Novena IV Gua Maria Fatima Ngrawoh: PERTOBATAN : membangun Intimitas dengan Allah melalui Doa Rosario

Ngrawoh (LENTERA) – Rombongan peziarah mulai memadati Taman Doa Maria Fatima Ngrawoh sejak pukul 18.00 WIB. Tanpa terasa lebih dRomo Priari 600 orang peziarah hadir. Mereka bertekun dalam doa Rosario sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria Fatima. Sesekali kidung Salam Maria Fatima dari paduan suara Wilayah St. Petrus Sragen menyelingi di antara untaian bulir-bulir rosari yang didoakan.

Beginilah semuwanya suasana Misa Novena IV Putaran II yang dilangsungkan pada tanggal 24 Mei 2012. Tema renungan yang diambil pada kesempatan itu adalah “Pertobatan : membangun Intimitas dengan Allah melalui Doa Rosario”. Adapun petugas liturgi pada saat itu adalah juga dari wilayah St. Petrus. Tambah lagi, Ekaristi malam hari itu dipimpin oleh Rm. Petrus Soeprijanto, Pr. Dengan demikian, lengkap sudah, malam itu menjadi malam untuk Petrus.

Tidak seperti biasa, novena pada malam itu ada sedikit variasi. Biasanya, sesudah Doa Rosario, novena dilanjutkan dengan ekaristi. Malam itu, sesudah Doa Rosario, ada renungan bersama dengan tema “Makna Memecah Roti”. Renungan ini merupakan bagian dari pendalaman iman selama bulan Maria dan bulan Katekese Liturgi. Meski tidak sampai akhir renungan diadakan (keburu arak-arakan rama masuk) namun paling tidak telah memberi warna lain dalam pergumulan iman dalam berliturgi.

Dalam awal ritus pembuka, Rm. P. Soeprijanto, Pr mengajak seluruh umat untuk memahami hakekat novena pada malam hari itu. “Novena ini mengajak kita semua untuk merenungkan apa yang dimaksud dengan membangun hubungan pribadi dan intim dengan Allah. Bunda Maria telah memberikan keteladanan mengenai hubungan tersebut. Bunda Maria telah berhasil membangun intimitas dengan Allah. Buahnya adalah bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Buah intimitas Bunda Maria ini justru dapat dirasakan oleh kita dan seluruh jagad raya. Bunda Maria menjadi Bunda Saluran Rahmat”, begitu ungkapnya.

Sejenak Romo Pri mengenang kembali pengalaman kebersamaan dengan umat Paroki St. Maria di Fatima Sragen. Pergumulan hidup bersama umat di Sragen telah memberikan rahmat tersendiri. Kesehatan beliau seakan dipulihkan. Tiap malam ada yang mengajaknya berdoa. Bahkan beliau menyampaikan rasa syukurnya dan harapannya. “Gak nyangka ya Ngrawoh dadi kaya ngene? Apa maneh biyen sing kerep dolan na papan iki ya mung wedhus. E saiki dadi papan sembahyangane wedhus-wedhus Dalem Gusti”

Lebih jauh dalam khotbah, Romo Pri menyampaikan bahwa banyak orang suci, berani mengorbankan hidupnya (martiria) bagi iman dan sesamanya. Apa yang mendasari? Dasarnya adalah karena mereka mengalami pengalaman dicintai oleh Allah. Hal itu dapat kita lihat dari pengalaman Paulus dan lainnya. Setelah Paulus mengalami perjumpaan cinta dengan Allah, seluruh kehidupan Paulus licinta Kristus. Oleh karena itu, Ia berani dan berkobar-kobar mewartakan Kristus sampai ke Roma dan akhirnya sampai ke ujung bumi. Oleh karena cintanya kepada Kristus itu pulalah yang membuat Paulus berani mempersembahkan kehidupannya secara total. Semangat macam inilah yang sebenarnya menjadi perjuangan hidup iman kita.

Di sisi lain, Rm. P. Soeprijanto, Pr menunjukkan bahwa sekarang ini ada begitu banyak jenis, bentuk, tata cara dan ukuran doa Rosario. Ada rosario kerinduan, kerahiman, antarbenua dan lain sebagainya. Ada yang ukurannya besar, ada yang kecil kayak cincin dan lain sebagainya. Hal ini berbeda jauh dengan pengalaman doa rosario yang ada ketika beliau membuat desertasi program doktoral. Yang menarik adalah bahwa ternyata bermacam-macam bentuk, tata cara dan lain sebagainya tersebut semua digemari oleh umat. Lebih dari itu, semua dirasakan mampu membantu proses pergumulan rohani umat. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Bunda Maria dalam kehidupan iman umat begitu dekat.

Dapat dikatakan bahwa rosario senantiasa mengiring perjalanan hidup setiap orang kristiani. Dahulu, kalau para rahib berjalan jauh untuk menjalankan karyanya, satu-satunya teman perjalanan adalah rosario. Kenyataan yang sama juga sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada orang yang mengenakan rosario sebagai kalung, asesoris pada mobilnya, disimpan di kantong atau tas ketika bepergian dan lain sebagainya. Doa rosario pun rasanya telah menjadi doa spontan dalam kebiasaan pribadi maupun kelompok.

