Tinggal Dalam Kristus Dalam Adorasi

adorasiOleh: Romo Robertus Hardiyanta, Pr – Dalam pemahaman liturgi, adorasi kepada Sakramen Mahakudus termasuk kegiatan devosional. Devosi adalah penghormatan kepada misteri kehidupan Yesus (Misalnya: Hati Kudus Yesus, Darah Kristus, Salib Kristus, Yesus dalam Sakramen Mahakudus, Jalan Salib Yesus, dll.); penghormatan kepada orang-orang kudus, terutama kepada Bunda Maria (dengan Doa Rosario, Ziarah, Novena Tiga Salam Maria, Litani Santa Perawan Maria, dll.); penghormatan kepada misteri iman Gereja lainnya (Misalnya devosi kepada Roh Kudus, devosi kepada Kerahiman Ilahi, dll.); serta ulah kesalehan dengan cara-cara tertentu (misalnya Doa Taize, Doa Meditasi, Kontemplasi, dll.)

Berbeda dengan liturgi yang mempunyai ciri resmi baik dalam diri para pelayan, tata upacaranya, simbol-simbolnya maupun busananya; devosi lebih berciri personal, artinya tidak harus dilakukan bersama-sama dan tidak terikat pada aturan-aturan yang terlalu ketat. Kalau liturgi adalah perayaan iman Gereja yang wajib dirayakan oleh semua anggota Gereja, devosi lebih bersifat anjuran (“sunnah”), kalau melakukan lebih baik, tetapi bila tidak melakukannya tidak ada sanksi dosa.

Devosi dalam hidup Gereja Katolik selalu mengalir atau bersumber dari perayaan-

perayaan sakramen (misalnya Adorasi, mengalir dari sakramen ekaristi); dan menuju pada perayaan sakramen atau mengarah ke sumber keselamatan (misalnya dengan ziarah atau devosi kepada Bunda Maria, orang harus sampai pada Yesus, sumber atau pokok keselamatan kita. Maka ada istilah “Per Mariam Ad Iesum”: melalui Bunda Maria kita harus sampai pada Yesus). Devosi tidak pernah lepas dari sumber dan atau tujuan iman kita, yaitu bersatu dengan Yesus.

Dalam tradisi iman katolik, devosi kepada Sakramen Mahakudus merupakan kepanjangan dari ekaristi, atau merupakan ekaristi yang diperpanjang. Sehubungan dengan ini Gereja katolik mempunyai kebiasaan menyimpan hosti yang sudah dikonsakrir dalam tabernakel. Penyimpanan hosti yang sudah dikonsakrir dalam tabernakel dalam tradisi Gereja katolik dimaksudkan untuk komuni orang sakit, doa visitasi atau kunjungan kepada Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus; dan tentu saja untuk Adorasi atau Kebaktian kepada Sakramen Mahakudus (Jw: Astuti). Untuk itu tidak setiap kapel mesti harus diberi tabernakel. Dalam instruksi Redemptionis Sacramentum malah ditegaskan bahwa tidak boleh menyimpan Sakramen Mahakudus sembarangan. Bila suatu kapel tidak sering dikunjungi umat, tidak seyogyanya menyimpan Sakramen Mahakudus di tabernakel yang ada di kapel tersebut.

Sebagai suatu devosi, Adorasi memiliki sifat khas yang berbeda dengan devosi-devosi lain. Istilah yang digunakan untuk devosi adalah ‘penghormatan’ (Latin: Dulia), sedangkan dalam Adorasi dipakai istilah ‘penyembahan” (Latin: Latria), yang hanya boleh dilakukan manusia kepada Allah. Namun karena Yesus, Allah Putra hadir dalam Sakramen Mahakudus, tidak salah kita menggunakan kata ‘penyembahan’ dalam Adorasi. Maka walau Adorasi tergolong sebagai suatu devosi, tidak bisa disamakan dengan devosi-devosi yang lain, karena Adorasi mengalir dari Sakramen Ekaristi yang adalah puncak dan sumber kehidupan iman Gereja Katolik.

Dengan alasan itu, pantaslah kiranya kalau Adorasi menjadi salah satu devosi yang sangat dianjurkan, terlebih di Tahun Ekaristi. Selain bahwa dengan mengadakan Adorasi kita diharapkan lebih dekat dan mengenal kehadiran Yesus dalam ekaristi, dalam perjalanan kehidupan iman Gereja Katolik pada akhir-akhir ini Adorasi seakan-akan hilang atau tersingkir dari kebiasaan hidup iman Gereja. Adorasi adalah salah satu kebaktian dalam Gereja katolik yang sudah begitu kuno dan merupakan ungkapan iman Gereja yang menghayati kehadiran Kristus dalam Sakramen Ekaristi.

Yang perlu mendapat perhatian ialah bahwa terkadang terjadi kerancuan berpikir dan mungkin juga kerancuan penghayatan antara Devosi kepada Sakramen Mahakudus dan Devosi kepada Hati Kudus Yesus. Kebiasaan Gereja untuk merayakan ekaristi pada hari Jumat pertama dalam bulan sebetulnya lebih terkait dengan Devosi kepada Hati Kudus Yesus yang sebagai devosi mempunyai “objek devosi” yang sangat berbeda dengan Adorasi atau Kebaktian Kepada Sakramen Mahakudus.

Dengan mengenal kembali tradisi iman katolik, terutama dengan mengadakan Adorasi diharapkan bahwa kita semakin dekat dan mengalami kehadiran Yesus dalam ekaristi, sumber dan puncak kehidupan iman Gereja Katolik; dan juga semakin menaruh hormat pada Sakramen Ekaristi. Rasa hormat kita pada Sakramen Ekaristi pada akhir-akhir ini memang perlu ditingkatkan, seiring dengan kemajuan zaman yang lebih menekankan hal-hal yang material daripada yang spiritual. ***