Pendidikan Suara Hati (Hati Nurani) sebagai Dasar Pembangunan Moralitas Bangsa

educationOleh : Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr – Menyaksikan dan mengalami berbagai carut marut situasi negeri ini yang terkait dengan persoalan moral rakyatnya, hati saya tergelitik untuk mengungkapkan sesuatu. Saya bukanlah seorang yang ahli moral ataupun seseorang yang memiliki kualitas moral yang tinggi. Namun demikian sebagai bagian dari bangsa ini, saya turut prihatin dengan situasi bangsa ini yang semakin tidak menentu. Berbagai persoalan moral seperti: kasus video porno, korupsi, konflik kepentingan berlatar belakang SARA, dan politik kotor, kekerasan, narkoba dan berbagai macam pelanggaran hak asasi manusia seakan menjadi santapan berita yang kian hari kian biasa. Segala macam wujud budaya kematian (culture of death) tersebut semakin hari semakin banal, dangkal dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tayangan-tayangan televisi pun seakan penuh dengan pesan-pesan ‘kematian’ tersebut.

Sudah sejak lama, bangsa Indonesia ini dikenal sebagai bangsa yang plural nan religius. Dengan Pancasila sebagai dasar negaranya, bangsa Indonesia selalu menempatkan diri sebagai bangsa yang ‘beriman’ karena sebagian besar rakyatnya adalah rakyat yang beragama, yang dekat dengan hal-hal religius. Meski begitu, tetap saja kekerasan, ketidakadilan, dan pelanggaran hak asasi manusia masih sering terjadi di negeri ini. Seakan dasar Negara Pancasila sekarang ini menjadi dongeng siang bolong yang cepat sekali menguap ketika senja segera tiba dan malam menjelang. Oleh karena sering¬nya peristiwa immoral itu terjadi di sekeliling hidup rakyat Indonesia, maka segala bentuk culture of death itu seakan menjadi sebuah bahasa umum dalam realitas hidup ini. Bahkan bisa terjadi bahwa mereka yang tidak menggunakan bahasa itu mulai disingkirkan dan dibuang.

Virus kedangkalan imoralitas ini melanda semua masyarakat dan segala bidang kehidupannya. Tak terkecuali di dalam diri orang-orang atau lembaga yang justru diharapkan dapat menjadi setitik terang di tengah kegelapan. Memang tampak di luar mereka sungguh baik dan bertanggungjawab, namun dibalik itu, terkadang menanggalkan segala macam nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Pencitraan menjadi sebuah bahasa baru yang harus dimiliki untuk dapat dipandang sebagai seorang yang sungguh berkualitas, meski terkadang untuk mencapai kualitas yang sesungguhnya, bangsa ini seperti kehilangan orientasi. Memang jika dirunut kembali, sebenarnya dari manakah segala permasalahan ini bermula, kita akan tercengang jika akhirnya kita tahu bahwa hati nurani sebagian besar dari kita telah tumpul, buta, atau bahkan mati. Egosentrisme menjadi ideology baru yang lebih menakutkan dari sekedar doktrin agama paling garis keras sekalipun.

Egosentrisme ini merangsek ke seluruh sendi peri hidup masyarakat sehingga menggeser society (masyarakat/ komunitas/paguyuban) menjadi hutan rimba raya. Kekuasaan menjadi tahta tertinggi yang memungkinkan egosentris Berjaya menjadi pusat segalanya. Bahkan agama pun tak lagi bertaji dalam menuntun egosentrisme ini menjadi lebih berwajah seorang sahabat yang terwujud dalam altruisme.

