Janganlah Seperti Pohon Ara, Hendaklah kita tinggal di dalam Kristus & Berbuah

pohon araOleh: Ibu Ateng Haryanto – Yesus mengutuk pohon ara, demikian petikan Injil Matius 21:18-22, Markus 11:12-14. Ketika itu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan dari Betani ke Yerusalem. Di tengah jalan Dia merasa lapar. Dia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Lalu Dia pun menghampiri pohon ara itu, berharap kalau-kalau mendapat apa-apa yang bisa dimakan pada pohon itu. Tetapi ternyata tidak ada apa-apa pada pohon tersebut, kecuali hanya daun. Waktu itu memang bukan musim buah ara. Maka berkatalah Tuhan Yesus pada pohon ara itu:”Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Maka seketika itu juga, keringlah pohon ara itu. Para murid yang melihat kejadian itu menjadi tercengang.

Sebenarnya agak mengherankan. Mengapa Tuhan Yesus mengutuk pohon ara itu, hanya karena Dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali daun-daun yang lebat? Bukankah seperti dikatakan juga oleh penulis Injil Markus, waktu itu bukan musim buah ara? Kita akan mengerti sikap keras Tuhan Yesus itu jika kita memahami sifat pohon ara; Bagaimana pohon itu bertumbuh dan berbuah. Pada musim semi sebelum berbuah, pohon ara biasanya akan mengeluarkan daun-daun dan putik-putik yang bentuknya menyerupai buah kecil. Putik-putik ini bisa dimakan dan akan gugur dengan sendirinya bila buah ara mulai muncul. Apabila ada pohon ara yang tidak mengeluarkan putik, maka berarti pohon ara itu tidak akan berbuah, sekalipun pada pohon itu daun-daunnya tumbuh lebat.

Karena itu dalam Injil Markus tidak dikatakan Tuhan Yesus hendak mencari buah ara. Tetapi dikatakan disana:”Kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu.” (Markus 11:13). Yang dimaksud tampaknya putik-putik itu. Dan ternyata Dia memang tidak men¬dapatkannya. Dia hanya me¬nemu¬kan daun-daunnya saja. Inilah pangkal kata-kata keras Tuhan Yesus, karena pohon ara itu berdaun lebat tetapi tidak berbuah.

Cerita ini sebenarnya mengandung makna simbolis. Pohon ara berdaun lebat tetapi tidak berbuah adalah gambaran orang-orang yang rajin mengikuti ibadah formal, tekun menjalankan aturan-aturan keagamaan, tetapi hidupnya tidak berbuah, tidak membuat keadaan di sekelilingnya menjadi lebih baik. Kelihatannya saleh, tetapi kesalehannya itu kosong di mata Allah. Sebab ibadah memang bukan pertama-tama soal menjalankan rangkaian aturan keagamaan, tetapi juga soal hidup sehari-hari. Dan justru disitulah letak nilai suatu ibadah.

Para nabi dalam Perjanjian Lama berulang-ulang mengkritik praktek ibadah umat Israel yang hanya terpaku pada soal menjalan¬kan aturan lahiriah dan melupakan penerapannya. Praktek ibadah serupa ternyata juga dilakukan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada jaman Perjanjian Baru. Dengan cerita Tuhan Yesus me¬ngutuk pohon ara ini, para penulis Injil rupanya juga hendak me¬ngoreksi praktek ibadah tersebut.

Mental pohon ara yang ber¬daun lebat tetapi tidak berbuah, sampai saat ini sebenarnya masih kerap terjadi. Seperti orang-orang yang diluarnya kelihatan rohani sekali: rajin dan taat melakukan acara dan aturan kegamaan, tetapi praktek hidup sehari-harinya penuh tipu daya dan kesewenangan. Di mulut senang menyebutkan nama Tuhan dan mengutip ayat Alkitab, tetapi dalam hati dan pikiran penuh sumpah serapah.

Atau orang-orang yang aktif ke gereja tidak dengan motivasi karena mau dan terpanggil untuk melayani, tetapi karena semacam kompensasi psikologi: daripada menganggur atau demi mendapat penagkuan dan perhatian. Orang-orang seperti ini biasanya suka memaksakan kehendak: pendapat¬nya tidak dapat dibantah. Terhadap orang yang tidak setuju mereka akan menjauh bahkan tidak jarang menganggapnya sebagai musuh. Mereka tidak akan berpikir cara yang mereka tempuh Kristiani atau tidak, pokoknya keinginannya tercapai. Biasanya mereka sangat rajin, tetapi kerajinannya itu kosong: karena tidak mendatangkan sukacita.

Sungguh sangat bertolak belakang dengan orang-orang yang aktif karena betul-betul mau melayani dan s ebagai ungkapan syukurnya kepada Tuhan. Mereka biasanya tidak gembar-gembor, karena memang tujuannya bukan untuk mencari nama. Tentu mereka juga punya pendapat dan keinginan, tetapi mereka akan menempatkan keinginan dan pendapatnya tersebut dalam kerangka kepentingan orang banyak, bukan kepentingan diri sendiri. Mereka tidak segan untuk mengalah kalau memang perlu. Mereka selalu melihat orang-orang di sekelilingnya dengan kacamata positif. Itulah sebabnya, walau tidak banyak bicara, tetapi kehadiran mereka dapat menjadi berkat. Seperti lampu terang yang kehangatannya dapat dirasakan lingkungan sekitar. Ada sukacita yang mereka bawa.

Pertanyaannya, di posisi mana kita berada: Apakah pelayanan kita, ibadah keagamaan kita sungguh-sungguh berbuah dalam hidup keseharian kita dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita? Atau, kita ini tidak lebih seperti pohon ara berdaun lebat tetapi tidak berbuah: banyak berbuat, banyak melakukan, banyak mengatakan, tetapi hasilnya kosong. Bukan saja tidak men¬datang¬kan sukacita. Bukan saja tidak mendatangkan sukacita bagi lingkungan sekitar, tetapi juga tidak membangun hal-hal yang baik buat diri sendiri.

Kalau ternyata selama ini kita telah berlaku seperti pohon ara yang berdaun lebat tetapi tidak berbuah, maka celakalah kita. Tetapi rasanya belum terlambat untuk kita kembali ke jalan yang benar, seperti himbauan pada tema Kongres Ekaristi II Keuskupan Agung Semarang yang dilaksana¬kan tanggal 22 -24 Juni 2012, yakni: ”Tinggal dalam Kristus dan berbuah”***.

Penulis tinggal di Candi Asri I Sragen