Misa Novena V Gua Maria Fatima Ngrawoh:”Bersama Maria Tinggal dalam Kristus & Berbuah”

468872_3647088208065_833841712_oNgrawoh (LENTERA) – “Malam novena yang istimewa”, begitulah kesan yang dirasakan pada perayaan Ekaristi Novena V putaran II di Taman Doa Maria Fatima Ngrawoh, Kamis (28/06). Mengapa istimewa? Keistimewaan Ekaristi malam itu tampak dari keantusiasan umat dalam mengikuti Ekaristi. Sudah sejak pukul 17.00 umat mulai berdatangan. Akhirnya, malam itu ada lebih dari 700 orang yang hadir.

Tidak hanya itu, Ekaristi malam itu disemarakkan oleh Koor anak-anak Gita Fatima. Merdunya lantunan lagu-lagu semakin istimewa ketika ensamble Pattimura II, asuhan Bapak Joko Dewanto, mengiring mereka. Yang tidak kalah istimewa adalah alunan musik saxophon yang ditiup oleh Rm.Robertus Hardiyanta, Pr. Jelas bahwa malam hari itu memang menjadi malam yang istimewa.

Perayaan Ekaristi Novena V ini dipimpin oleh Rm. FX. Sukendar Wignyo¬sumarta, Pr. Sementara itu, petugas liturgi dipandegani oleh umat wilayah St. Mateus Tangen. Adapun tema renungan Novena V adalah “Bersama Maria Tinggal dalam Kristus dan Berbuah”. Dalam arti tertentu, tema renungan novena V ini merupakan kelanjutan refleksi umat paroki St. Maria Fatima Sragen atas tema Konggres Ekaristi II Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang baru-baru ini diselenggarakan.

Dalam membuka kotbahnya, Rm. FX.Sukendar menceritakan sekilas per¬jalanan beliau dari Semarang menuju ke Sragen. Adalah sebuah kerinduan tersendiri yang beliau rasakan ketika menuju ke Sragen. Beliau seakan diingatkan kembali dengan pergumulan iman bersama umat ketika masih berkarya di Paroki St. Perawan Maria di Fatima Sragen. Salah satu pergumulan yang diingatkan kembali oleh Rm. FX. Sukendar, Pr adalah adanya niat umat untuk membangun semangat doa dalam keluarga paska rekoleksi umat. Orang tua dan anak-anak akan berusaha untuk mengambil waktu khusus dan saling mendoakan, meski saling berjauhan. Bagaimana kabarnya niat tersebut? Masih hidup dan berjalan sesuai harapan?

Lebih lanjut, Rm. FX. Sukendar mengajak umat untuk merenungkan tema malam hari itu. Beliau mengingat sejenak pengalaman ketika mengikuti Kongres Ekaristi II KAS. Ada ungkapan menarik yang disampaikan oleh Ibu Marta (salah satu peserta kongres), yaitu kalau ingin tinggal di dalam Kristus dan berbuah maka perlu berubah. Yah sekilas tampak seperti sebuah permainan kata semata, yaitu dari berbuah ke berubah. Namun demikian, kalau direnung–kan dengan sungguh-sungguh maka prasyarat untuk berbuah dengan cara berubah ini memang menjadi kunci pokoknya.

Apa yang dimaksud dengan berubah? Berubah adalah sebuah kedalaman kehendak yang muncul dari kesadaran seseorang untuk menjadikan dirinya lebih berarti. Kedalaman kehendak yang muncul dari kesadaran seseorang ini muncul dari kedalaman cinta seseorang atas hidup dan cintanya kepada kehendak Allah. Oleh karena kemauan berubah inilah maka Allah dengan kecintaanNya mengubah dan mengarahkan kehidupan kita untuk semakin mengalami cinta Kristus yang mendalam dan menghasilkan buah yang berlimpah.

Tinggal di dalam Kristus mempunyai konsekuensi logis, yaitu berbuah. Berbuahnya pun bukan berbuah yang asal-asalan atau sembarangan. Namun demikian, berbuah yang berlimpah. “kita kaajak supados ngedalaken woh engkang mbiyet. Ora ming sethithik. Apa maneh mung nyok-nyok metu wohe nyok-nyok ora”, ungkap beliau. Yang jelas, prasyaratnya adalah kemauan untuk berubah.

Lebih dalam beliau mengajak umat untuk belajar kepada Bunda Maria. Bunda Maria telah secara nyata memberikan keteladanan bagaimana mengalami kedalaman tinggal di dalam Kristus dan berbuah. Untuk mengalami tinggal dalam Kristus dan berbuah, Bunda Maria telah mampu mengubah hidupnya. Apa yang diubah Bunda Maria? Ternyata Bunda Maria tidak hanya mengubah kemauannya untuk sekedar menjadi isteri Yusuf. Kesediaan Bunda Maria untuk “mengandung” Yesus Kristus (Anak Allah) telah mengubah seluruh kesadaran dan kehendaknya. Bahkan dapat dikatakan Bunda Maria telah mampu mengubah seluruh rencana dan cita-cita kehidupannya untuk melaksanakan kehendak Allah.

Kesediaan Bunda Maria untuk diubah oleh Allah telah mengantar Maria untuk mengalami rencana dan cita-cita hidupnya di dalam Allah. Meski harus mengalami berbagai macam peristiwa hidup yang tidak mengenakkan, Bunda Maria tetap setia dalam rencana dan kehendak Allah. Oleh karena itulah, buah-buah kehidupan yang berlimpah muncul dari seluruh kehidupan Bunda Maria. Dan semua itu, dapat kita rasakan melalui doa-doa kita bersama Bunda Maria.

Keteladanan inilah yang ingin kita hidupi. Kita diajak untuk membangun kesadaran baru dan kehendak untuk berubah. Ini semua dapat kita mulai dari diri kita sendiri. Kita diajak untuk menghayati hidup dalam hal-hal yang baik, baik itu berupa kebiasaan-kebiasaan baik, nilai-nilai kehidupan yang luhur serta hidup iman yang terus berkembang.

Dalam kehidupan modern sekarang ini kita sadari bahwa tantangan hidup dan iman semakin kuat. Kalau kita tidak mempunyai daya untuk mengubah hidup secara benar dan baik berdasarkan iman maka kita justru akan diubah oleh dunia dan menjadi bagian dari dunia yang kadang jauh dari kehendak baik Allah. Keluarga Kristiani ditantang untuk mengantar anak-anak mereka menghadapi persoalan dan tantangan kehidupan iman zaman sekarang ini. Semakin mampu keluarga-keluarga kristiani mampu mengalami kedalaman iman mereka, yaitu tinggal dalam Kristus maka semakin mampu mengantar anak-anak menghasilkan buah berlimpah dalam kehidupan mereka.

Persoalannya adalah beranikah kita mengubah kehidupan kita seturut kehendak Allah? Pada akhir kotbahnya. Rm. FX. Sukendar mengajak seluruh umat untuk memohon rahmat Allah agar dimampukan untuk mengubah hidup dan berjanji untuk mengarahkan hidup pada hal-hal yang baik. (Srie)