Egosentrisme menyulap hati nurani menjadi budak kekuasaan, dan pencitraan mengalahkan ketulusan. Dengan demikian, segala macam immoralitas menjadi sebuah selfdefense demi penegakan doktrin egosentrisme. Tak ada lagi ketakutan akan dosa, sebab ketakutan terhadap dosa hanya dipandang sebagai sebuah pemasungan atas petualangan egosentrisme. Yang ada adalah survival for the fittest. Sebelum aku dikalahkan oleh lainnya (the others), aku harus mengalahkannya terlebih dahulu. Bahkan kalau perlu memakan bangkai para korban itu tetap dilakukan demi sebuah pengibaran bendera kemenangan egosentrisme. Komunikasi pun disulap tidak lagi adil, jujur dan saling membebaskan, tetapi penuh persaingan dan dominasi. Itulah kitab suci agama baru yang disebut egosentrisme. Tujuannya hanya satu: matinya hati nurani.

Jika demikian halnya, culture of death dan chaos menjadi ruang lingkup yang takterelakkan bagi masyarakat kita saat ini. Logika diacak-acak dan dipeti es-kan menjadi sebuah mitos kuno yang hanya cocok untuk para filsuf berjenggot era Yunani kuno. Sudah sedemikian mengerikankah situasi masyarakat kita ini?? Tentu apa yang telah saya tulis tadi adalah sebuah narasi hiperbol terhadap lingkaran setan yang saat ini tengah melingkupi bangsa ini. Persoalan demi persoalan moralitas timbul tenggelam, tak pernah rampung. Di tengah situasi carut marut bernada absurd ini, tentu masih ada sebuah perjuangan yang tak juga pernah berhenti untuk selalu menjaga nyala ‘api’ hati nurani. Sekelompok orang-orang idealis nan konsisten yang membela pluralisme, martabat manusia, dan juga keadilan serta ketulusan masih saja berjuang. Mereka seakan tak pernah kehabisan bahan bakar untuk selalu mendobrak egosentrisme dengan sentuhan lembut altruisme. Meski mereka juga sadar bahwa usaha mereka tampak seperti utopis namun mereka tak mau menyerah. Mereka menolak tunduk untuk menjadi budak egosentrisme, meski resikonya kadang mereka menjadi tumbal bagi nyala api hati nurani.

Perjuangan inilah yang dapat dijadikan bagian dari sebuah proses pendidikan hati nurani bagi generasi-generasi emas bangsa ini yang tengah mengenyam indahnya masa sekolah (pendidikan). Jangan sampai doktrin egosentrisme sebagai ideologi menancapkan kuku dominasinya di dalam diri anak-anak polos bak lembaran putih yang masih harus dituliskan sebuah pesan apapun.

Marilah kita tulis lembaran-lembaran putih di hati mereka itu dengan pesan damai, sebuah nilai tentang keluhuran hati nurani (suara hati). Pesan damai itu salah satunya mungkin berbunyi bahwa dunia ini bukan sebuah rimba raya persaingan, namun sebuah keluarga besar yang kita ini semua adalah anak dari Sang Bapak Ibu sejati kita: Tuhan Sang Pemilik Kehidupan. Dan sebagai saudara, itu artinya kita adalah se-darah. Maka jika ada darah sesama kita yang tertumpah, darah kita juga tumpah. Atas tumpahnya saudara kita itu, kita tak perlu membalas untuk menumpahkan saudara kita lainnya, namun justru mencegah tertumpahnya darah saudara kita lainnya lagi. Marilah kita berjuang untuk selalu menghidup¬kan nyala ‘api’ hati nurani. Dasar dari itu semua adalah keadilan, kejujuran, ketulusan dan pengabdian total bagi sesama.

Saat altruisme mulai hadir di tengah egosentrisme, niscaya harapan itu akan selalu ada. Dan itu bisa diawali dalam pendidikan anak-anak di dalam keluarga, di lingkungan masyarakat tempat kita tinggal, di sekolah, di masjid-masjid, di gereja-gereja, di pura serta vihara, di tempat-tempat layanan publik, dan di fasilitas-fasilitas telekomunikasi serta media informasi.

Marilah kita bangun Indonesia mulai dari pembangunan hati nurani generasi penerusnya. Sebab bangsa ini tidak lebih membutuhkan pem-bangunan material yang berasaskan neoliberalisme, namun lebih pada pembangunan jiwa nan berkarakter serta berhati nurani.***