Secara rohani, pengalaman tersebut dapat dimaknai bahwa Rosario adalah ungkapan dari seluruh peristiwa kehidupan manusia. Rangkaian permenungan peristiwa dalam rosario pun sekarang ini semakin panjang. Butir-butir yang ada pada rosario seakan melambangkan tapak-tapak pergulatan peristiwa hidup kita yang terus berjalan. Inilah untaian peziarahan panjang hidup kita untuk mengalami kedekatan dan cinta Allah.

“Kawula Abdining Allah, sandika ing Dhawuh Dalem,” begitu ungkapan iman Bunda Maria. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan batin Bunda Maria yang digerakkan oleh Roh Kudus untuk menanggapi cinta Allah. Di satu sisi, okenya Bunda Maria ternyata telah membuka tabir tawaran keselamatan Allah kepada manusia. Sejenak kalau kita merenungkan mengapa Tuhan Yesus turun ke dunia maka jawabannya adalah karena manusia berdosa. Dosa membuat manusia tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya. Cinta Allahlah yang mengangkat manusia dari jurang ketidakmampuan tersebut.

Di sisi lain, okenya Bunda Maria ternyata tidak semata-mata hanya pada hal-hal yang menyenangkan. Okenya Bunda Maria justru rajin menyapa Bunda dalam penderitaan. Kita dapat melihat hal itu sejenak sesudah Ia mengandung (mau diceraikan Yusuf), melahirkan anak di Kandang dan dikejar-kejar hingga lari ke Mesir, peristiwa ketika Yesus berumur 12 tahun dan tertinggal di bait Allah, peristiwa ketika Yesus dikunjungan oleh Bunda dan saudara-saudarannya, bahkan hingga peristiwa salib hingga kematian Yesus Kristus. Penderitaan yang bertubi-tubi justru membayangi kehidupan Bunda Maria.

Meski demikian, Bunda Maria tidak pernah menyerah dalam situasi tersebut. Bunda Maria menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Inilah pralambang intimitas Bunda Maria dengan Allah. Semua peristiwa menjadi sebuah upaya pembatinan dan pemaknaan dalam kehendak Allah. Tidak mengherankan kalau Bunda Maria mampu melantunkan kidung Magnificat, sebagai buah dari kesetiaan dan kedalaman cintanya kepada Allah.

Secara umum, namanya cinta mengandung konsekuensi logis, yaitu diwujudnyatakan dalam kehidupan. Tanda-tanda ketulusan cinta adalah happy, penghormatan personal, tidak mengeluh dan lain sebagainya (silakan nanti dirasakan dan direnungkan melalui untaian rosario yang kita doakan). Semua itu dinyatakan oleh Bunda Maria melalui kehidupannya. Oleh karena itu maka tidak heran kalau “buah kandungannya” pun bertumbuh dalam cinta. Anugerah pengangkatan dan pemahkotaan Bunda Maria di Surga jelas menyiratkan intimitas hubungan Bunda Maria dengan Allah.

Bagaimana dengan kehidupan kita sehari-hari? Ada kalanya cinta tidak membuat kita happy? Orang justru sering terbebani dengan harapan dan keinginan untuk mendapatkan balasan yang lebih. Bahkan tidak jarang karena alasan cinta, orang menuntut orang lain menuruti kehendak dirinya.

Hal yang senada juga dalam hal penghormatan personal. Apakah cinta membawa kita menghormati orang lain secara bebas merdeka? Atau malah sebaliknya sering misuh-misuh, memaksa orang kalau orang lain tidak sesuai dengan kehendak kita? Rasanya penyakit ini justru yang sering hinggap dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam keluarga, masyarakat dan bahkan Gereja.

Salah satu pesan pokok Bunda Maria Fatima adalah bahwa yang bisa membangun dan menghancurkan Gereja adalah kita sendiri. Ancaman dan ganguan dari luar diri kita tidak akan pernah berarti apa-apa dalam upaya menghancurkan Gereja. Namun demikian, kalau Gereja itu keropos dari dirinya dan bahkan diributkan dengan berbagai perselisihan maka tanda-tanda awal kehancuran akan dengan sendirinya nampak. Seiring dengan pembangunan taman doa ini maka kiranya baik kalau kita merenungkan pesan Bunda Maria Fatima ini. Jangan buat Gereja itu keropos karena berbagai perselisihan yang tidak berarti.

Akhirnya, dalam penutupan kotbahnya, Rm. Petrus Soeprijanto, Pr menyampaikan bahwa misa novena malam hari ini akan menjadi semakin berarti kalau diikuti dengan “Lampah Ratri”. Lampah Ratri adalah tindakan untuk merenungkan sabda Allah dan nglelimbang urip dengan cara tidak tidur sampai fajar pagi. Kalau hal ini dijalankan maka diyakini bahwa awake dhewe isa ngrumangsani lan ngrasakake ditresnani Gusti. Namun demikian, kalau kita buru-buru tidur maka ditakutkan semua Permenungan hidup kita hilang terbawa mimpi. Selamat bermenung sedalu natas. (Srie)