalan hidupnya. Jalan hidup menjadi imam, bruder, suster, atau jalan hidup keluarga. Artinya yang lebih jauh anaknya yang sudah mentas tadi pasangan hidupnya bukan ayah-ibunya, keluarganya, tetapi orang lain, yaitu masyarakat sekitarnya. Imam, bruder, suster menemukan partner kehidupannya dengan Umat Allah, dan anak yang sudah mentas menemukan pasangan hidupnya dengan suami/istri dan menjadi sebuah keluarga.

Maka doa Ibu Maria, ”Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”, adalah doa seorang ibu agar anaknya ’jadi orang’ menurut rencana Allah dan sudah mentas, karena menemukan Allah dan dekat dengan Allah, dan menjadikan Allah sebagai partner hidupnya.

Maria Akan Mendekatkan Keluarga Dengan Imam, bruder, suster

Satu lagi tugas sebuah keluarga adalah menjadi partner kehidupan para imam, bruder dan suster. Keluarga harus menyiap­kan tempat dan waktu agar seorang pastor dapat krasan di tengah-tengah keluarga. Maka kebiasaan doa dan sikap keluarga yang pasrah pada Tuhan, adalah suatu hiburan rohani yang sangat mendalam bagi seorang imam.

Ketaatan keluarga dengan para imam, bruder, suster tak lain karena dorongan Maria juga. Marialah yang dipilih Allah untuk melahirkan Yesus. Perjuangan dan keprihatinan Yesus ini diteruskan oleh para imam, bruder dan suster. Betapa bahagianya Maria kalau perjuangan Putranya ini diikuti sebagian manusia dari umat Allah ini. Maka dari sikap Maria ini mengalir doa agar para keluarga dekat dengan penerus perjuangan Yesus. Buahnya adalah putra-putri terbaiknya dari keluarga tersebut akan terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster. Sebuah keluarga akan bahagia kalau salah satu anggota keluarganya terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster. Artinya bahwa keluarga ini bahagia karena ada saudaranya yang dengan setulus hati mengikuti rencana Allah dalam hidupnya. Di mana ada imam, bruder atau suster, akan terngiang: ’Fiat voluntas Tua’.***